h1

Part IV Ragnarok

December 26, 2009

Part IV City of Magic

sayang, semua perlengkapan mu sudah lengkap?” Ucap seorang wanita berambut panjang berwarna merah cerah dengan pakaian terusan panjang. Di tangan perempuan itu terlihat seorang bayi laki-laki mungil yang sedang tertidur. Bayi itu begitu lucu dengan rambutnya yang berantakan berwarna coklat.

“maaf ya sayang, aku jarang bisa menemani mu menjaga Andrew. Selama 1,5 tahun umur bayi kita, aku jarang sekali bisa bermain bersama dia.” Raut wajah Albern begitu murung, dia yang tadinya sedang membereskan baju besinya, segera menghampiri istri dan anaknya. Dengan wajah yang begitu tenang ia membelai kepala Andrew kecil lalu mencium kening anak kesayangannya itu.

“sudahlah sayang, aku tahu kau lakukan ini semua demi negeri ini. Tapi dimanapun kau nantinya, kau akan selalu menjadi ksatria di hati ku.” Ucap istri Albern yang saat ini sedang membelai rambut suaminya itu. Sesekali bayi yang ada di gendongannya menggeliat dan terusik oleh suara di sekitarnya lalu dia tidur lagi.

Beberapa saat setelah itu, istri Albern melepas belaiannya dan beranjak menuju tempat tidur, ketika sudah mendekati tempat tidur, ia menidurkan bayi yang ada di tangannya di atas tempat tidur yang hangat. Kemudian ia berpaling dan mendekati suaminya itu lagi.

“sayang, apapun yang terjadi nantinya. Aku ingin kau pulang, aku tidak peduli seberapa parah kau terluka, yang penting kau pulang. Karena seberapa besar pun luka mu, aku pasti akan menyembuhkan mu.” Ucap istri Albern yang sekarang tampak berkaca-kaca, tangannya mengusap air mata yang hamper jatuh dari wajahnya. Ia hanya bisa berdiri di depan suaminya itu dengan gemetar.

Beberapa detik kemudian Albern memeluk tubuh istrinya dan membelai rambut panjangnya dengan perlahan. “sayang, aku akan kembali dan pasti kembali, walau pedang menancap di dadaku aku pasti kembali. Karena aku pasti akan melindungi kalian hingga aku mati.” Wajahnya yang kaku sekarang tampak begitu damai di pelukan istrinya. Ketika ia melepaskan pelukannya, ia pun mencium bibir istrinya dengan perlahan. Tangannya menggenggam tangan istrinya begitu erat seakan tidak pernah rela harus meninggalkan istri tercintanya.

Tampak air mata semakin jatuh dari wajah sang istri, ketakutan akan kehilangan suami tercinta membuat istri Albern semakin berat untuk membiarkan suaminya pergi.

“aku harus pergi sayang…” Ucap Albern yang kemudian melepas genggamannya dan beranjak mengambil baju besi nya yang sudah di siapkan di atas meja panjang di ruang tengah.

Beberapa menit yang berlalu hanya dengan diam dan sesekali terdengar gemerincing baju besi yang berusaha dipakai oleh Albern. Tak berapa lama setelah pakaian besinya lengkap terpakai, ia pun keluar rumah. Di depan rumahnya sudah tampak Yugo sedang menaiki peco-peco nya, dengan senyumnya yang selalu lebar tiap hari ia menyambut temannya yang baru saja keluar rumah itu.

Suasana di luar rumah begitu dingin dan tampak masih berkabut, walau matahari sudah memperlihatkan sebagian bentuknya, namun memang pagi ini begitu banyak kabut dan begitu dingin. Keadaan jalan begitu sepi dan belum terlihat orang lalu lalang, walau sesekali sudah terlihat beberapa merchant yang lalu lalang dengan gerobak di belakangnya untuk pergi berdagang.

“Hoi Albern! Ambil peco-peco mu dan ayo kita segera berangkat! Dilwyn sudah menunggu kita di kafra selatan.” Ucap Yugo yang sedari tadi menenangkan peco-peconya yang sedikit lincah itu.

