
Part VII Ragnarok
December 23, 2009Part VII Faith
Hari ini kota Prontera tampak berjalan seperti biasa dengan keramaian yang selalu ada dan tak pernah mati rasanya. Jauh di sebelah timur laut kota Prontera, di gereja utama kota ini, nampak sedikit ramai di banding hari biasanya. Hari ini adalah hari pembaptisan para Acolyte yang sudah layak untuk menjadi Priest, orang yang memiliki tingkat kepercayaan yang begitu tinggi pada Tuhan.
Di dalam gereja nampak 5 orang acolyte yang sedang menghadap Bapa Pendeta Utama gereja Prontera, 4 orangnya terlihat acolyte yang begitu patuh dan sopan dengan bible yang ada di tangan masing-masing dan begitu antusias dengan ceramah dari sang Pendeta. Namun, 1 orang acolyte lagi duduk di kursi paling belakang dengan wajah yang malas dan sebuah Mace berada disampingnya, wajahnya tak peduli dengan semua hal yang dibicarakan oleh Pendeta utama. Rambut coklatnya terurai dengan poni samping yang hampir menutup mata kirinya.
“…selama kita percaya pada Tuhan, maka tidak akan pernah ada iblis yang dapat mempengaruhi kita. Nah, anak-anak ku sekarang majulah satu persatu dan akan aku mengangkat kalian menjadi Priest.” Ucap sang bapa Pendeta.
Satu persatu dari acolyte itu maju dengan tertib dan secara resmi menjadi seorang Priest. Pada giliran acolyte berambut coklat itu, dia maju kedepan dengan acuh dan melaksanakan ritual ini hanya seperti menjalani pemeriksaan kesehatan.
“Dengan ini, sekarang kau adalah Priest anakku. Dan nama mu adalah Andrew Severus Murdock.” Ucap sang pendeta kepada acolyte itu.
“apakah dengan aku menjadi seorang Priest, aku dapat membunuh para iblis yang telah membuat kita hidup sengsara ini?” tany Andrew dengan tiba-tiba.
“anakku, kita diberi kekuatan suci bukan untuk mengalahkan, tapi untuk melindungi dan menjaga. Jadi jangan pernah menggunakan kekuatan mu untuk hal yang tidak berguna dan merugikan orang lain.” Ucap sang pendeta yang nampak terkejut dengan pertanyaan dari Andrew.
Tanpa bertanya lagi Andrew menerima pakaian dan bible yang diberikan oleh sang pendeta sebagai tanda bahwa dirinya telah menjadi Priest. Dia pun memakai pakaiannya dan bergegas keluar dari gereja tanpa memedulikan teman-temannya yang lain.
Di luar gereja, ia segera menuju bagian belakang gereja menuju tempat pemakaman umum yang ada di sana. Keadaan begitu sepi dan tidak ada satu orang pun yang berada disana, tanpa pikir panjang Andrew langsung meuju bagian paling belakang dari pemakaman itu. Ia pun lalu duduk disamping sebuah batu nisan yang bertuliskan Albern Murdock.
“ayah, seperti keinginan ibu aku telah menjadi seorang Priest. Aku hanya ingin agar Tuhan mau memasukkan ayah pada surge milik-NYA.” Ucap Andrew yang tampak tegar. Dia pun diam sejenak untuk menenangkan pikirannya.
“semenjak kematian ayah 20 tahun yang lalu, ibu pergi entah kemana. Berita yang aku dengar bahwa ia dibawa oleh para iblis itu, tapi aku tak pernah tahu apa yang mereka inginkan dari ibu.” Ucap Andrew yang saat ini sedang mengelap batu nisan milik ayahnya.
Setelah cukup lama duduk disamping batu nisan itu sambil membersihkannya dari rumput-rumput liar. Andrew melangkahkan kakinya menuju tengah kota, wajahnya tampak murung dan tegas namun sorotan mata tajamnya terpancar begitu tulus bagai bayi yang baru saja dilahirkan. Pakaian Priest dan bible yang ada di tangan kanannya menunjukkan betapa suci dirinya setelah diangkat menjadi seorang Priest.
Di suatu hutan yang ada di selatan kota Payon, terlihat seorang Hunter yang terlihat sedang berjalan dengan santainya. Tubuhnya terlihat cukup terlatih dan cekatan, rambutnya berwarna merah cerah sangat kontras dengan baju putih berbaur warna coklat yang menjadi ciri khas seorang Hunter. Busur yang cukup besar dengan sebuah tabung anak panah menempel di punggungnya.
Tiba-tiba Hunter itu menghentikan langkahnya di tanah kosong di antara pepohonan yang ada di tengah hutan.
“Kau, keluarlah! Aku perhatikan semenjak keluar dari Payon tadi kau selalu mengikutiku, apa maumu?” ucap Hunter itu dengan suara yang cukup lantang tanpa ada seorang pun yang terlihat disekitarnya.
Selang beberapa detik setelah ucapan sang Hunter, seorang Assasin melompat turun dari salah satu pohon. Wajahnya tertutup Assasin Mask sehingga tidak bisa dipastikan bagaimana wajahnya, di atas kepalanya terlihat sebuah Evil Wing terpasang.
