Part VI Big War
Kota Geffen pagi itu cukup ramai dengan gerombolan mage yang berjalan mondar mandir mengelilingi kota menyiapkan berbagai bahan untuk ujian mereka. Para merchant di sudut-sudut kota Geffen tampak membuka lapak untuk berjualan berbagai macam perlengkapan untuk berburu.
Di tengah keramaian itu, mereka di kagetkan dengan barisan pasukan Knight yang muncul dari dalam menara utama kota Geffen, 3 Jendral berada di barisan paling depan menggunakan peco-peco milik mereka. Berbagai orang tercengang melihat begitu banyak Knight berjalan beriringan seperti dalam parade. Ketakutan dan kecemasan terpancar dari tiap sudut wajah mereka, banyak yang bingung dengan kondisi yang begitu tenang ini namun ratusan knight beriringan menuju pintu pintu barat kota Geffen.
‘Wahai para warga kota Geffen, janganlah cemas dengan apa yang kalian lihat. Aku Elder Wizard, mengumumkan bahwa para ksatria itu ada disini untuk melindungi kita dari kebangkitan sang Raja Kegelapan. Kota Geffen adalah garis depan dari seluruh Rune Midgard, sehingga untuk menahan kebangkitannya, Raja Tristan telah mengirimkan prajurit terbaik mereka untuk menyegel kembali Raja Kegelapan’ terdengar suara yang menggelegar yang meraungi tiap telinga warga di kota Geffen, ilmu berbicara dengan pikiran ini begitu kuat sehingga seluruh warga yang ada di Geffen dapat mendengar suara dari Elder Wizard.
Para warga yang tampak berkumpul melihat iringan tampak menjadi tenang dan beberapa mulai berteriak memberi semangat pada prajurit yang akhirnya sorakan-sorakan itu menjadi pengiring para prajurit yang saat ini sudah berbaris dengan rapi di pintu barat kota Geffen. Ketiga jendral yang berada di barisan depan tampak tegang dengan wajah kaku mereka, di depan gerbang barat nampak 2 orang wizard, William Wilfred dan William Renault sedang berdiri menanti kedatangan para prajurit itu.
“Jendral, apakah pasukan sudah siap untuk berangkat sekarang?” ucap Wilfred yang nampak sudah bersiap2 dengan tongkat sihirnya, disampingnya Renault terlihat tenang dengan jubah wizard yang menutupi kedua tangannya.
“Lebih baik kita berangkat sekarang, karena aku tidak ingin membuat prajurit ku menjadi kehilangan konsentrasi karena pawai dadakan ini.” Ucap Yugo yang nampak telah bersiap dengan peco-peco miliknya.
“aku pikir juga sebaiknya kita berangkat sekarang, karena aku semalam mendengar kabar bahwa pasukan dari jendral Radman sudah berhasil mencapai Glast Heim, dan sudah membuat jalur untuk prajurit kita menembus Glast Heim, jadi sebaiknya kita segera berangkat. Aku perkirakan kita bisa mencapai Glast Heim dalam waktu kurang dari 2 hari bila melewati jalur yang di buat pasukan jendral Radman.” Ucap Albern yang diikuti Dilwyn yang mengangguk di belakangnya.
Tanpa banyak berkata-kata lagi, dengan diiringi Wilfred dan Renault mereka semua keluar dari kota Geffen melalui gerbang barat Kota. Derak langkah para prajurit begitu keras walau teriakan semangat yang semakin banyak mengiringi mereka. Wajah para prajurit itu tenang bagaikan mereka telah siap mati untuk melindungi seluruh Rune Midgard dari para iblis itu.
Segerombolan pasukan knight dengan pakaian yang sudah kotor dan lusuh terlihat sedang mengendap-endap di samping dinding pelindung Glast Heim, wajah mereka begitu tegang dan cemas. Di depan para knight itu tampak defender Rai Lightbringer yang sedang mengawasi gerbang Glast Heim denan tenang dan tegang. Sedikit demi sedikit, rai mendekati gerbang itu dan melihat keadaan di dalam kerajaan itu.
Tampak keadaan di dalam pekaangan Glast Heim begitu sepi dan hanya terlihat bangunan-bangunannya yg berantakan di tambah tumbuhan-tumbuhan yang hidup tak terawat disana. Rai kemudian beranjak dari tempat pengintaiannya dan berjalan dengan tenang ke dalam kawasan Glast Heim diikuti oleh pasukannya. Rai tampak khawatir melihat keadaan Glast Heim yang begitu tenang dan bahkan sepertinya para iblis itu tidak pernah ada di Glast Heim ini.