“sebentar lagi cerewet! Aku baru mau mengeluarkan peco-peco ku dari istal. Tumben hari ini kau tidak datang pagi dan numpang sarapan disini. Beruntung hari ku tidak diawali dengan mendengar ocehan mu di saat jam makan.” Ucap Albern sambil berjalan menuju istal peco-peco di samping rumahnya.

Istri Albern yang tampak keluar rumah menggunakan selimut bulu tebal, dari tadi hanya bisa tersenyum dan sedikit tegang ketika melihat suaminya akan segera pergi. Perasaannya tidak tenang dan takut akan terjadi sesuatu pada suami tercinta nya itu.

“Sayang,aku pergi dulu ya!” Secercah senyum terpancar dari wajah Albern.

“Yoo, kami berangkat dulu yaa. Salam untuk Andrew!” Teriak Yugo yang sudah berangkat terlebih dahulu.

“Kau harus kembali sayang!” ucap istri Albern dengan perlahan dan dengan tegar dia menahan air mata yang hamper jatuh dari wajahnya, tangannya melambai pada suaminya yang sudah berada cukup jauh dari rumah mereka.

Di dekat Kafra sebelah selatan Prontera, telah nampak sederetan prajurit yang berbaris rapi untuk menggunakan jasa penerbangan kafra. Di depan barisan-barisan itu nampak Dilwyn yang sedang mengatur dan memberikan komando pada batalyon Knight yang berbaris rapis di hadapannya. Sangat aneh bila dilihat, seorang swordman mengatur ratusan Knight. Dan tanpa banyak pertimbangan para knight itu menuruti semua perintah swordman itu.

“Dilwyn!! Sudah siapkah semuanya??” Teriak Yugo dari kejauhan, derap suara kaki peco-peco yang ia naiki membuat kepulan asap yang cukup menyesakkan nafas. Di belakangnya terlihat  Albern menyusul menggunakan peco-peconya.

Segera setelah Yugo dan Albern menambatkan tali kekang peco-peconya di samping sebuah rumah, mereka berdua segera mendekati Dilwyn yang sedang mengatur keberangkatan para prajurit.

“bagaimana? Sudah siap semuanya?” Ucap Yugo yang sekarang terlihat serius dan bersemangat, Albern yang sedari tadi hanya diam tampak tegang mengingat dia harus meninggalkan istri tercintanya.

“Seperti yang kalian berdua lihat, semua pasukan sudah siap dan bisa segera kita berangkatkan.

Suasana kota Prontera begitu aneh pagi ini, ketika orang-orang masih terlelap dalam tidurnya, ratusan prajurit sudah berbaris di depan seorang pegawai Kafra Corp, memang perusahaan itu bekerja 24 jam dan memberikan pelayanan yang luar biasa memuaskan untuk semua orang. Walaupun bagi para merchant, biaya yang diminta oleh perusahaan Kafra itu begitu mahal.

“Nona Maureen, apakah kami bisa segera di berangkatkan. Aku tidak ingin penduduk merasa cemas dengan melihat ratusan prajurit yang akan diberangkatkan ini.” Ucap Yugo yang saat ini sedang berbicara dengan seorang pegawai kafra yang sedari tadi sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk keberangkatan para prajurit itu.

“Sebentar Jendral Yugo, saya sedang membuka portal yang dapat dimasuki sekaligus oleh para prajurit ini. Akan kami usahakan agar tidak terlalu lama.” Ucap seorang pegawai kafra yang berambut panjang dan bando pita yang menjadi ciri khas para pegawai kafra terpasang di kepalanya. Selang 10menit, munculah sebuah portal sihir yang terbuka di depan sang Kafra.

