<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Hayasakarantaro&#039;s Blog</title>
	<atom:link href="http://hayasakarantaro.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://hayasakarantaro.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Tue, 17 May 2011 06:30:28 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='hayasakarantaro.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://0.gravatar.com/blavatar/0ae1959fe27cf9488d42555cd5bdf767?s=96&#038;d=http%3A%2F%2Fs2.wp.com%2Fi%2Fbuttonw-com.png</url>
		<title>Hayasakarantaro&#039;s Blog</title>
		<link>http://hayasakarantaro.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://hayasakarantaro.wordpress.com/osd.xml" title="Hayasakarantaro&#039;s Blog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://hayasakarantaro.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Saat sedang Gila</title>
		<link>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2011/05/17/saat-sedang-gila/</link>
		<comments>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2011/05/17/saat-sedang-gila/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 17 May 2011 06:30:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hayasakarantaro</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false">http://hayasakarantaro.wordpress.com/?p=68</guid>
		<description><![CDATA[yah di waktu senggang kadang aku menulis dan kadang aku bahka tidak menyangka bisa menulis seperti ini, check this out!! Menatap matahari pagi dibalik tirai besi yang menghiasi jendela kamar itu terasa begitu dingin dan menyeramkan. Melihat aktifitas anak-anak kecil warga kampung sebelah bui ini rasanya bagai melihat burung-burung liar bebas beterbangan di antara pohon-pohon [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=68&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>yah di waktu senggang kadang aku menulis dan kadang aku bahka tidak menyangka bisa menulis seperti ini, check this out!!</p>
<p>Menatap matahari pagi dibalik tirai besi yang menghiasi jendela kamar itu terasa begitu dingin dan menyeramkan. Melihat aktifitas anak-anak kecil warga kampung sebelah bui ini rasanya bagai melihat burung-burung liar bebas beterbangan di antara pohon-pohon nan rindang. Indahnya matahari pagi pun tak seindah ketika aku mampu menatapnya langsung, segala sesuatu di balik jeruji besi ini begitu kelam dan tak se terang cahaya di balik bui ini. Namun segala hal ini terjadi karena kesalahanku, aku manusia tak berguna yang telah menyesatkan orang lain dalam siksa neraka, walau aku tak pernah percaya bahwa neraka itu benar-benar ada.</p>
<p>Begitu banyak manusia yang menyembah Tuhannya, dan memohon ampun pada-NYA. Namun mungkin hanya aku satu-satunya manusia di dunia ini yang tak pernah melihat bahwa Tuhan itu benar-benar ada, Tuhan hanyalah simbol untuk para manusia lari dari keadaan nyata dan pahitnya kehidupan ini. Tuhan merupakan suatu ikon yang diciptakan oleh manusia itu sendiri agar mereka masih memilih dinding pertahanan terakhir di saat semua nya begitu berat dan hampir membunuh mereka.</p>
<p>Bagiku mati adalah mati, perputaran kehidupan berakhir pada kematian dimana tak ada satu pun yang mampu mengelak. Kehidupan setelah kematian adalah satu hal yang tak dapat kupercaya sepenuhnya, karena tak ada satupun orang waras yang mampu membuktikannya. Dan inilah aku, kehidupanku berakhir di bui ini dengan segala hal yang telah kuperbuat pada satu wanita muda pegawai salah satu bank ternama di Jakarta.</p>
<p>Aku bukanlah orang yang mudah menyukai seseorang, namun ketika aku tertarik pada satu orang, maka aku akan berusaha mendapatkannya walau aku harus membunuh puluhan atau bahkan ratusan orang untuk mendapatkan apa yang aku inginkan. Seperti pada halnya ucapanku diatas, aku tak percaya pada Tuhan sepenuhnya, aku yakin bahwa Tuhan itu ada mungkin bila saatnya aku hampir menghadap-NYA. Itulah yang menyebabkan aku tak peduli pada apa yang aku perbuat, aku tak mengenal norma, aku tak tahu apa itu moral, dan aku tak peduli pada hukum. Karena aku adalah aku.</p>
<p>Tahun 2007 lalu, aku yang mana seorang karyawan di perusahaan swasta yang cukup terkenal di Jakarta yang bergerak di bidang ekspor impor, merasa bahwa pekerjaan ini begitu membosankan dan selalu itu itu saja. Bagiku, bekerja hanya untuk mendapatkan gaji yang akan aku habis kan untuk memenuhi nafsu perut dan birahi ku. Aku tak punya satu pun orang yang kukenal begitu dekat, namun hanya satu temanku yang begitu peduli pada aku semenjak kami SMA dulu. Tapi toh aku tak pernah mempedulikannya, bagiku dia hanya perempuan murahan yang telah ditiduri belasan atau bahkan puluhan orang dan aku pun tak peduli itu benar atau tidak, bagiku dia hanya sampah.</p>
<p>*bersambung</p>
