h1

Part V Ragnarok

December 25, 2009

Part V Recall the Memories

Langit gelap selalu berada di atas kerajaan itu, walau tak pernah sekalipun turun hujan, namun awan mendung selalu menghiasinya entah siang atau malam. Keadaan bangunannya sudah hancur dan sudah mulai banyak lumut yang menempel di tiap bangunannya. Tumbuhan-tumbuhan liar hidup tanpa pernah terawat dengan baik.

Dahulunya, kerajaan ini merupakan pusat pemerintahan dari Rune Midgard. Namun karena kebengisan dan ketamakan sang raja pada saat itu, dewa Chaos mengutuk kerajaan ini sehingga runtuh. Sampai sekarang, tidak ada yang pernah tahu apa yang terjadi dengan sang raja. Mereka hanya tahu bahwa kerajaan itu telah berubah menjadi kerajaan para iblis terkutuk, rumornya bahwa sang raja tersebut masih memimpinnya namun dalam wujud sebagai Dark Lord sang Pangeran Kegelapan.

Hingga sekarang, mungkin tak ada satu orang pun yang pernah menginjakkan kakinya ke tanah Glast Heim. Walau mungkin ada yang berhasil sampai di Glast Heim, namun hampir tidak ada satu pun yang berhasil kembali dengan selamat. Berbagai monster dan iblis yang menjaga Glast Heim akan menghabisi siapapun yang memasuki kawasan kerajaan, sehingga tak satu pun orang yang ingin kesana. Kerajaan itu di bentengi oleh tembok besar yang mengelilingi seluruh area disana, walau tampak kumuh dan penuh dengan lumut, tembok -temboknya masih berdiri tegak tanpa terlihat rusak atau hancur.

Di bagian tengah dari area kerajaan Glast Heim itu, terdapat sebuah bangunan yang paling besar dibandingkan bangunan lainnya. Bangunan itu adalah kastil utama Glast Heim, walau dinding bangunannya banyak yang retak dan terasa hampir runtuh, akan tetapi masih tetap berdiri dengan kokohnya bahkan sangat kokoh sehingga sulit dipercaya bahwa bangunan ini sudah berdiri lebih dari 500tahun lamanya.

Di hari itu, tampak kastil utama adalah satu-satunya bangunan yang paling hidup dan terlihat seperti terjadi sesuatu didalamnya. Di luar bangunan tampak seseorang menggunakan jubah hitam yang menutupi kepala dan hampir sebagian tubuhnya. Kakinya di balut oleh pelindung besi yang membuatnya tampak tidak bisa bergerak dengan mudah, namun gerakannya masih tetap cepat walau terlihat bahwa bisa dengan mudah ia bisa jatuh bila menggunakan pakaian seperti itu. Ia memasuki kastil itu dengan langkah yang cepat namun teratur, anehnya sama sekali tidak terlihat para monster dan iblis yang kabarnya menjaga Glast Heim itu. Pria berpakaian hitam itu dengan mudah memasuki kastil tanpa ada halangan apapun.

Di dalam kastil tampak tidak terlalu terang, sinar matahari hanya masuk beberapa sentimeter dari celah-celah bangunan yang retak. Anehnya obor-obor penerang menyala tanpa pernah berhenti atau kehabisan minyak. Di beberapa bagian terdapat berbagai patung dan lukisan yang sudah tampak usang dan begitu berdebu, dengan tenang pria itu menaiki tangga yang membawanya menuju 1 pintu yang begitu besar. Ruangan depan bagian dalam kastil itu seperti kastil-kastil pada umumnya, yang membedakannya hanya keadaannya yang sudah sangat buruk dan hancur, debu dan sarang laba-laba terlihat di berbagai sudut ruangan. Banyak juga hiasan baju besi yang di rangkai sehingga terlihat seperti prajurit berbaju besi yang bergeletakan di lantai kastil.