“Jendral, portalnya sudah siap untuk digunakan. Portal ini akan membawa anda menuju kota Geffen.” Ucap Maureen kepada Yugo yang saat ini merasa takjub karena selama ini dia tidak pernah melihat portal sebesar itu. Beberapa detik dia kaget melihat kemampuan dari pegawai kafra itu, dia kemudian berbalik dan memerintahkan para prajuritnya untuk memasuki portal yang sudah terbuka di depannya.

Dengan gerakan yang tenang dan serempak, para prajurit itu satu persatu memasuki portal di depannya. Tak butuh waktu lama untuk melenyapkan para prajurit itu menuju dimensi lain yang akan membawa mereka ke kota Geffen. Setelah prajurit terakhir memasuki portal, ketiga Jendral yang dari tadi mengawasi dan mengatur para prajurit itu segera menyusul pasukan mereka yang sudah terlebih dahulu memasuki portal.

Suasana pagi di kota Geffen hari itu tidak terlalu ramai seperti biasanya, mungkin karena para merchant yang tidak terlihat di sana sini, memang pagi-pagi seperti ini biasanya banyak sekali mage-mage yang berjalan kesana kemari. Tapi hari itu tampaknya sedang ada ujian mage dan wizard, sehingga para novice yang ingin menjadi mage atau mage yang ingin menjadi wizard tidak banyak terlihat.

Menara kota Geffen yang begitu megah tinggi menjulang menembus angkasa itu nampaknya menjadi satu-satunya bangunan yang tampak hidup dibandingkan yang lain. Jendela di sekeliling menara itu tampak bercahaya menandakan bahwa para wizard masih terbangun dan entah apa yang sedang mereka lakukan. 2 buah Kristal Blue Sapphire mengitari menara itu secara magis, rotasi yang tak beraturan namun begitu indah ketika Kristal-kristal itu bercahaya diterpa oleh matahari.

Di sebelah selatan kota Geffen, yang tampak sepi dan tenang di antara bangunan-bangunan yang sudah tidak terpakai lagi, terdapat 2 orang wizard yang sedari tadi diam dan tenang memperhatikan sekitarnya. Salah satu dari mereka berambut putih bersih dengan kacamata bulat kecil yang terpasang di kedua matanya yang berwarna coklat tampak tampak bergumam dan mengucapkan sesuatu.

“ayo kita mundur, mereka akan segera datang.” Ucap wizard berambut putih itu.

Selang beberapa detik setelah wizard itu berbicara, tampak lingkaran portal sihir berwarna biru muncul di depan mereka, dan seketika ratusan prajurit knight pun keluar dari portal tersebut. Setelah semua prajurit keluar dari portal tersebut, tampak 3 orang lain menyusul dari belakang dan setelah mereka bertiga keluar dari portal tersebut, portal itu lenyap seperti tak pernah ada lagi dan keadaan menjadi biasa.

“Selamat datang di kota Geffen. Perkenalkan nama saya William Wilfred dan ini adik saya William Renault.” Ucap wizard berambut putih itu sambil menunjuk wizard disampingnya. Wizard itu berbeda dengan kakaknya yang tampak selalu tersenyum, Renault lebih terlihat angkuh bahkan tak peduli dengan siapa saja yang ada disitu. Dia rambutnya berwarna hitam dengan wajah yang keras dan bibir yang kecil yang membuatnya semakin terlihat angkuh.

“Fiuh, perjalanan yang menakjubkan haha. Owh, anda pasti wizard yang diperintahkan untuk menjemput kami? Perkenalkan, saya Jendral Yugo Skyhate, ini Jendral Albern Murdock, dan si swordman kecil ini adalah Jendral Dilwyn Gruffydd haha.” Ucap Yugo yang saat ini berada paling depan di antara Jendral-jendral lainnya.