Pasukan knight yang dipimpin Rai itu berjalan menelusuri bangunan-bangunan GLast Heim satu persatu hingga mereka mencapai kastil utama Glast Heim. Melihat kondisi di sekitar kastil itu begitu tenang, Rai memutuskan untuk memasuki kastil itu. Saat ia dan pasukannya hendak melangkah ke dalam kastil, terdengar derap langkah kuda yang begitu menggetarkan tanah. Keadaan pasukan Rai pun menjadi siaga dan siap bertempur kapan saja.
Tak berapa lama setelah mereka merasakan derap langkah kuda yang begitu keras itu, keadaan di sekitar kastil itu tampak begitu dingin dengan angin yang berhembus cukup kencang membuat bulu kuduk para prajurit itu berdiri. Rai pun tampak mencabut pedangnya dan memposisikan dirinya dalam keadaan siap bertempur.
Di halaman depan kastil itu pun tiba-tiba muncul sebuah lingkaran sihir berwarna hitam, selang beberapa detik setelah kemunculan portal sihir itu. Terdengar derak kaki yang di seret dan suara besi yang di seret menyentuh tanah, bersamaan dengan itu munculah belasan iblis Jendral kegelapan yang konon bernama Khalitzburg, iblis ini memiliki wujud tulang belulang yang dibalut helm tulang. Keseluruhan badannya berwarna hitam, sebuah besi panjang yang tampak sudah berkarat tampak berada dalam genggamannya.
Setelah di kagetkan oleh kedatangan puluhan Khalitzburg, Rai dan pasukannya semakin terkejut dengan kemunculan sesosok ksatria berkuda hitam yang muncul dari portal yang sama dari kemunculan para Khalitzburg itu. Wujudnya begitu besar, 4 kali lebih besar dari seorang knight biasa. Ksatria ini memakai baju besi berwarna gelap dan membawa pedang panjang yang juga luar biasa besar, kuda yang dinaikinya pun berwarna hitam dan menggunakan pelindung dari besi yang berwarna hitam pula.
“Pasukan ku, tenang dan jangan panic. Percayalah bahwa Tuhan pasti membimbing kita untuk mengalahkan para iblis ini.” Ucap Rai yang tampak mengeluarkan keringat dingin setelah melihat puluhan Khalitzburg yang dipimpin oleh seorang Abyssmal Knight menghadangnya.
“Selamat datang di Glast Heim, defender muda! Aku sang Abyssmal Knight tidak akan membiarkan kalian mengganunggu kebangkitan dari pangeran Kegelapan!” ucap ksatria hitam itu dengan suara yang begitu menggelegar.
“Cobalah halangi kami, teman2 bersiaplah!!” Teriak Rai dengan menghapuskan ketakutan pada dirinya dan pasukannya.
“PRAJURIT! SERANG!” ucap Abyssmal Knight yang seketika membuat para Khalitzburg yang ada di depannya bergerak menyerang pasukan Rai.
“Jendral Yugo, sejauh ini yang saya rasakan hanya hawa kegelapan yang semakin besar saja. Dan saya yakin bahwa jalan yang kita lewati ini memang jalan yang telah di tunjukkan oleh pasukan Jendral Radman.” Ucap Wilfred kepada Yugo yang berada di depan barisan prajurit knight.
“Tapi aku merasa aneh, selama kita melakukan perjalanan 2 hari ini. Kita hanya beristirahat sekali namun kita belum melihat adanya Glast Heim di seberang sana.” Ucap Yugo yang nampak mengkhawatirkan pasukannya yg mulai kelelahan.
“atau mungkin kita istirahat dulu untuk malam ini?” Ucap Albern yang sedari tadi juga memperhatikan kondisi pasukan mereka yg cukup kelelahan.
“Mungkin memang lebih baik kita beristirahat dulu semalam disini. Baru besok pagi kita lanjutkan perjalanan.” Ucap Dillwyn menanggapi ucapan Albern.