<p>if you like it, please write a comment okay <img src='http://s0.wp.com/wp-includes/images/smilies/icon_biggrin.gif' alt=':D' class='wp-smiley' /> </p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayasakarantaro.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayasakarantaro.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayasakarantaro.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayasakarantaro.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hayasakarantaro.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hayasakarantaro.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hayasakarantaro.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hayasakarantaro.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayasakarantaro.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayasakarantaro.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayasakarantaro.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayasakarantaro.wordpress.com/68/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayasakarantaro.wordpress.com/68/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayasakarantaro.wordpress.com/68/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=68&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2011/05/17/saat-sedang-gila/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0904ad1b67d382de9265b6c955eec43?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hayasakarantaro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Coffee Lounge</title>
		<link>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2010/01/26/coffee-lounge/</link>
		<comments>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2010/01/26/coffee-lounge/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 26 Jan 2010 04:37:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hayasakarantaro</dc:creator>
				<category><![CDATA[1]]></category>
		<category><![CDATA[http://www.facebook.com/hayasaka.rantaro?ref=name]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayasakarantaro.wordpress.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Coffee Lounge Hujan dan hujan, itulah sedikit gambaran mengenai beberapa hari ini di Jogja. Berkali-kali tetesan air jatuh dari langitNYA dengan deras dan tanpa peduli apa yang dipikirkan oleh orang-orang. Menatap dari dalam ruangan yang cukup lengang melalui jendela bertirai besi ini menuju derasnya sang hujan, suasana yang tadinya panas karena perdebatan tanpa usai dan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=65&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Coffee Lounge</p>
<p>Hujan dan hujan, itulah sedikit gambaran mengenai beberapa hari ini di Jogja. Berkali-kali tetesan air jatuh dari langitNYA dengan deras dan tanpa peduli apa yang dipikirkan oleh orang-orang. Menatap dari dalam ruangan yang cukup lengang melalui jendela bertirai besi ini menuju derasnya sang hujan, suasana yang tadinya panas karena perdebatan tanpa usai dan kejenuhan akan pekerjaan yang tidak dapat di deskripsikan dengan pasti mampu lenyap setelah sang awan menjatuhkan hujan yang begitu deras namun menenangkan hati.<br />
Bergegas aku pergi mencari sebuah benda yang menemaniku dengan diam dan bisu selama hujan turun, cangkir. Ya cangkir diam yang tak mampu mengungkapkan apapun yang ia rasakan dan alami, tanpa peduli apapun kuseduh sebuah kopi hangat dengan perasaan tenang. Kenikmatan kopi ditemani sebuah fantasi yang melayang di antara benak-benak liarku ini benar-benar luar biasa.<br />
Kopi yang konon merupakan minuman berasal dari Ethiopia abad ke 9 ini memang mampu membuat suasana dingin ini sedikit lebih hangat. Sungguh berkah tiada tara bagi orang yang menemukan kopi, apa ya yang mereka pikirkan saat itu sehingga mampu menciptakan minuman ini. Tapi ya sudahlah, tak ada yang perlu dibicarakan dari orang-orang yang tak pernah kukenal itu. Lagipula yang terpenting adalah menikmati berkah ini.<br />
Menikmati secangkir kopi susu bernama Cappuccino di teras luar lantai dua Kedai Kopi Espresso Bar Jakal dengan ditemani irama gemericik air hujan yang turun benar-benar luar biasa. Melihat kesibukan warga Jogja di bawah saat hujan turun, terkadang bukan rasa atau kesempurnaan kopi yang diinginkan, namun moment saat menikmati kopi itulah yang dicari. Bukan saat-saat biasa ketika bercengkerama dengan teman atau kolega ditemani secangkir Cappuccino hangat, namun saat memandang langit terang malam hari ini atau saat hujan turun seperti sekarang ini.<br />
Kedai Kopi Espresso Bar always gives a place to serve memorable coffee…</p>
<p>Yogyakarta, 25 Januari 2010 16.27</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayasakarantaro.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayasakarantaro.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayasakarantaro.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayasakarantaro.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hayasakarantaro.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hayasakarantaro.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hayasakarantaro.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hayasakarantaro.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayasakarantaro.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayasakarantaro.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayasakarantaro.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayasakarantaro.wordpress.com/65/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayasakarantaro.wordpress.com/65/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayasakarantaro.wordpress.com/65/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=65&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2010/01/26/coffee-lounge/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0904ad1b67d382de9265b6c955eec43?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hayasakarantaro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>My Novel: Ragnarok</title>