“Salam kenal jendral, silahkan anda semua ikut saya. Saya akan membawa anda menuju menara kota Geffen, anda dapat beristirahat disana dan merencanakan segala sesuatunya. Elder Wizard memerintahkan kami untuk memberitahukan kepada anda bahwa nanti siang beliau akan menemui anda untuk merencanakan penyerangan Glast Heim.” Ucap Wilfred

Tanpa banyak pertanyaan dan kata-kata yang terlontar dari para knight itu, mereka dengan segera mengikuti 2 wizard itu menuju menara kota Geffen. Dari jauh menara itu tampak sebagai menara yang besar namun tidak terlalu besar dibanding bangunan-bangunan yang mereka temui di depan kota Geffen tadi, akan tetapi ketika mereka semua mulai mendekati menara itu, tak terasa bangunan itu tampak semakin besar dan akhirnya mereka sadar bahwa menara itu adalah satu-satunya menara sihir paling besar yang ada di seluruh Rune Midgard. 2 Buah Blue Sapphire yang mereka lihat di kejauhan itu sekarang sedang berputar-putar secara sihir mengelilingi menara itu. Bila di perhatikan lebih lama, kadang-kadang Kristal-kristal itu berpendar satu sama lain dan memancarkan cahaya misterius yang penuh dengan kekuatan sihir.

Beberapa warga sipil kota Geffen tampak sudah ada yang sedang bercengkrama di kursi-kursi di depan rumah mereka. Pandangan mereka di alihkan oleh serombongan pasukan Knight yang berjejer panjang menggunakan baju besi lengkap dan suara langkah mereka yang menimbulkan getaran sekaligus menimbulkan gemerincing suara besi yang beradu satu sama lain.

Pandangan para knight itu tetap focus ke depan dan tidak menghiraukan suasana di sekitarnya, pedang mereka tersarungkan di pinggang sebelah kiri. Wajah mereka kaku dan tegang dan tidak ada satu pun yang berbicara yang terdengar hanyalah langkah kaki mereka. Ratusan Knight berjalan menuju menara Geffen merupakan pemandangan yang sangat menakjubkan. Kota Geffen yang tenang dengan bangunan-bangunan yang lebih dominan berwarna cerah ini tampak kontras dengan adanya kemilau cahaya matahari yang dipantulkan oleh baju besi para knight itu, ratusan knight itu nampak seperti cermin raksasa yang dapat memantulkan segala jenis cahaya yang menerpa mereka.

Di dalam menara sudah terdapat banyak sekali pelayan yang segera mengantarkan para prajurit menuju kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Peco-peco para Jendral pun sudah berada di istal kota Geffen.

“Tuan-tuan silahkan ikut saya, kamar anda ada di lantai dua.” Ucap Wilfred kepada para Jendral

Mereka pun lalu bergegas menaiki tangga menuju lantai dua menara tersebut, bila diperhatikan interior di dalam menara itu cukup unik dan aneh. Mungkin karena selera para penyihir memang berbeda dengan manusia pada umumnya. Mereka lebih terkesan menyukai hal-hal yang terlihat gelap atau mencolok, seperti warna-warna yang terang sekaligus gelap. Desain di tembok bagian dalam menara terlihat kotor namun bukan karena jamur atau kotoran yang menumpuk, tetapi karena memang disihir seperti itu.

“tuan Renault, dari tadi saya perhatikan anda tidak berbicara sama sekali ada apa?” Ucap Dilwyn memecah keheningan.

Di tengah-tengah tangga menuju ke atas menara, tiba-tiba di pikiran masing-masing Jendral itu seperti ada yang ingin menembus dan berusaha menghancurkan pertahanan mental lemah yang dimiliki para jendral itu. Hal itu membuat para jendral tersebut berhenti dan seperti kehilangan kesadaran dan sibuk menghadapi perang mental yang luar biasa itu. Beberapa saat kemudian terdengar sebuah suara yang memenuhi pikiran mereka.

maafkan atas kelancangan saya menembus pikiran anda semua, perkenalkan nama saya William Renault.’

“siapa itu yang berbicara?” Teriak Dilwyn yang merasa dirinya telah diserang oleh kekuatan sihir yang luar biasa. Ketiga jendral itu tanpa sadar mengeluarkan keringat dingin, mereka menyadari bahwa dengan mudahnya mereka bisa dikendalikan menggunakan kekuatan sihir yang misterius.