“baiklah, PARA PRAJURIT! Kita berhenti dulu disni, pasang tenda. Besok kita lanjutkan perjalanan!” Perintah Yugo kepada pasukannya, yang setelah mendengar ucapan dari jendralnya itu, seketika ratusan prajurit itu dengan cepat membagi tugas masing dan berpencar untuk memasang tenda dan menyiapkan alat dan bahan untuk memasak.
Kegelapan menyelimuti ruangan itu, jarak pandang pun hanya beberapa meter saja. Di ruangan itu hanya ada Yugo yang tampak bingung dengan kondisi di sekitarnya yang tidak pernah ia ketahui. Beberapa menit setelah Yugo tampak berdiri tanpa ada gerakan untuk menjelajahi tempat itu, tiba-tiba cahaya mulai menerangi ruangan yang di pancarkan dari obor-obor yang menempel di dinding ruangan.
Dengan penerangan sederhana, Yugo dapat melihat kondisi di sekitarnya. Bangunan yang cukup tua dengan dinding-dinding retak menghiasi ruangan. Sambil menyesuaikan matanya pada keadaan di sekitar yang tiba-tiba menjadi terang, Yugo merasa di perhatikan oleh seseorang. Setelah matanya dapat beradaptasi dengan kondisi sekitar, akhirnya ia sadar bahwa di hadapannya terdapat 2 buah singgasana berwarna merah lusuh, dan di singgasana itu nampak duduk seseorang yang sangat ia kenal. Orang itu menggunakan baju besi seperti knight, namun baju besinya berbeda dan tampak lebih berwibawa dan memiliki ukiran yg berbeda. Menurut yang Yugo tahu, baju itu adalah baju besi kuno yang di pakai oleh para Lord Knight terdahulu.
Matanya yang sudah terbiasa dalam penerangan yang temaram itu pun akhirnya dapat melihat wajah dari knight yang sedang duduk di hadapannya itu. Seluruh tubuh Yugo bergetar dan terkejut sekaligus ketakutan setelah melihat siapakah yang ada di hadapannya. Beberapa detik berlalu tanpa ada satu suara pun yang terdengar, di hadapan Yugo tampak dirinya sendiri. Yugo yakin ia tidak sedang memandang cermin, karena sosok di hadapannya itu sedang duduk dengan bersandar pada lengan kanannya sedangkan ia sendiri sedang berdiri.
“kau…? Aku…?? i..i..ini dimana?” ucap Yugo yang masih dibingungkan oleh keadaan di sekitarnya.
Lord Knight itu seperti tidak melihat Yugo yg sedang berdiri di hadapannya, pandangannya masih tetap kosong dan menerawang jauh ke depan. Ia hanya sesekali memainkan kalung yang sedang ia pakai, kalung itu memiliki Kristal yang cukup indah, berkilauan dengan warna biru langit.
“Hei! Kau! Ini dimana?!” Ucap Yugo dengan nada yang sedikit tinggi, namun tetap saja Lord Knight itu tidak mendengar apapun yang Yugo ucapkan. Beberapa detik setelah itu, terdengar langkah kaki dari arah belakang Yugo. Keadaan ruangan yang sunyi membuat langkah itu terdengar keras dan berat. Seketika itu, Yugo mengalihkan pandangan dari Lord Knight itu menuju suara langkah kaki yang ada di belakangnya. Lagi-lagi ia begitu terkejut dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.
“Dillwyn?!” ucap Yugo lirih.
Keadaan masih sunyi beberapa menit kemudian, barulah setelah Dillwyn berada di depan singgasana ia berlutut dan mengucapkan sesuatu.
“Pangeran Kegelapan, apa lagi yang kita tunggu. Aku dengar bahwa ada beberapa petualang yang ingin menjatuhkan kekuasaan mu.” Ucap Dillwyn yang saat ini suaranya lebih berat dari biasanya dan terdengar begitu tenang namun menusuk telinga.
“Tenanglah, mereka takkan mampu mengalahkan aku. Aku hanya sedang mengumpulkan energy untuk membangkitkan sang Satan. Jadi biarkanlah mereka, anak muda memang penuh dengan gejolak. Seperti kita dulu…” Ucap Lord Knight itu.
Tiba-tiba waktu seperti berhenti dan keadaan menjadi terang dan semakin terang. Dan ketika cahaya semakin menyilaukan mata, Yugo tampak terbangun dari mimpinya. Ia saat ini terbangun di dalam tenda putih, dengan keringat yang berucucuran dari tubuhnya. Baju besinya tampak berada di atas meja dengan berantakan.