Tanpa banyak bicara, pria itu membuka pintu besar dihadapannya dan masuk ke dalam. Dibandingkan dengan ruangan lain yang ada disamping kiri dan kanan pintu itu, tampak bahwa ruangan satu ini adalah yang paling besar dan paling megah yang pernah di bangun sepanjang 500tahun terakhir ini. Ketika pria itu memasuki ruangan yang baru saja ia buka, ia langsung di hadapkan pada 2 tangga besar di kiri dan kanan yang menuju ruangan paling atas yang merupakan singgasana sang raja dari kerajaan Glast Heim. Dengan gerakan yang begitu cepat, pria itu melompat dan menghilang dalam beberapa detik. Dan dalam waktu kurang dari 2 menit ia sudah berada di depan singgasana raja yang tampak usang di bagian paling atas ruangan kastil. Di sekliling ruangan tampak di terangi oleh cahaya obor yang menari-nari dan seakan takkan pernah mati.

Singgasana itu terdiri dari 2 kursi berwarna merah darah yang sudah tercampur dengan berbagai debu dan sarang laba-laba. Area ruangan di sana sangat besar dengan beberapa dinding yang nampak sudah runtuh dan membuat keadaan ruangan menjadi begitu kotor dan padat oleh reruntuhan bangunan bagian dalam. Pria itu berdiri menghadap singgasana dan mulai mengucapkan sesuatu yang terdengar aneh.

“mereka sudah bersiap menyerang kastil ini tuan, apakah tuan tidak ingin mengerahkan pasukan untuk menyerang mereka?” ucap sang pria sambil berlutut di depan singgasana yang kosong itu.

Tiba-tiba angin mulai berhembus, dinginnya begitu menusuk hingga ke tulang.terlihat sekilas pria berjubah hitam itu menggigil kedinginan. Api dari obor-obor di dinding tampak bergoyang kencang namun tidak mati. Lingkaran debu berwarna hitam mulai mengelilingi singgasana di depan pria itu. Dalam hitungan beberapa detik saja seseorang dengan tubuh yang cukup besar berada di hadapan pria berjubah hitam itu muncul dan segera duduk di singgasana.

“dengarkan baik-baik, biarkan mereka menyerang. Jika mereka ingin menghancurkan ku sebelum aku sempurna, biarkan saja. Karena aku butuh mereka untuk kebangkitan ku, tugas mu hanya mengawasi mereka saja.” Ucap laki-laki yang duduk di singgasana, suaranya besar dan menggema di seluruh ruangan.

“baik tuan, saya mengerti” selesai mengucapkan kalimat itu, pria berjubah itu hilang.

“Dengan kedatangan mereka,aku mampu menciptakan Ragnarok dan aku pasti bisa menguasai Rune Midgard dengan benda itu! Hahahaha!!” Tawa laki-laki itu membahana sekaligus lenyap pula pria itu dengan angin hitam yang berhembus.

“Jendral! Glast Heim sudah dapat kita lihat dari sini!” teriak seorang prajurit yang berada di garis depan.

“Jendral Radman, anda masih dapat bergerak kan? Di depan Glast Heim sudah dapat terlihat, sebaiknya kita beristirahat dulu semalam disini” Ucap Rai Lightbringer yang sedang membopong Jendral Radman.

“Rai, aku sudah ingatkan berapa kali? Kau sudah resmi menjadi Jendral sekarang, para pasukan mu juga sudah tahu itu, jadi buat apa kau memanggil ku jendral lagi?” ucap Radman dengan wajah yang terlihat pucat.

“selama Jendral masih hidup dan masih bergabung dalam barisan pasukan ini, aku tidak akan pernah mau disebut sebagai jendral.” Ucap Rai

Barisan pasukan itu terlihat mulai menerobos hutan Mjolnir barat untuk membuka jalan menuju Glast Heim. Keadaan gunung Mjolnir yang tidak rata membuat pergerakan pasukan ini menjadi lambat dan membutuhkan waktu lama untuk mencapai Glast Heim. Suasana siang itu cukup sejuk dengan keadaan hutan yang dingin sehingga menetralkan terik matahari.

Tiba-tiba ketika mereka berusaha untuk keluar dari hutan yang rapat menuju daerah lapang untuk membangun tenda peristirahatan, terlihat beberapa Sky Petite yang sedang terbang di atas hutan. Hewan naga berwarna abu-abu itu melihat rombongan pasukan itu dan mulai menyerang mereka.

Keadaan pasukan sempat kacau dengan serangan yang mendadak itu, namun dengan sedikit perjuangan mereka berhasil mengusir para Sky Petite itu, namun belum pulih dari keadaan yang kacau setelah diserang oleh Sky petite itu, mereka tiba-tiba dikagetkan oleh suara yang misterius dan begitu menusuk pendengaran.