		<link>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/30/my-novel-ragnarok/</link>
		<comments>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/30/my-novel-ragnarok/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 30 Dec 2009 08:49:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hayasakarantaro</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Own Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayasakarantaro.wordpress.com/?p=3</guid>
		<description><![CDATA[Ragnarok Part I Destiny “Cuaca kayak gini terus tiap hari,bisa bikin meleleh otak ku lama-lama. Hei Dewa Ifrit! Apa kau ingin menghancurkan dunia ini dengan panas mu?” Keluh seorang pria dengan pedang yang tergantung di pinggangnya. Tampak baju besi yang tak begitu mewah menghiasi tubuhnya. Sebuah helm terpasang di kepalanya, rambutnya terurai berantakan dibalik helm [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=3&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Ragnarok<br />
</strong><br />
<strong>Part I Destiny</strong><br />
“Cuaca kayak gini terus tiap hari,bisa bikin meleleh otak ku lama-lama. Hei Dewa Ifrit! Apa kau ingin menghancurkan dunia ini dengan panas mu?” Keluh seorang pria dengan pedang yang tergantung di pinggangnya. Tampak baju besi yang tak begitu mewah menghiasi tubuhnya. Sebuah helm terpasang di kepalanya, rambutnya terurai berantakan dibalik helm besinya.<br />
Di tengah kota Prontera dia berjalan dengan langkah yang tak beraturan dengan memegang sebuah bungkusan yang dipenuhi dengan noda darah. Beberapa merchant yang sedang berjualan di lapak-lapak yang di gelar di sepanjang jalan Prontera membuat suasanya panas ini semakin terasa pengab dan sesak. Begitu banyak merchant yang menjual berbagai potion dan minum energy lainnya. Beberapa Blacksmith membuka lapak dengan menjual beberapa pedang hasil tempaan mereka,namun ada juga yang menjual berbagai perlengkapan dan benda-benda langka yang pastinya di dapat dari hasil berburu monster-monster yang tidak mungkin dilakukan oleh orang biasa.<br />
Swordman dengan bungkusan penuh noda darah itu pun sampai pada satu toko yang biasa membeli hasil dari perburuan para petualang di seluruh Rune Midgard dengan harga yang cukup relevan untuk para petualang yang membutuhkan uang, tapi menurut hukum para merchant di seluruh Rune Midgard “tak ada gunanya menjual pada pembeli yang mengatur uang kita”, oleh karena itu para merchant selalu menjual hasil buruannya dengan harga yang tidak wajar kepada para pembeli itu.<br />
“Selamat siang tuan Yugo Skyhate, apa yang anda bawa hari ini untuk dituker dengan beberapa zeny dari saya ^^” Ucap sang pedagang yang berada di ruangan itu.<br />
“Akh kau selalu saja mengejek ku,aku tidak pernah bisa membawa barang yang mahal dari hari ke hari. Tapi bawaan ku kali ini pasti akan mengagetkan mu,Richard!” Ucap Yugo dengan wajah yang dipenuhi oleh keringat.<br />
“Wow,jangan merendah seperti itu tuan Yugo, aku yakin anda pasti akan menjadi kuat dari hari ke hari dan mampu menjadi seorang Knight dengan kemampuan luar biasa, dan akhirnya bisa membawakan pada ku benda-benda yang bisa kuhargai cukup mahal hahaha. Wah aku tertarik untuk melihat apa yang bisa dibawa oleh swordman yang menjadi langganan ku ini hahaha.”<br />
Dengan wajah kusam dan semakin terlihat lelah dengan candaan dari Richard, Yugo segera mengeluarkan apa yang ada di dalam bungkusan yang penuh dengan bercak darah itu. Setumpukan Heart of Mermaid yang dipenuhi dengan darah yang sebagian sudah mengeras itu terpampang di depan wajah Richard.<br />
“Hahaha,tidak kusangka kau berburu di Byalan. Kupikir keberadaan para duyung itu hanya mitos,tapi tak kusangka kau berani masuk kedalam gua bawah air itu, cukup mengejutkan ku tuan Yugo. Baiklah,mau kau jual berapa hati para duyung ini? Karena kupikir ini bahan yang cocok untuk membuat ramuan,walau tentu saja tidak akan begitu mahal haha.” Terlihat muka Richard yang berseri-seri karena telah berhasil mengerjai Yugo dengan telak hari ini.<br />
“Kau ambil semua hati duyung ini, dank au beri aku 100ribu zeny dan aku akan segera pergi daru toko ini!” Ucap Yugo dengan nada tinggi dan sedikit terbawa emosi.<br />
“Tenang tuan yugo tenang, kau tau kan aku tadi hanya bercanda. Baiklah aku akan membayar sedikit lebih tinggi hari ini,kubayar kau 50ribu zeny untuk semua hati ini,walau sebenarnya benda-benda ini mungkin hanya layak kuhargai 20ribu, tapi karena kau telah menghibur ku di hari yang panas ini haha.”<br />
“Sialan kau Richard! Keluarkan uang mu sekarang dan aku akan segera pergi! Kau membuat suasana hati ku ikut panas di tengah hari ini!”<br />
“Haha,baiklah tuan Yugo Skyhate.” Dengan segera Richard mengambil beberapa lembar uang zeny dan menghitungnya. “ini uang mu Tuan Yugo,dan jangan pernah kapok untuk kesini lagi haha.”<br />
“aku tidak akan kapok kesini hanya karena ejekan tak berdasar mu itu, akan kubuktikan aku akan jauh lebih kuat dan akan semakin kuat dari hari ke hari. Oh iya,aku beli 1 buah magnifier, ada benda yang ingin kuteliti.” Ucap Yugo dengan wajah yang sudah kelelahan menanggapi semua omongan Richard.<br />
“Haha,ini kuberikan 1 buah magnifier gratis untuk mu,sekali lagi karena kau telah berhasil menghiburku hari ini haha.”<br />