“apa itu tadi?! Aku? Dillwyn?” Ucap Yugo dengan gemetar.
Setelah ia terjaga dari tidurnya, ia segera keluar tenda dengan gelisah. Ia pun kemudian mencuci mukanya di sungai sebelah selatan tak jauh dari tenda tempat ia bermalam. Pagi itu ia lewati dengan keadaan khawatir akan mimpinya tadi.
“Yugo, Dillwyn! Sebaiknya kita segera berangkat siang ini, aku ragu jika kita menunda lagi kita tidak akan bisa sampai tepat waktu.” Ucap Albern yang sudah siap dengan pakaian besinya dan sedang sarapan dengan semangkuk sup jagung.
“Baiklah, setelah kita selesai sarapan. Kita bereskan ini semua lalu lanjutkan perjalanan.” Ucap Yugo yang saat ini pun sedang menikmati semangkuk sup jagung.
Setelah menikmati sarapan dan membereskan tenda sekaligus mematikan api, mereka melanjutkan perjalanan menuju Glast Heim. Rombongan Kngiht itu pun nampak sudah segar kembali, dan tampak beberapa dari mereka sudah mampu bersantai dengan bersenandung pelan dan ada pula yang bersiul ditemani hembusan angin hutan yang sepoi-sepoi.
Selama beberapa jam mereka mengikuti jalur yang dibuat oleh pasukan divisi keempat, akhirnya di sore hari mereka sudah dapat melihat Glast Heim dari kejauhan. Dan mereka pun memutuskan untuk bermalam kembali di daerah dekat Glast Heim, sekaligus menyusun strategi penyerangan untuk esok hari.
Setelah tenda didirikan dan keadaan pun sudah tampak malam, para pasukan itu nampak sudah beristirahat dan menyimpan tenaga untuk besok. Namun di tenda para jendral nampak cahaya masih bersinar, didalam terlihat 5 orang sedang berdikusi tentang strategi penyerangan yang akan dilakukan besok pagi.
“Tuan Yugo, sampai saat ini saya belum merasakan juga dimana hawa keberadaan pasukan divisi keempat. Apa kita tetap akan menyerang besok pagi tanpa mengetahui keadaan disana?” Ucap Wilfred
“sudah tidak ada waktu lagi, lagipula aku yakin mereka sudah berada di dalam Glast Heim dan menunggu bantuan dari kita.” Ucap Yugo dengan kaku.
“aku pun merasa bahwa sebelum pasukan kegelapan itu bertambah kuat saat kebangkitan sang Raja Kegelapan, sebaiknya kita serang segera.” Ucap Dillwyn dengan tenang.
“baiklah, tanpa banyak berdebat. Intinya besok pagi kita serang Glast Heim, dan menurut berita bahwa pusat dari sang Raja itu ada di kastil utama. Jadi besok aku dan Wilfred sekaligus Renault akan membukakan jalan untuk Yugo dan Dillwyn agat kalian berdua dapat masuk ke dalam kastil lalu menghancurkan pusatnya.” Ucap Albern yang menyimpulkan strategi yang di rencanakan.
“baiklah, dan tambahan untuk Albern. Aku ingin kau mencari Jendral baru itu, semoga dia cukup kuat untuk bertahan disana. Baiklah sekarang sebaiknya kita beristirahat agar besok kita memiliki tenaga untuk penyerangan ini.” Ucap Yugo mengakhiri rapat mereka malam itu.
Setelah rapat selesai, para jendral dan dua orang Wizard itu kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat dan melewati malam dengan tenang.
Pagi hari, mereka hanya membereskan tenda dan merapikan beberapa perlengkapan mereka. Kali ini mereka semua nampak tenang dan tegang. 2 jam berlalu untuk membereskan tenda dan sarapan, mereka pun segera melanjutkan perjalanan mereka menuju GLast Heim, hanya beberapa jam saja mereka sudah tiba di samping gerbang besar Glast Heim yang nampak sepi dan seperti tidak ada siapapun.