“tenanglah Jendral, itu tadi adalah Renault yang menggunakan kekuatannya untuk berbicara melalui pikiran kalian.“ Ucap Wilfred yang tampak juga mendengar suara pikiran dari adiknya itu.

‘Maafkan kelancangan adik ku ini yang sudah mengagetkan anda semua. Dan sekali lagi maaf aku lupa mengatakan bahwa adik ku ini tidak bisa bicara sejak dia dilahirkan di dunia. Tapi untungnya dengan kekuatan sihir, dia mampu berbicara melalui pikiran. Tapi sihir itu tidak bisa dilakukan dengan mudah,butuh konsentrasi tinggi untuk dapat meraih pikiran orang sekaligus berbicara melalui pikiran.” Jelas Wilfred dengan tenang dan kembali melanjutkan perjalanan.

“Luar biasa menarik. Mungkin nantinya kalian bisa mengajari kami cara untuk menggunakan sihir semacam itu, karena kurasa sihir itu sangat berguna bila dalam peperangan.” ucap Yugo yang saat ini jantungnya masih berdebar-debar.

“mungkin lain kali saya bisa mengajari sihir itu kepada anda.” Ucap Wilfred dengan tenang.

Setelah beberapa berjalan di antara tangga-tangga yang seperti tidak akan pernah habis ini, mereka berhenti di salah satu lantai yang kemudian menuju sebuah lorong yang di kiri kanannya terdapat beberapa pintu. Di akhir lorong, mereka menghadap sebuah pintu yang cukup besar. Pintu itu lalu dibuka dan didalamnya tampak beberapa kursi kayu dan meja kayu yang ditata cukup menawan sehingga menghilangkan kesan kumuh yang ditimbulkan oleh warna tembok itu. Anehnya, keadaan di dalam ruangan itu begitu dingin dan membuat kaca-kaca di beberapa bagian tembok tampak berembun.

“ini adalah ruangan yang sudah kami persiapkan untuk para Jendral agar anda semua dapat beristirahat. Maaf bila anda berkenan, saya akan membuat ruangan ini sedikit lebih hangat. Saya rasa disini terlalu dingin.” Ucap Wilfred kepada Yugo dan yang lainnya.

“silahkan saja, aku rasa disini memang sangat dingin.” Ucap Yugo yang sedang menggosok lengannya dan memeluk badannya sendiri.”

“Fireball!” ucap Wilfred, ketika ia selesai mengucapkan kata-kata itu tiba-tiba di genggamannya muncul sebuah bola api kecil yang berwarna merah membara, anehnya tangan Wilfred yang sedang memegang bola api itu sama sekali tidak terbakar. Dan dari raut wajahnya, Wilfred tidak nampak merasa panas bahkan dengan tenang ia mendekati sebuah pemanas ruangan yang didalamnya terdapat beberapa kayu bakar kering dan beberapa arang. Dengan perlahan ia memindahkan bola api itu kedalam pemanas ruangan itu, dan ketika api itu sudah berpindah ke dalam pemanas ruangan itu, kayu-kayu kering yang ada didalamnya terbakar dan membuat ruangan menjadi sedikit lebih hangat.

“sepertinya saya sekarang harus segera pergi, kami harus mempersiapkan segala sesuatu untuk nanti siang. Bila tuan-tuan ingin pergi keliling kota, kami sudah menyiapkan pemandu di bawah. Nanti siang akan kami jemput anda semua.” Ucap Wilfred yang sudah beranjak dari depan pemanas ruangan menuju pintu masuk ruangan itu. Di luar ruangan itu, Renault menunggu Wilfred dengan tenang.

“terima kasih atas bantuan kalian, kami sepertinya akan istirahat dahulu.” Ucap Yugo yang sekarang sudah melepas baju besinya yang nampak berat. Dilwyn saat ini sedang membaca buku-buku yang ada di rak buku di samping tembok ruangan tanpa melepas baju zirahnya. Albern pun sudah menuju tempat tidur dan membaringkan badannya disana.