“Kurang ajar kau Richard,ya sudah aku pergi sekarang.” Beberapa saat kemudian Yugo keluar dengan pintu yang ditutup dengan keras dan masih terdengar suara tawa Richard yang membuat Yugo semakin marah.<br />
“Hah,akhirnya aku pergi dari toko menyebalkan itu,sekarang saatnya mencari tempat teduh untuk beristirahat dan meneliti temuan ku saat berburu tadi.” Dengan cepat Yugo segera meninggalkan Prontera untuk mencari tempat teduh yang mampu dijadikan tempat beristirahat dan menikmati kesejukan alam di Rune Midgard. Akhirnya dia memutuskan untuk beristirahat di depan gerbang selatan Prontera,t tapi dia tidak ikut berkumpul di tengah keramaian orang-orang yang sedang berkumpul di dekat pos penjaga, dia lebih memilih untuk berada di sebelah barat gerbang di antara pepohonan dan memilih salah satu pohon untuk dijadikan tempat istirahat.<br />
Setelah memilih salah satu pohon, Yugo segera mengambil magnifier dan mengeluarkan benda yang dia temukan di Pulau Byalan itu, dengan segera Yugo memeriksa apa yang ia dapat itu. Tak beberapa lama senyum cerah menghiasi wajah muramnya. “ini Fin Helm!”<br />
“Sebaiknya aku segera beristirahat,nanti malam aku akan berburu lagi.” Kemudian Fin Helm itu dia masukkan kedalam tas dan ia pun segera terlelap setelah semua kejadian yang ia lalui setengah hari ini.<strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayasakarantaro.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayasakarantaro.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayasakarantaro.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayasakarantaro.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hayasakarantaro.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hayasakarantaro.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hayasakarantaro.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hayasakarantaro.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayasakarantaro.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayasakarantaro.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayasakarantaro.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayasakarantaro.wordpress.com/3/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayasakarantaro.wordpress.com/3/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayasakarantaro.wordpress.com/3/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=3&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/30/my-novel-ragnarok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0904ad1b67d382de9265b6c955eec43?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hayasakarantaro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Part II Ragnarok</title>
		<link>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/29/part-ii-ragnarok/</link>
		<comments>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/29/part-ii-ragnarok/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Dec 2009 02:56:17 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hayasakarantaro</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Own Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayasakarantaro.wordpress.com/?p=12</guid>
		<description><![CDATA[Part II They’re Coming “Yang Mulia Raja Tristan! Hamba hendak melaporkan kondisi Glast Heim saat ini!” Ucap seorang prajurit yang terlihat gelisah dengan baju besi dan jubah merah yang melambangkan pasukan kerajaan. “Cepat beritahukan apa yang kau lihat disana!” Ucap Raja Tristan III yang masih terlihat muda untuk ukuran seorang raja,dibandingkan mendiang raja-raja terdahulu, Raja [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=12&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Part II They’re Coming</strong></p>
<p>“Yang Mulia Raja Tristan! Hamba hendak melaporkan kondisi Glast Heim saat ini!” Ucap seorang prajurit yang terlihat gelisah dengan baju besi dan jubah merah yang melambangkan pasukan kerajaan.</p>
<p>“Cepat beritahukan apa yang kau lihat disana!” Ucap Raja Tristan III yang masih terlihat muda untuk ukuran seorang raja,dibandingkan mendiang raja-raja terdahulu, Raja Tristan III memang yang paling muda dalam menjabat sebagai seorang raja. Namun, dari semua mendiang raja terdahulu, beliau adalah raja yang paling bijaksana dan berwibawa sekaligus cerdas dan dihormati rakyatnya.</p>
<p>“Lapor yang mulia, tanda-tanda kebangkitan sang Pangeran Kegelapan telah muncul, bahkan para iblis pun sudah mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkitan seperti halnya yang terjadi pada Raja iblis Baphomet.” Ucap sang prajurit dengan tegas dan ketakutan,suaranya menggema keseluruh ruangan yang begitu besar itu. Ruangan dengan lambang kerajaan Rune Midgard dan bendera kota Prontera, kota yang menjadi pusat kepemimpinan di seluruh Rune Midgard itu tampak sunyi dan tampak sederetan prajurit penjaga yang berdiri tegak menjadi seperti hiasan patung yang bergerak yang membuat suasana menjadi tampak kelam.</p>
<p>“Segera perintahkan 4 Jendral tertinggi untuk segera mengadakan perekrutan Knight! Kita harus segera mempersiapkan pasukan terbaik untuk menggempur kerajaan iblis Glast Heim!” Ucap Raja Tristan dengan nada yang begitu berwibawa, suaranya menggema keseluruh ruangan sehingga dayang-dayang istana enggan untuk menampakkan diri.</p>