Tanpa ada perasaan curiga, Yugo dan para pasukan memasuki Glast Heim dengan siaga. Di dalam, Glast Heim tampak sepi dan tidak berpenghuni. Namun, beberapa menit setelah para prajurit itu memasuki Glast Heim, terdengar gemerincing baju besi yang saling beradu. Tak hanya satu atau dua yang terdengar, gemerincing ini terdengar begitu ramai dank eras. Beberapa menit setelah itu, nampak ratusan Raydric muncul dari balik bangunan bagian depan Glast Heim. Barisan Raydric itu menghadang jalan dan tampak di bagian belakang terlihat monster yang begitu besar dengan pedang bergerigi seperti gergaji berada di tangan kanannya. Di tangan kirinya terdapat perisai berwajah mengerikan yang begitu besar, sebesar badannya. Monster ini dikenal dengan nama Bloody Knight, barisan Raydric yang ada di depan Bloody Knight itu merupakan iblis baju besi yang hidup tanpa ada yg memakainya. Raydric merupakan iblis yang terlahir dari arwah gentayangan para prajurit kerajaan Glast Heim yang mati karena kutukan dewa Chaos dan arwahnya hidup dalam bentuk baju besi.
“PASUKAN KU! TIDAK ADA TEMPAT LAGI UNTUK MUNDUR,SEKARANG ADALAH WAKTU DIMANA KITA BERTEMPUR DEMI KEDAMAIAN RUNE MIDGARD! SERANGGGGG!!!” Teriak yugo pada pasukannya yang diikuti dengan teriakan pemberi semangat. Segera setelah teriakan itu dikumandangkan, Yugo dan para jendral diikuti oleh para prajurit di belakangnya berlari menembus dinding pertahanan yang dibuat oleh para Raydric itu. Keadaan pasukan pun menjadi terpecah dan sedikit tertekan oleh serangan yang dilakukan oleh para Raydric, beberapa tampak kewalahan karena mereka seperti memukul baju besi yang tidak ada orangnya.
“PASUKAN,HANCURKAN BAJU BESINYA DAN TUSUK DIBAGIAN TENGAHNYA!” Teriak Albern memberikan komando kepada prajuritnya.
“Dillwyn, ayo kita terobos! Barisan pasukan ini, kita kalahkan Bloody Knight itu dan segera menuju kastil utama!” ucap Yugo yang sedang menangkis serangan dari dua Raydric sekaligus kepada Dillwyn di sampingnya.
Tanpa mengucapkan satu kata pun, mereka berdua menerobos paksa barisan Raydric yang ada di hadapannya. Namun mencapai bagian tengah barisan Raydric itu, mereka terkepung dan sulit untuk menerobos lagi dan terlihat mereka terdesak.
“Strom Gust!!” teriak Wilfred yang diikuti dengan munculnya badai salju di sekeliling Yugo dan Dillwyn yang membuat para Raydric itu mundur terkena hempasan sihir es itu.
“Jendral Yugo, aku akan membukakan jalan unuk anda dan juga jendral Dillwyn agar bisa segera menuju kastil utama.” Ucap Wilfred yang sedang merapal mantera lanjutan setelah Storm Gust.
“Lord Of Vermillion!!” Teriak Wilfred yang kemudian muncul petir yang luar biasa besar menghantam para Raydric yang telah membeku karena Storm Gust tadi.
Dengan mudah Yugo dan Dillwyn menerobos barisan Raydric yang telah hancur itu menuju Bloody Knight yang sedari tadi hanya memperhatikan dari kejauhan.
Segera setelah mendekati Bloody Knight itu, Yugo melompat dan menebas bagian tubuh dari Bloody Knight itu. Diikuti Dillwyn yang menyerang Bloody Knight dari bawah,beberapa jurus dilancarkan oleh Dillwyn untuk menghantam Bloody Knight itu. Namun tampaknya Bloody Knight itu tidak merasakan apapun,dan masih diam tanpa menyerang sedikitpun.
‘jendral Yugo dan jendral Dillwyn, serahkan Bloody Knight itu padaku. Jendral segera menuju kastil utama saja.’ Terdengar suara Renault yang dikirimkan melalui pikiran.
“Baiklah,berhati-hatilah Renault! Ayo Dillwyn!” ucap Yugo yang kemudian meninggalkan Bloody Knight yang berdiri bagai patung itu.
Dalam beberapa menit saja, Yugo dan Dillwyn tampak sudah berada di depan pintu masuk kastil utama. Saat mereka berada di dalam ruangan, tampak seorang Wanderer menghadang mereka dengan tenang. Kepalanya yang berbentuk tengkorak menyeringai seperti ingin membunuh.