Beberapa menit kemudian suasana ruangan itu menjadi senyap dan tenang, hanya suara baju besi milik Yugo yang terdengar. Setelah Yugo mengganti pakaiannya menjadi baju biasa dan menanggalkan baju besinya, ia pun pergi keluar ruangan.

“teman-teman, aku keliling kota dulu ya!” ucap Yugo sembari meninggalkan ruangan itu.

“hmm, aku sepertinya akan disini membaca beberapa buku yang cukup menarik ini sekaligus aku tidak akan meninggalkan Albern yang sedang tertidur itu.” Ucap Dilwyn yang sedari tadi sibuk membaca buku yang berjudul ‘Sage’s Diary’ itu.

Beberapa saat kemudian Yugo menutup pintu dan bergegas menuju lantai bawah. Kali ini dia sedikit terburu-buru menuruni tangga itu dan hamper saja terjatuh, untungnya ia masih sempat berpegangan dan dia hanya terpleset sedikit namun tidak terjatuh.

Di lantai bawah ternyata sudah terdapat seorang mage laki-laki berambut coklat dengan poni yang menutupi sebagian matanya. Ia nampak memperhatikan langkah Yugo dan menghampiri Yugo yang baru saja turun dari tangga.

“Maaf, apakah anda Tuan Yugo. Saya adalah mage yang akan memandu anda mengelilingi kota.” Ucap mage itu dengan sopan.

“tidak perlu, sebaiknya kau bersenang-senanglah. Karena aku ingin menikmati hari ini sendirian.” Ucap Yugo.

“errr…baiklah kalau begitu tuan Yugo.” Ucap si mage dengan cemas.

Namun Yugo tidak mempedulikan itu dan ia pun bergegas keluar dari menara itu. Di luar menara, matahari sudah mulai nampak dan menghangatkan suasana yang tadi terasa begitu dingin.

Yugo pun memulai perjalanannya menuju beberapa toko peralatan dan beberapa toko perlengkapan berburu. Beberapa kali ini menemui toko yang menjual berbagai gemstone yang sering digunakan oleh para penyihir untuk merapal mantera atau bahkan membuat mantera. Di luar kota tampak beberapa merchant menjual tongkat-tongkat sihir yang langka dan jarang dijumpai di toko-toko peralatan.

Cukup lama Yugo berkeliling kota Geffen, tiba-tiba ia berhenti di depan Sekolah Sihir Geffen. Bukan para novice yang lalu lalang di depan dan di dalam sekolah itu yang menjadi perhatian Yugo, namun seorang anak perempuan kecil berumuran sekitar 2 tahun dengan pakaian biasa. Diantara para novice yang sedang sibuk dengan tugas dari sekolah sihir, gadis kecil itu hanya diam sambil menjilati permen yang ada ditangannya. Yugo pun mendekati gadis kecil itu.

“adik kecil sedang apa disini? Sebaiknya adik jangan disini, mari paman antarkan kamu kerumah.” Ucap Yugo

Anak kecil itu hanya memandang Yugo dengan tatapan mata tajam dan tak berdosa. Matanya tajam dan berwarna biru cerah sercerah Kristal-kristal yang memutari menara Geffen. Tiba-tiba anak kecil itu berlari pergi dari Yugo tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

“Haha,kau baru saja membuatnya pergi tuan.” Ucap seorang mage perempuan yang baru keluar dari sekolah sihir itu.

“errr, maaf aku telah membuat dia pergi. Aku hanya ingin mengantarkannya pulang, aku pikir bila ia ada disini dia akan terluka karena di tabrak oleh para novice ini.” Ucap Yugo

“haha,tidak apa-apa tuan. Anak itu memang tiap hari kesini, aku sendiri tidak tahu apa yang ia mau. Aku rasa dia ingin belajar sihir, tapi tidak ada sihir yang ia bisa pelajari saat umur segitu. Owh iya maaf, perkenalkan nama saya Volney Winona.” Ucap mage itu dengan senyum yang terkembang, wajahnya cantik dan memiliki kesan yang misterius, rambutnya pendek berwarna kuning pucat.