<p>Segera setelah perintah dari Raja Tristan menyebar ke cavalry  Knight di bagian tenggara kota Prontera, Sawyer, Rainer, Radman, dan Fausta,yang merupakan 4 Jendral tertinggi di Rune Midgard langsung mengumumkan bahwa akan diadakan perekrutan kepada seluruh Swordman yang ada di seluruh Rune Midgard. Seluruh Swordman yang telah memiliki cukup kekuatan akan mengikuti tes untuk menjadi seorang Knight, dan dengan hitungan jam, berita itu telah menyebar ke seluruh penjuru Rune Midgard melalui system pengiriman pesan dan barang Kafra.</p>
<p>Di salah satu pojok bagian barat kota Prontera, tampak 2 orang yang sedang berdebat keras. Tampak amarah dari masing-masing orang itu, pria yang satu adalah seorang swordman dengan rambut coklat pendek yang cukup rapi untuk kalangan swordman, dan yang satu lagi adalah seorang merchant yang sedang memegang sebuah pedang claymore bercorak merah di sepanjang mata pedangnya.</p>
<p>“Ayolah,tidak mungkin pedang seperti itu kau hargai 300ribu Zeny! Itu hanya pedang claymore yang belum di perkuat!” Ucap swordman tersebut dengan nada heran.</p>
<p>“Tuan ini dibilangin kok ngeyel! Ini adalah SSK Claymore elemen Api! Walau pedang ini belum diperkuat, tapi pedang ini sudah mengandung elemen api dan pada saat penempaannya sudah dicampur dengan material penguat bijih besi! Jadi pedang ini layak untuk dijual 300ribu zeny,bahkan bila anda mencari di kota dagang Morroc, disana pedang ini dihargai 800ribu Zeny!” Ucap sang merchant dengan nada tinggi dan kesal karena yang dihadapinya adalah swordman yang keras kepala.</p>
<p>“Hah? 800Ribu Zeny? Hooh po??” ucap swordman itu dengan nada tidak percaya.</p>
<p>“YO ORALAH! Kau pikir aku sebodoh itu menurunkan harga sampai segitu? Pedang seperti ini sudah jarang ditempa, kalaupun kau menemukan pedagang yang menjual ini di Morroc, mereka akan menghargainya tidak jauh dengan harga yang kuberikan saat ini, karena memang seginilah harga pasarannya!” kata merchant yang kesal namun terlihat sekilas senyum diwajahnya setelah berhasil membodohi swordman itu.</p>
<p>“Hah! Baiklah,dasar pedagang keras kepala! Aku beli pedang itu sekarang!” Dengan wajah muram swordman itu mengeluarkan setumpuk uang berjumlah 300ribu zeny kemudian menyerahkannya kepada merchant tersebut.</p>
<p>Akhirnya keributan yang terjadi antara mereka berdua berakhir dengan transaksi yang cukup merugikan bagi swordman namun menguntungkan bagi sang merchant.</p>
<p>Swordman itu kemudian berjalan menuju tengah kota Prontera untuk beristirahat di meja taman disebelah air mancur tengah kota Prontera. Sesampainya disana, dia melihat kerumunan orang-orang sedang berkumpul di depan papan pengumuman dan tampak 2 orang prajurit istana sedang menempelkan selembar kertas pengumuman. Salah satu prajurit itu pun membacakan isi pengumuman dengan keras agar seluruh orang yang berkumpul dapat mendengarnya.</p>
<p>“Di umumkan bahwa Cavalry Knight dan Defender Prontera mengadakan rekrutmen kepada calon-calon ksatria! Bagi para Swordman yang sudah memiliki kemampuan diharapkan mengikuti ujian yang akan diadakan besok siang di kamp Pelatihan Prajurit Prontera di bagian tenggara Prontera!” mengakhiri pengumuman yang dia berikan, prajurit tersebut kemudian menempelkan kertas tersebut ke papan pengumuman kemudian bergegas pergi.</p>
<p>Tampak beberapa Swordman akhirnya mngurungkan niatnya untuk ikut ujian karena keterbatasan kemampuan yang mereka kuasai, namun banyak juga swordman yang begitu tertarik dengan rekrutmen ini.</p>
<p>“Aku harus mengikuti ujian ini, tidak rugi aku sudah melatih semua kemampuan ku selama ini.” Ucap swordman yang baru saja memasukkan Claymore api barunya kedalam sarung pedang.</p>
<p>Di depan papan pengumuman,tampak seorang swordman lain dengan wajah yang terlihat tenang namun tegas, rambutnya berwarna kuning keemasan terurai dan sesekali melambai mengikuti tarian angin,  yang berusaha keluar dari kerumunan setelah melihat isi pengumuman tersebut, dia tampak tergesa-gesa untuk segera menuju gerbang selatan Prontera.</p>
<p>“aku harus segera memberitahukannya!” ucap Swordman tersebut sambil berlari.</p>
<p>Di sebelah selatan kota Prontera, Nampak seorang swordman yang berlari di antara pepohonan dan nampak sedang mencari sesuatu.</p>
<p>“Yugo!! Dimana kau! Aku ada berita berita penting! Dimana kauu??!!”</p>
<p>“Hoooam,aku disini -_-‘ Ada apa?” ucap Yugo Skyhate yang baru saja terbangun dari tidurnya.</p>
<p>“aku tadi melihat pengumuman! Besok siang akan diadakan Rekrutmen untuk Knight dan Defender! Kau harus ikut!” Ucap Swordman berambut emas tersebut.</p>
<p>“Jangan bercanda kau Dilwyn! Ada apa kok tiba-tiba cavalry Prontera mengadakan rekrutmen, bukankah bulan lalu mereka sudah mengadakan rekrutmen, jadi tidak mungkin mereka mengadakan rekrutmen lagi dalam jangka waktu secepat ini.” Ucap Yugo dengan mata yang tampak masih mengantuk.</p>
<p>“Tadi sebelum membaca pengumuman di tengah kota, aku sempat mendengar pembicaraan beberapa prajurit Prontera di bar. Mereka bilang, Raja Tristan III akan mengirimkan prajurit-prajurit terbaik untuk menggempur Glast Heim untuk menahan kebangkitan Pangeran Kegelapan Dark Lord.” Ucap Dilwyn</p>
<p>“Hmm,berarti ini saatnya kita bergabung dengan cavalry Prontera dan menunjukkan bahwa kita adalah salah satu yang terbaik, dengan kecepatan dan ketangkasan mu dalam bermain pedang, pasti dengan mudah kau akan menjadi seorang Knight yang terbaik.” Ucap Yugo yang sekarang tampak tidak mengantuk lagi.</p>