“Two-hand Quicken!!” Teriak Yugo yang terlihat kelincahan gerakannya menjadi brtambah setelah menggunakan jurus itu.
Dengan tenang, Wanderer itu mendekat dan tiba-tiba menghilang dari pandangan Yugo dan Dillwyn. Tanpa disadari, Wanderer itu sudah berada di belakang mereka berdua dan menebas punggung Dillwyn namun hanya mengenai lengan kirinya yang mengakibatkan lengannya tidak dapat digerakkan dengan cepat, seketika mereka berdua kembali siaga.
Dengan cepat Yugo mengambil kesempatan saat Wanderer itu t0idak siap untuk menyerang. Tampak Wanderer itu hendak menghindar, namun tak ada waktu. Dan pedang Excalibur itu hanya seperti menebas angin, Wanderer itu terlihat tersenyum kecil dan mulai bergerak untuk menyerang lagi. Dengan cara yang sama, sang Wanderer menghilang dari pandangan Yugo dan Dillwyn. Kali ini Yug dan Dillwyn tampak saling membelakangi untuk mencegah serangan dali belakang seperti sebelumnya. Namun ternyata Wanderer itu melompat dan melancarkan tebasan ke arah Yugo. Dalam kondisi tidak siap, tebasan itu menghantam tubuh Yugo. Tapi Yugo tampak baik-baik saja dan tiak terlihat terluka sedikit pun.
“Sacrifice!!” teriak seseorang yang tak tampak dari mana arahnya.
Dari balik pilar di sebelah kanan ruangan, muncul seorang Defender yang sudah dalam kondisi luka parah dan baju besi yang rusak. Tubuhnya lusuh,dan seperti sudah tidak kuat untuk berdiri lagi.
“Dillwyn, selamatkan Defender itu! Biar aku atasi iblis satu ini!” Perintah Yugo yang diikuti dengan seranan frontal menuju Wanderer yang sedang lengah
Yugo hanya mampu menahan dn menangkis tiap serangan dari Wanderer, karena tiap serangan yang dilancarkan oleh Yugo selalu tidak dapat melukai Wanderer itu.
“Kau tidak apa-apa? Kau dari divisi keempat ya? Dimana yang lain? Minumlah White Potion ini untuk menutup beberapan luka dan memulihkan sedikit energy.
Defender itu segera meminum White potion yang diberian oleh Dillwyn,dan setelah efek dari potion itu terlihat, barulah ia berbicara dan menjelaskan keadaan yang terjadi.
“Ak…u, Rai Lightbringer Jendral baru….yang diangkat oleh Jendral Radman untuk memimpin…pasukan…divisi keempat.” Ucap Rai yang masih menahan beberapa lukanya.
“aku Dillwyn Jendral divisi kedua, itu Yugo Jendral divisi pertama. Lalu dimana mantan Jendral Radman dan pasukanmu?” Ucap Dillwyn yang tampak tergesa-gesa ingin membantu Yugo karena terlihat Yugo terdesak dengan serangan yang di berikan oleh Wanderer itu.
“Nanti aku ceritakan, kita kalahkan dulu Wanderer itu. Yang bisa mengalahkannya hanya kekuatan Holy, jadi alihkan perhatiannya dan aku akan menyerangnya.” Ucap Rai yang staminanya tampak sedikit pulih walau masih terlihat ia menahan luka dibeberapa bagian tubuhnya.
Tanpa aba-aba, Dillwyn melesat menyerang Wanderer itu dan membantu Yugo mendesak sang Wanderer dengan serangan frontal. Walau serangannya selalu meleset, namun mereka berhasil mendesak sang wanderer dan tanpa sadar Wanderer itu sudah berada di depan Rai yang sedari tadi sudah bersiap-siap dengan pedangnya. Ketika Dillwyn berhasil menjatuhkan muramasa milik sang Wanderer dan membuat ia lengah sesaat, Rai menyerang tubuh Wanderer itu dengan kekuatan holy.
“HOLY CROSS!!” Teriak Rai dari belakang sang Wanderer.
Dengan kekuatan suci yang disalurkan pada pedang miliknya, ia membuat goresan salib di punggung sang wanderer yang membuat wanderer itu terluka cukup parah.