“memang terbukti kemampuan mu jauh melebihi Hunter-hunter lain yang pernah menjadi targetku. Tapi dimana-mana Hunter itu semuanya sama saja! Kalian itu, LEMAH!!!” setelah mengucapkan kalimat itu, sang Assasin maju menyerang si Hunter dengan frontal.
Dengan cepat Hunter itu melompat ke belakang menghindari serangan dari sang Assasin, dan bersiap2 menembak dengan busurnya.
“sebelum kau kubunuh, sebaiknya sebutkan nama mu Assasin muda dan siapa yang mengirimmu!” Ucap sang Hunter yang sekarang tampak serius.
“Seorang pembunuh bayaran sepertiku tak perlu memperkenalkan siapa aku dan siapa yang menyewaku!” ujar sang Assasin yang diikuti dengan melemparkan sebuah batu ke arah sang Hunter “Throw Stone!”
Batu kecil itu dengan mudah dihindari oleh sang Hunter hanya dengan melompat kesamping, namun Assasin yang ada di depannya sudah menghilang dan keadaan tampak sepi kembali. Tampak curiga dengan keadaan di sekitarnya, sang Hunter bersiul memanggil Elang miliknya. Ketika elang itu ada datang, ia pun segera memerintahkan elang tersebut untuk melacak keberadaan Assasin itu.
“Detect!!” teriak sang Hunter, namun elang itu tidak menemukan tanda-tanda keberadaan sang Assasin. Tiba2 dari belakang sang Assasin menyerang dengan kecepatan katarnya, dan Hunter itu pun terluka cukup parah yang mengakibatkan dia tidak bisa bergerak dengan cepat.
“sebelum aku membunuhmu, beritahu namamu! Aku hanya diperintah tanpa diberitahu namamu, tapi karena kemampuanmu yang cukup mengagumkan, aku jadi ingin tahu siapa namamu.” Ujar sang Assasin yang berjalan mendekati sang Hunter dengan perlahan.
“kau ingin tahu namaku?” Tanya sang Hunter yang berusaha berdiri dengan luka di punggungnya.
“Arrow Shower!!” teriak sang Hunter yang melepaskan ratusan panah api ke langit.
Tak berapa lama, ratusan anak panah api menghujani Assasin itu yang membuatnya menghindari ratusan anak panah itu dengan susah payah. Tapi dengan kecepatan yang luar biasa, tak satupun anak panah mengenainya.
Barisan api yang ditimbulkan oleh anak panah itu membuat suasanya menjadi panas, dengan gerakan cepat sang Assasin melompat keatas dan berusaha menyerang dari atas. Saat ia melompat, ia melihat keadaan tanah dibawahnya yang penuh dengan anak panah dari sang Hunter. Anak-anak panah itu membentuk sebuah tulisan ‘Recca’.
“Double Strafe!!” teriak sang Hunter diiringi dengan 2 anak panah sekaligus melesat kearah sang Assasin yang sedang lengah.
Dua anak panah sekaligus menancap di dada sang Assasin, yang membuatnya tersentak dan terjatuh. Dengan menahan luka yang ada di punggungnya, sang Hunter mendekati Assasin itu.
“Aku Recca Syena takkan pernah membunuh orang-orang seperti kau, karena kalian hanya ditugaskan untuk membunuhku. Nah sekarang, siapa yang menyewa jasa mu ini?” ucap Recca yang sedikit menahan nyeri dari luka di punggungnya.
“luar biasa, aku kalah….di tangan buruan….ku sen….diri….” belum sempat ia berkata lebih banyak, assassin itu menusukkan sebuah pisau kecil berlumuran racun ke tubuhnya sendiri.
“cih, setiap hari makin banyak saja orang yang memburu ku tanpa alas an yang jelas.” Ucap Recca yang saat ini sedang menyembuhkan luka di punggungnya dengan susah payah.
“nah, sudah mendingan. Sebaiknya aku segera ke Prontera, sebelum hari menjadi gelap.” Ujar Recca yang kali ini melanjutkan perjalanan dengan diiringi elang peliharaannya yang terbang mondar mandir di atas.
Suasana malam kota Prontera memang terasa nyaman dan menyenangkan, dari kesunyian di beberapa sudut kota tampak 1 tempat yang semakin ramai di malam yang semakin beranjak ini. Bar kota Prontera, dari waktu ke waktu tak pernah sepi dari pengunjung. Entah para petualang yang sekedar mampir di kota Prontera untuk bermalam, atau mencari pekerjaan, dan dari warga Prontera sendiri pun tak enggan untuk bersenang-senang bersama setelah disibukkan oleh kepenatan seharian ini.
Di depan Bar tampak Andrew yang sedang memegang sebuah gelas terisi penuh dengan bir, kejanggalan ini terlihat begitu mencolok karena jarang sekali ada seorang Priest berada dalam bar. Tapi hal-hal seperti ini tak pernah menjadi masalah bagi orang-orang yang sedang berpesta malam ini.