<p>“Aku sepertinya tidak akan menjadi Knight, aku akan tetap menjadi Swordman dulu. Tapi tenang saja, dengan kekuatan mu, kau pasti bisa menjadi Knight dengan mudah. Aku akan tetap berusaha bergabung dalam cavalry Prontera tanpa harus menjadi seorang Knight, dan kita akan menghancurkan Pangeran Kegelapan dengan kemampuan kita haha!” Ucap Dilwyn dengan tenang.</p>
<p>“ Kau ini dari dulu selalu saja mencari sensasi, tapi baiklah. Tunjukkan pada mereka bahwa kau layak untuk bergabung dalam cavalry tanpa harus menjadi Knight haha. Sepertinya kita harus banyak beristirahat untuk besok, tapi sebaiknya kita bersenang-senang dulu di bar! Aku yang traktir, kita berpesta sampai pagi haha!”</p>
<p>Akhirnya mereka berdua pun segera memasuki kota Prontera dan menuju Bar kota, yang tampak semakin ramai saat sore seperti ini.</p>
<p>Esok paginya, Matahari seperti biasa menyinari kota Prontera dengan kehangatan paginya. Tampak beberapa Swordman sudah berkumpul di kamp pelatihan Prontera dari pagi hari hanya untuk meminjam tempat berlatih. Di kejauhan pun Yugo dan Dilwyn sudah nampak berjalan menuju kamp pelatihan, lengkap dengan pedang dan perisai mereka masing-masing.</p>
<p>Tidak jauh di belakang Yugo dan Dilwyn, Nampak swordman yang kemarin baru saja membeli sebuah pedang Claymore berelemen api. Dia datang dengan baju besi yang cukup besar dan membuat tubuhnya begitu besar dibanding biasanya. Di pinggang sebelah kirinya tergantung Claymore api yang baru saja di belinya kemarin.</p>
<p>Tak lama setelah kerumunan swordman itu berbaris di depan kamp pelatihan Prontera, muncul beberapa prajurit yang kemudian berbaris di kiri kanan kamp, kemudian dari dalam gedung, muncul 4 Jendral Tertinggi Pasukan Keamanan Rune Midgard. Salah satu dari keempat itu maju kedepan barisan swordman dan memulai pembicaraan.</p>
<p>“Selamat datang para ksatria muda, perkenalkan nama ku Fausta Abisha, Jendral Divisi Pertama Tactics and Strategy dari Cavalry Prontera, di belakang ku dari kiri ku adalah Jendral Divisi Kedua Break and Destroy, Sawyer Lenice, lalu di sampingnya adalah Rainer Byron Jendral Divisi Ketiga Ambush and Assasinate, dan yang terakhir adalah Jendral Radman Paloma Divisi Keempat Searching and Explore. Kami hari ini akan menguji kemampuan kalian untuk menjadi seorang Knight dan Defender.” Ucap Fausta,tubuhnya tinggi kekar namun kebijaksanaan dan ketenangan terpancar dari wajah tuanya. Dengan kondisi rambut yang sebagian sudah berwarna putih, tampak sekali bahwa orang ini memiliki pengalaman yang begitu luas.</p>
<p>Jendral Sawyer Lenice adalah orang yang paling diam dan angkuh dibanding jendral lainnya, pandangan mata tajamnya melirik semua swordman yang ada di lapangan itu tampak seperti semut kecil yang bisa dengan mudah ia remukkan dengan sekali hentakan kaki, rambut hitam panjangnya membuat dia semakin terlihat misterius, Jendral Rainer Byron adalah orang yang sangat teliti hingga tingkat kerapiannya begitu tinggi, matanya besar dan cerah, rambutnya berwarna hitam dengan Bone Helm terpasang rapi di atas kepalanya. Yang terakhir adalah Jendral Radman Paloma, dia nampak kaku dengan pedang di pinggang kirinya dan sebuah peta yang selalu berada di tangan kirinya. Rambutnya berwarna merah darah, wajahnya masih muda dan tampak bahwa dia adalah Jendral paling muda di antara yang lain.</p>
<p>“Baiklah, tidak perlu berlama-lama lagi sebaiknya kita mulai saja tes rekrutmen ini, bagi Swordman yang ingin menjadi Knight, ikuti aku dan Jendral Sawyer, untuk swordman yang ingin menjadi Defender, ikuti Jendral Rainer dan Radman” Ucap Jendral Fausta.</p>
<p>“Tunggu Jendral!!!” Tampak seorang swordman berlari-lari dari kejauhan mendekati lapangan itu.</p>
<p>“Ada apa anak muda?” Ucap Jendral Fausta dengan penuh wibawa.</p>
<p>“Maaf saya terlambat, saya ingin mengikuti tes menjadi seorang Knight!” Jawab Swordman muda berwajah cerah dibalik kelelahannya itu.</p>
<p>“Haha,kupikir kau berlari-lari tadi ingin menyampaikan bahwa para orc menyerbu kota Prontera! Baiklah,siapa namamu anak muda?” Ucap Fausta</p>
<p>“nama saya Albern Murdock!” Ucap Swordman itu dengan nafas yang sudah mulai teratur.</p>
<p>Kemudian barisan swordman itu mengikuti pelatihan di tempat berbeda, pelatihan Knight dan pelatihan Defender dipisahkan karena pengetahuan dan pengalaman yang dibutuhkan berbeda.</p>
<p>“Ujian pertama mengenai kebijaksanaan kalian sebagai seorang pemimpin! Aku akan menguji kemampuan dan kecerdasan kalian” Ucap Fausta yang kemudian memulai ujian di hari itu.</p>
<p>Setelah beberapa jam berlalu, beberapa swordman tampak keluar dari gedung pelatihan Knight dengan murung. Namun selang beberapa menit kemudian,barisan swordman lain keluar dengan wajah tegang namun senang.</p>
<p>“Selamat,kalian telah lulus ujian dari ku, sekarang saatnya ujian kekuatan dan kemampuan kalian dalam bertarung. Ujian ini akan dipimpin oleh Jendral Sawyer!” Ucap Jendral Fausta kepada barisan swordman yang baru saja keluar dari gedung pelatihan dan sedang berbaris rapi di depan gedung.</p>
<p>“Kalian membentuklah lingkaran di sekeliling ku!” Perintah Sawyer dengan nada tenang, dari awal perkenalan tadi, dia tidak pernah mengucapkan satu kata pun. Suaranya begitu keras dan tegas hingga mungkin lalat pun akan diam ketika diperintah oleh dia.</p>