“Wah, senang sekali aku bisa bertemu mangsa seperti ini saat aku hendak bertemu sang Raja Kegelapan.” Terlihat seorang Wanderer muncul dari balik salah satu pohon di depan para prajurit itu, Wanderer adalah iblis dari samurai jaman dahulu yang mati dalam perjalanannya untuk berkelana. Konon saat mereka masih hidup, kemampuan berpedang mereka merupakan kemampuan pedang yang diturunkan oleh para iblis dan memiliki hawa kejahatan, sehingga ketika mereka mati mereka berubah menjadi iblis tanpa nama yang disebut sebagai Wanderer.

“Gawat, walau hanya seorang Wanderer, namun dia bisa dengan mudah membunuh kita dengan keadaan pasukan kita yang terluka seperti ini.” Ucap Radman kepada Rai.

“biarkan aku yang melawannya jendral, dengan kekuatan suci Dewi Valkyrie dan kekuatan Holy yang aku miliki, aku pasti bisa mengalahkannya.” Ucap Rai dengan meletakkan Radman di salah satu pohon dan membiarkannya bersandar pada pohon tersebut.

Melihat keadaan Rai yang belum siap untuk bertarung itu, sang Wanderer memanfaatkan kesempatan untuk menebas kedepan menuju Rai. Dalam tebasan itu, ia berhasil membunuh beberapa prajurit yang berada di depan sang Wanderer dan terlihat tidak siap menerima serangan. Mayat-mayat itu ditinggal begitu saja oleh Wanderer itu, ia lebih focus untuk menebas Rai. Dalam beberapa detik pergerakan yang begitu cepat, ia berhasil mengayunkan pedangnya ke arah Rai yang tampak belum sempat meraih pedangnya. Namun Perisai Hylian miliknya berhasil menangkis serangan Wanderer itu dan membuatnya mundur beberapa langkah

“Kurang ajar kau! Beraninya membunuh pasukan ku!” Teriak Rai yang kemudian mencabut pedangnya dan maju menyerang sang Wanderer.

Dengan gerakan yang begitu cepat, Wanderer itu seperti lenyap dari hadapan Rai dan tampak sudah berada di depan Jendral Radman yang terbaring tak berdaya. Dengan satu gerakan saja pedang katananya sudah berada di samping leher Jendral Radman yang saat ini tidak mampu untuk melawan.

“Heh kau Defender, kalau kau berani maju selangkah saja. Jendral mu ini akan mati di tanganku.” Dengan satu gerakan tangan saja, Wanderer itu mampu membuat seluruh pasukan utnuk tidak bergerak dan hanya mampu melihat apa yang akan dilakukan si Wanderer terhadap Jendral mereka itu.

“Radman Paloma, kudengar kau adalah Jendral yang paling cerdas dan paling muda di antara Jendral lainnya. Namun kau sekaligus yang paling lemah di antara yang lain, karena kau tidak bisa bertarung sama sekali. Aku hanya ingin mengambil kalung yang ada di leher mu ini, karena tanpa ini benda itu takkan bisa berfungsi.” Ucap sang Wanderer kepada Jendral Radman yang tampak begitu tersiksa dengan sakitnya yang membuat tubuhnya semakin tidak bisa bergerak.

Wanderer itu dengan mudah menarik kalung yang berada di leher Radman. Dalam keadaan yang tidak siap itu, Rai melemparkan perisainya.

“Shield Boomerang!!” teriak Rai yang dengan kuat melemparkan perisainya ke arah Wanderer itu. Dalam beberapa detik,perisai itu telah sampai dan terlihat akan menghantam tubuh sang Wanderer. Namun anehnya perisai itu seperti menyerang angin. Setelah menembus tubuh Wanderer itu, perisai tersebut kembali ke tangan Rai.

“sudah kubilang untuk tidak menyerang kan?” selesai mengucapkan kalimat, sang Wanderer menebas tubuh Jendral Radman yang tidak berdaya.

Jendral Radman yang sedang dalam keadaan sakit dan tidak dapat menggerakkan badannya dengan cepat, menerima tebasan dari sang Wanderer dengan tak berdaya. Luka panjang membentang dari pundak sebelaah kirinya menuju pinggang sebelah kanan membentuk garis panjang yang berwarna merah cerah. Darah mengalir dari luka sabetan itu, tampak tenaga sang jendral semakin lemah.