“wah, sepertinya aku telah membuat salah satu calon murid anda pergi dan mungkin tidak kembali lagi, haha. Perkenalkan, aku Yugo Skyhate.” Ucap Yugo.

“Miss Volney!! Ada yang membuat kekacauan di dalam! Mereka meledakkan tabung uji coba!” ucap seorang novice yang tampak berlari dari dalam ruangan menuju Volney.

“wah nampaknya anda sibuk sekali, sebaiknya aku juga segera pergi karena aku ada janji siang ini.” Ucap Yugo sambil tersenyum melihat tingkah para novice kecil ini.

“baiklah tuan Yugo, mungkin lain kali kita masih bisa bertemu lagi. Aku rasa kita pasti bertemu lagi, yah hanya sekedar perasaan ku saja. Oke Zens, dimana yang membuat keributan? Biar aku bereskan sini.” Ucap Volney yang kemudian berbalik dan memasuki gedung itu.

Yugo pun kembali melanjutkan keinginannya untuk melihat-lihat suasana di Geffen. Kota sihir itu benar-benar terasa penuh dengan kekuatan sihir di setiap sudut kotanya, tiap bangunan yang ada di kota Geffen selalu dihiasi dengan ukiran dan bentuk-bentuk aneh dari bahasa kuno yang merupakan sihir suci untuk melindungi rumah mereka dari serangan sihir. Di dinding pelindung yang mengelilingi kota Geffen terdapat berbagai macam mantera sihir dan butiran-butiran gemstone yang menancap di tembok tersebut. Menurut kabar, dinding pelindung kota ini dikelilingi oleh aliran sihir yang luar biasa besar untuk melindungi kota Geffen dari sihir yang terpancarkan dari Glast Heim, kota Geffen adalah satu-satunya kota baris pertama yang membatasi Rune Midgard dari Glast Heim.

Setelah mengelilingi hampir tiap sudut kota Geffen, Yugo pun kembali menuju menara dengan perasaan puas setelah melalui hari ini dengan bersenang-senang. Siang itu ia dan para Jendral lainnya di undang dalam jamuan makan siang yang cukup mewah dan meriah oleh Elder Wizard kota Geffen di ruangan bagian tengah menara sihir kota Geffen, ruang jamuan makan yang begitu luas dan indah dengan ukiran-ukiran emas yang bertuliskan mantera-mantera kuno.

Setelah para tamu menyelesaikan makannya, Elder Wizard itu pun memulai perbincangan untuk mengatur strategi penyerangan Glast Heim.

Beberapa jam di lalui dengan perbincangan mengenai persiapan yang telah dilakukan para penyihir di kota Geffen, dan Yugo juga menjelaskan apa saja yang sudah dipersiapkan prajurit-prajurit dari Prontera dan strategi yang sudah ia dan para Jendral lainnya rencanakan.

Perbincangan berakhir cukup malam sehingga para tamu undangan tampak begitu lelah dengan perbicangan yang cukup panjang itu. Setelah mengakhiri acara dengan bir, Yugo dan 2 Jendral lainnya beranjak menuju ruangan tempat mereka akan tidur.

Di dalam ruangan itu terdapat 3 tempat tidur terpisah di setiap kamar. Ketika mereka bertiga sudah memasuki kamar masing-masing, tampak hanya Yugo yang masih terbangun di malam itu. 2 orang temannya yang lain sudah tertidur pulas kelelahan. Matanya memandang langit-langit dengan raut yang begitu penasaran.

“Tatapan anak kecil itu begitu aneh, aku merasakan bahwa anak itu punya suatu bakat alami dalam sihir. Tapi aku tak tahu apa-apa tentang sihir, semoga saja dia menjadi apa yang dia inginkan.” ucap Yugo, setelah ia mengucapkan kalimat itu ia pun terlelap dalam tidurnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.