<p>“Sekarang aku akan memanggil kalian satu persatu untuk bertarung dengan partner kalian sekaligus memperlihatkan kemampuan kalian dalam pertarungan.” Ucap Sawyer.</p>
<p>“…..”</p>
<p>“…..Baiklah,berikutnya! Yugo Skyhate melawan Albern Murdock!” Ucap Sawyer dengan tidak peduli pada sebagian barisan swordman yang terluka karena pertarungan itu.</p>
<p>“Well,sekarang saatnya aku menunjukkan kemampuan ku. Doakan aku berhasil ya Dilwyn!” Ucap Yugo dengan tidak sabar kepada sahabatnya Dilwyn.</p>
<p>“Good Luck my brother! Kau pasti berhasil.” Ucap Dilwyn dengan tenang</p>
<p>Pertarungan dimulai dengan sabetan pedang panjang dari Albern. Yang dengan sigap ditangkis oleh Yugo. Beberapa jurus dikeluarkan oleh Albern untuk mendesak Yugo, dan nampak Yugo kewalahan menerima sederetan serangan yang dilancarkan oleh Albern.</p>
<p>“Wow, kemampuan mu luar biasa kawan! Perkenalkan aku Yugo Skyhate! Hiaaat! Magnum Break!” Yugo akhirnya memukul mundur Albern dan memberi ruang gerak yang cukup luas bagi Yugo untuk melancarkan serangan balasan.</p>
<p>“Luar biasa,kau mampu memukul ku mundur! Aku Albern Murdock tidak akan pernah kalah oleh serangan seperti ini! Provoke!” Ucap Albern sambil menyerang Yugo melalui serangan mental.</p>
<p>“Jurus seperti itu tidak akan mempan pada ku!” Teriak Yugo</p>
<p>Beberapa jurus dipadukan serangan mental yang luar biasa terjadi di tengah lapangan itu, suasana pertarungan semakin panas dengan kondisi matahari yang sudah berada di atas kepala.</p>
<p>“Akan kuakhiri dengan ini! BASH!!” Teriak Yugo setelah menyerang sekaligus menangkis serangan dari Albern. Seketika itu juga Albern kalah dan menunjukkan bahwa Yugo lebih kuat.</p>
<p>“Bagus sekalian berdua,kalian berdua aku ijinkan menjadi Knight!” Ucap Sawyer memecah keheningan.</p>
<p>“Albern, terima kasih kawan! Kau luar biasa, dan selamat untuk kita berdua!” Ucap Yugo sambil membantu Albern berdiri.</p>
<p>“Kau juga hebat Yugo Skyhate! Terima kasih haha!”Ucap Albern sambil menerima uluran tangan Yugo.</p>
<p>“Yang terakhir! Dilwyn Gruffydd melawan…!” sebelum Jendral Sawyer selesai mengucapkan kata-katanya, Dilwyn menyela dan berkata</p>
<p>“Jendral, saya tidak ingin menjadi seorang Knight! Saya hanya ingin bergabung dalam pasukan Cavalry Prontera!” Ucap Dilwyn yang membuat seluruh swordman kaget dan memandang tidak percaya padanya.</p>
<p>“Apa maksud mu? Kau ingin merendahkan nama Knight? Seberapa kuat hingga kau menolak tawaran menjadi seorang Knight?” Ucap Sawyer yang sekarang sudah berdiri menantang Dilwyn.</p>
<p>“Bukan seperti itu maksud saya jendral, saya hanya ingin menjadi seorang Swordman sejati.Bila anda ingin menguji saya,silahkan. Saya tidak keberatan.” Ucap Dilwyn dengan tegas.</p>
<p>“Baiklah anak muda, maju kau kedepan! Lawan mu adalah aku!” Ucap Jendral Sawyer sambil menghunuskan pedangnya.</p>
<p>Pertarungan pun dimulai dari serangan yang diluncurkan oleh Jendral Sawyer. Dengan beberapa jurus saja tampak bahwa Jendral Sawyer sangat jauh lebih unggul dibanding Dilwyn. Bahkan dengan sekali tebasan pedangnya, Jendral Sawyer mampu membunuh seekor BigFoot.</p>
<p>Namun ketika Dilwyn berada di ambang kekalahan,dia mengeluarkan jurus Bash dengan kekuatan luar biasa hingga Jendral Sawyer mundur seketika. Kesempatan ini dimanfaatkan Dilwyn untuk maju menyerang Sawyer, dengan serangkaian Bash yang dilancarkan oleh Dilwyn, Jendral Sawyer hanya mampu menahan hingga tiba-tiba pedang Jendral Sawyer patah dan ia jatuh tersungkur di tengah lapangan. Dan dengan mudah Diwyn mampu menghunuskan bilah pedangnya di antara leher Jendral Sawyer. Sorotan mata Dilwyn seperti orang yang sedang kerasukan iblis yang akan dengan mudah membunuh orang yang menghalangi niatnya.</p>
<p>“Maafkan saya Jendral!” Dengan seketika pedang yang berada di leher jendral itu ditarik kemudian disarungkan pada sarung pedang.</p>
<p>“Luar biasa, tidak pernah ada satu monster pun yang mampu mengalahkanku seperti ini. Baiklah, bila kau ingin bergabung dengan Cavalry Prontera tanpa harus menjadi seorang Knight, aku ijinkan. Dan kau akan menjadi anak didik ku hahaha!!” terlihat wajah Jendral Sawyer yang begitu kejam itu menjadi terlihat begitu bersahabat dengan senyum yang melebar diwajahnya.</p>
<p>“Terima Kasih Jendral!” ucap Dilwyn dengan gembira.</p>
<p>Di sore harinya, di umumkan semua swordman yang berhasil menjadi Knight, sekaligus para Swordman itu diangkat menjadi Knight secara resmi dan bergabung dengan Cavalry Prontera.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayasakarantaro.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayasakarantaro.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayasakarantaro.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayasakarantaro.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hayasakarantaro.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hayasakarantaro.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hayasakarantaro.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hayasakarantaro.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayasakarantaro.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayasakarantaro.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayasakarantaro.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayasakarantaro.wordpress.com/12/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayasakarantaro.wordpress.com/12/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayasakarantaro.wordpress.com/12/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=12&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/29/part-ii-ragnarok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0904ad1b67d382de9265b6c955eec43?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hayasakarantaro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Part III Ragnarok</title>