“Kurang ajar! Sebaiknya aku segera menaruh kalung ini di tempat yang raja perintahkan.” Ucap wanderer itu. Dalam kondisi terluka, ia berlari pergi dari ruangan itu dan menuju ruangan lain.
Setelah sang Wanderer pergi, Yugo dan Dillwyn mengobati Rai sebisa mungkin sambil mendengarkan seluruh cerita yang Rai alami, mulai dari penyerangan sang Wanderer terhadap Jendral Radman. Kalung Cassiopeia yang merupakan kunci pembuka segel kegelapan.
“…Ketika aku dan pasukan ku dihadang oleh Abyssmal Knight itu, seluruh pasukan ku berhasil mengalahkan seluruh Khalitzburg. Namun Abyssmal Knight itu berhasil membunuh seluruh pasukanku, dan aku harus menggunakan Grand Cross untuk membunuh Abyssmal Knight itu. Dan itu pula yang membuat luka ku semakin parah. Aku mendengar dari perkataan Abyssmal Knight itu bahwa ada orang yang saat ini sedang mempersiapkan kebangkitan Raja Kegelapan di kastil utama.” Tegas Rai yang saat ini sedang beristirahat dan memulihkan tenaga dengan menggunakan White Potion.
“Hmm, jadi begitu. Baiklah Dillwyn, kau kejar Wanderer tadi dan rebut kalung Cassiopeia sebelum ia berhasil menggunakannya. Aku akan menghentikan orang itu sebelum persiapannya selesai. Dan untuk kau Jendral Rai, sebaiknya anda keluar dan menemui prajurit ku. Bilang pada mereka untuk mengantarkan anda pada Jendral Albern, beliau akan mengobati anda.” Perintah Yugo.
“Baiklah Jendral Yugo, Semoga berhasil untuk kalian berdua.” Mengakhiri kalimat itu, mereka bertiga berpencar ke arah masing-masing.
Yugo terlihat memasuki ruangan kastil utama dan segera menuju ruangan paling atas yang merupakan ruangan sang Raja. Keadaan tampak sunyi tanpa ada siapapun disana, Yugo pun merasa bahwa ruangan itu seperti pernah ia datangi sebelumnya. Kemudian pun ia tersadar bahwa ruangan itu adalah ruangan yang ia lihat dalam mimpinya, namun ruangan ini tampak lebih berantakan dibandingkan yang ada di mimpinya.
Di depannya terdapat singgasana kosong yang di sampingnya terdapat sesosok pria berjubah hitam dengan sebuah mahkota yang ada ditangannya. Mahkota itu tampak kusam namun permatanya masih berkilauan di tengah kegelapan ruangan.
“selamat datang, tuan Yugo. Silahkan duduk terlebih dahulu karena ada yang ingin berbicara dengan anda.” Ucap pria berjubah itu.
“jangan main-main! Hentikan sekarang juga ritual ini! Atau akan aku hentikan dengan paksa!” bantah Yugo dengan keras.
Tiba-tiba angin dingin berhembus dengan kencang di ruangan itu dan di depan singgasana kosong itu tampak muncul sebuah portal sihir berwarna hitam. Beberapa detik kemudian dari dalam portal itu muncul sesosok yang cukup besar menggunakan jubah hitam panjang. Kepalanya berbentuk tengkorak dengan sebuah tongkat sihir ada di samping kanannya melayang-layang menggunakan sihir.
“selamat datang Dark Lord, ini adalah calon penerus sang Raja Kegelapan.” Ucap pria berjubah hitam sambil menunjuk Yugo.
“Apa maksud pembicaraan kalian?” ucap Yugo dengan kebingungan.
“baiklah kalau begitu, saya akan segera memulai ritual pembangkitan ini.” Ucap sang pria berjubah kepada Dark Lord yang sedari tadi sedang merapalkan mantera sihir.
Dalam keadaan bingung, Yugo melesat menuju sang Dark Lord yang sedang merapal mantera. Dengan cekatan ia melompat begitu tinggi dan menebaskan pedangnya dari atas.
Ketika pedang Excaliburnya menyentuh kepala tengkorak Dark Lord, waktu seakan berhenti dan kegelapan yang begitu pekat terpancar dari tubuh sang Dark Lord. Cahaya itu seketika menembus atas kastil dan membuat sebuah garis hitam yang menuju langit gelap dengan petir yang menyambar.