“Wah, jarang sekali bahkan hampir tidak pernah ada Priest yang datang ke Bar ini,haha!” Ucap sang bartender yang sedang berada di balik meja bar menyiapkan minuman bagi para pelanggannya.
“Kadang seorang manusia juga harus menikmati kehidupannya dan jangan dihabiskan hanya untuk berdoa.” Ucap Andrew dengan wajah tenang sambil menenggak minumannya.
“haha,aku suka semangat anak muda jaman sekarang! Ini aku traktir kau satu gelas lagi!” tawa sang bartender sambil memberikan segelas bir berukuran besar kepada Andrew yang menerimanya dengan tenang.
Tiba-tiba pintu bar terbuka dan seorang Hunter terlihat memasuki ruangan bar dengan keadaan yg cukup buruk jika dilihat dari pakaiannya, namun dia tampak masih segar dan tenang walau di punggungnya nampak balutan kain yg sudah menghitam karena darah yg mengering. Tanpa banyak bicara, ia segera duduk di samping sang Priest di depan meja bar.
“masih adakah kamar kosong untuk ku bermalam disini?” Tanya Recca yang nampak kelelahan.
“owh,untunglah aku masih menyisakan 1 kamar kosong. Ini kuncinya, beristirahatlah anak muda. Nampaknya kau terluka cukup parah, kau yakin kau tidak apa2?” Tanya bartender dengan cemas, keriput diwajahnya yg sudah tua makin terlihat saat seperti ini. Rambut putihnya terlihat begitu terang dibawah sinar lampu bar
“tidak apa2 pak, ini hanya luka ringan. Maklum, semenjak si Raja kegelapan itu makin kuat hewan-hewan di hutan jadi semakin ganas haha.” Ucap Recca yang tampak ceria namun kelelahan dan pucat karena darahnya yg terkuras.
“hmm tuan Hunter, nampaknya dari yang kulihat kau kehilangan darah yg cukup banyak dan luka di punggung mu itu sepertinya ada yg aneh.” Ucap Andrew yg sedari tadi nampak heran dengan kondisi Hunter disampingnya ini.
“owh, memangnya apa yg aneh dengan luka ini?” Tanya Recca yg mengalihkan pandangannya dari bartender tadi kearah Priest disampingya.
“oh iya, maaf sudah lancang,perkenalkan aku Andrew Murdock. Aku lihat darah di punggung mu itu terlihat aneh dari darah biasanya. Boleh kulihat luka mu sebentar?” Tanya Andrew yang nampak penasaran dengan luka sang Hunter.
“aku Recca Syena, boleh saja. Lagi pula aku tidak merasakan sakit yang aneh, jadi kupikir ini baik-baik saja.” Ujar Recca yang terlihat biasa saja.
Lalu Recca pun membuka kain yang membalut luka di punggungnya, dan dia memperlihatkan luka itu kepada Andrew. Luka itu nampak sudah diobati dengan daun Aloe dengan cara sederhana.
“hmm, seharusnya daun Aloe sudah mampu membuat luka ini kering. Anehnya luka ini belum kering, sepertinya yang melukai mu ini menggunakan racun. Coba aku sembuhkan terlebih dahulu. Cure!!” terang Andrew yang kemudian menggunakan ilmu penghilang racun.
“hmm, rasanya aku sedikit lebih tenang dan tidak terengah-engah seperti sebelumnya. Terimakasih, haha.” Ujar Recca yang tampak sedikit lebih ceria dari sebelumnya.
“tunggu sebentar, biar aku pulihkan luka dan stamina mu. Heal!!” lanjut Andrew yang kemudian menggunakan mantra penyembuh untuk menormalkan kembali luka di punggung Recca.
“wah, aku begitu berterimakasih pada mu, Andrew. Akan ku traktir kau minum malam ini!” ucap Recca yang saat ini tampak lebih cerah wajahnya dibandingkan tadi yang begitu pucat.
“haha,sama-sama. Tapi sepertinya aku sudah tak mampu lagi untuk minum haha, aku mau pergi dulu. Nikmati malam mu Recca!” ujar Andrew yang saat ini sudah bergegas keluar dari bar dengan senyum yang tenang.
“Hei Andrew! Mau kemana kau??!” teriak Recca yang tidak di dengarkan oleh Andrew.
“wah tak terasa sudah jam 10 malam, pantas saja dia buru-buru pergi.” Ucap bartender di belakang Recca yang sedang mengelap gelas-gelas bir.
“memangnya dia kemana pak?” Tanya Recca yang tampak penasaran.
“dia ke Gereja, berdoa semalaman penuh untuk orangtuanya yang sudah tiada.” Ucap Bartender itu dengan iba.
“tak kusangka masih ada orang yang begitu taat seperti dia…” ucap Recca yang tampak kaget.
“haha itulah manusia, kadang ia ingin bersenang-senang namun disisi lain ia masih ingat bahwa orang tuanya membutuhkan doa dari dia agar Tuhan mengampuni dosa-dosa yang telah di perbuat orang tuanya.” Ujar sang bartender.
“sebaiknya aku beristirahat saja, terima kasih untuk kamarnya pak ^^!” ucap Recca sembari mengangkat tasnya dan menuju lantai atas untuk beristirahat.