“sepertinya urusan ku disini sudah selesai, sebaiknya aku segera kembali ke Glast Heim. Sampai bertemu tuan Defender.” Ucap Wanderer itu yang seketika menghilang beserta angin yang berhembus.

Dengan tergesa-gesa Rai mendekati Radman dan membuang perisainya ke tanah. Wajahnya begitu pucat melihat jendral yang ia kagumi tergeletak tak berdaya di bawah pohon dengan berlumuran darah, wajah Radman tampak tenang namun begitu pucat. Para prajurit di sekelilingnya hanya mampu berlutut tak berdaya melihat bekas jendral mereka tak bergerak. Beberapa prajurit tampak mendekati dan membuat lingkaran mengeliling tubuh Radman yang tampak lemah itu. Berbagai ekspresi kesedihan terpancar di wajah para prajurit itu.

“Jendral! Jendral jangan pergi! Jendral bangun!!” teriak Rai yang saat ini memeluk tubuh Radman yang tak berdaya,nampak air matanya menetes di kedua pipi Rai.

Nafas Jendral Radman masih berhembus tak beraturan,detak jantungnya begitu cepat. Wajahnya yang pucat tampak tak berdaya di bawah wajah Rai yang bergetar menangis.

“Ra…i! seperti yang…aku katakan waktu itu…waktu ku sudah habis,dan sekarang…adalah saatnya kamu memimpin pasukan ini…” Ucap Radman yang dari hidungnya tampak menetes darah merah segar.

“Jendral! Jangan mati! Aku memiliki ilmu penyembuhan,aku akan menyembuhkanmu Jendral! Bertahanlah!” ucap Rai dengan tangis yang semakin menjadi.

“Rai…sudahlah,walau luka ku ini sembuh…aku tidak mungkin bisa sembuh dari penyakit ku. Sekarang lebih baik dengarkan kata-kata ku ini….Kalung yang Wanderer itu ambil…. adalah kalung dengan permata Cassiopeia… dengan permata itu Raja Kegelapan dapat membangkitkan iblis terkuat di Rune Midgard…. iblis itu jauh lebih kuat dibanding Raja Kegelapan itu sendiri, aku yakin Dark Lord itu takkan mampu memperintah iblis ini….hhhh.” Ucap Radman yang saat ini semakin kehilangan tenaganya. Desah napasnya semakin memburu dan tak beraturan.

“lalu apa yang harus aku lakukan jendral?” ucap Rai yang semakin nampak cemas melihat keadaan jendralnya itu.

“perintahkan pasukan penyerbu untuk menghancurkan permata Cassiopeia itu…. permata itu adalah permata yang dapat membuat siapapun pemiliknya menjadi iblis…. Hanya keluarga Paloma yang mampu mengendalikan iblis pada permata itu….” Ucap Radman dengan terengah-engah.

“Baik jendral,akan aku perintahkan. Namun jendral,bertahanlah! Jangan pergi, ini hanya luka ringan!” Ucap Rai yang tampak putus asa melihat keadaan Radman. Dengan wajah yang penuh dengan air mata dan isak tangis,ia mencoba mempertahankan keinginan untuk hidup dari Radman.

“bagus Rai, dengan begini aku bisa pergi dengan tenang…. Jaga dan lindungilah selalu rakyat mu Rai… karena iblis takkan pernah mati dan akan selalu bangkit…. Ingat…hhh,lakukan segalanya walau kau harus membunuh sahabatmu…. saat sahabatmu sudah beralih membantu para iblis…. Tak ada manusia di dunia ini yang bisa tahan dari godaan para iblis….hhh, sucikan hati mu dan sucikan hati semua orang….” Ucap Radman dengan senyum terakhir terpancar dari wajahnya.

Ketika ia selesai mengucapkan kalimat itu, nafasnya berhembus untuk terakhir kalinya dan matanya tertutup perlahan. Tangis dari Rai membuat seluruh hutan terasa begitu sunyi dan hanya raungan kesedihan dari Rai yang terdengar. Air matanya membanjiri seluruh wajahnya dan membuat seluruh pasukan ikut dalam kesedihan yang begitu mendalam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.