		<link>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/28/part-iii-ragnarok/</link>
		<comments>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/28/part-iii-ragnarok/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 28 Dec 2009 02:58:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hayasakarantaro</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Own Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayasakarantaro.wordpress.com/?p=15</guid>
		<description><![CDATA[Part III Next Stage “lama sekali mereka, seharusnya sekarang mereka sudah datang untuk penjelasan mengenai pengangkatan jabatan ini” Ucap Seorang Knight yang berdiri di depan kastil Prontera, rambutnya merah dengan helm besi yang berada di kepalanya. Peco-peco berwarna keemasan ada di sampingnya, segera setelah ia mendekati istal Peco-peco, ia ikatkan kendaraannya itu dengan rapi lalu [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=15&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Part III Next Stage</strong></p>
<p>“lama sekali mereka, seharusnya sekarang mereka sudah datang untuk penjelasan mengenai pengangkatan jabatan ini” Ucap Seorang Knight yang berdiri di depan kastil Prontera, rambutnya merah dengan helm besi yang berada di kepalanya. Peco-peco berwarna keemasan ada di sampingnya, segera setelah ia mendekati istal Peco-peco, ia ikatkan kendaraannya itu dengan rapi lalu pergi dan menunggu di depan gerbang kastil Prontera.</p>
<p>“Hoiii Albern!! Maaf kami agak sedikit terlambat! Tadi Yugo sempat mampir ke rumah mu dan saran di rumah mu, haha!” ucap seorang swordman yang cukup berumur untuk ukuran seorang swordman. Wajahnya bersih dan rambutnya terurai rapi dengan warna kuning keemasan yang begitu berkilau.</p>
<p>“haha, masakan istri mu memang selalu enak Albern! Tadi aku juga sempat bertemu si kecil Andrew, sudah umur berapa dia? Segera ajarilah dia menggunakan pedang haha.” Ucap Yugo yang sekarang nampak begitu gagah dengan baju Knightnya, helm besi menempel di kepalanya. Di telinganya tampak sebuah Fin Helm yang dulu dia peroleh ketika berburu di Byalan sudah bias ia pakai.</p>
<p>“Kalian ini selalu saja merepotkan istriku. Andrew ya,hmm sepertinya dia sudah berumur 1,5 tahun kalau aku tidak salah ingat haha. Aku takkan mengajarinya berpedang, biarkan anak itu mengikuti nalurinya ingin menjadi apa kelak. Ayo kawan-kawan, Raja Tristan sudah menunggu kita di dalam” Ucap Albern Murdock</p>
<p>Mereka bertiga pun langsung memasuki kastil dan menuju kedalam untuk menemui sang Raja Tristan III. Ruangan kastil masih dipenuhi dengan corak-corak dan ukiran-ukiran istana yang begitu mewah dan megah. Dayang-dayang istana berjalan kesana kemari dengan sibuknya, membawa berbagai makanan untuk hidangan pesta hari ini, entah kenapa hari ini suasana kastil begitu sibuk dan ramai menggunakan hiasan-hiasan yang tidak biasa digunakan.</p>
<p>Selang beberapa menit, mereka bertiga sudah sampai di ruang istana dimana sang Raja Tristan III duduk dengan wajahnya yang semakin terlihat tua. Kerutan wajah sudah mulai nampak di wajahnya, kantung mata menghiasi bagian bawah matanya, beliau tampak begitu kelelahan. Namun beliau begitu bersemangat dan ceria ketika melihat Yugo, Dilwyn, dan Albern memasukin ruangannya. Di samping kiri kanannya tampak 3 jendral tertinggi Prontera, Jendral Fausta Abisha, jendral Sawyer Lenice, dan Jendral Rainer Byron berdiri, wajah-wajah mereka sudah semakin tua dibandingkan sebelumnya, namun anehnya charisma yang di pancarkan tidak pernah berkurang bahkan semakin bertambah dari pada sebelumnya.</p>
<p>“Selamat datang tiga ksatria ku, aku senang melihat kalian disini. Pasti kalian tahu apa maksud aku mengundang kalian kesini, tapi biarkan Jendral Fausta yang menjelaskan semuanya, silahkan Jendral!” Ucap Raja Tristan dengan senyum yg begitu cerahnya.</p>
<p>“Terima kasih yang mulia! Sekali lagi kuucapkan selamat datang untuk kalian bertiga. Sudah sepuluh tahun semenjak kalian resmi menjadi bagian dari Cavalry Prontera, semenjak itu pula kalian sudah begitu berjasa dalam melindungi Negara ini terutama kota kita tercinta Prontera, saat ini umur kami para jendral sudah tidak muda lagi. Sekaranglah saatnya kalian bertiga kami angkat menjadi penerus kami, karena sekarang adalah saatnya kami untuk pensiun dan menikmati hari sebagai orang biasa bersama keluarga tercinta kami haha. Sebelumnya aku mewakili jendral-jendral lainnya mengucapkan maaf karena Jendral Radman Paloma tidak bisa datang, beliau sedang mengurus kasus para goblin di barat bersama pasukannya, dan penerus beliau pun bersama beliau. Mungkin bila mereka sudah kembali, kalian bisa berkenalan dengan penerus beliau. Sekarang saatnya yang Mulia untuk mengangkat mereka menjadi seorang Jendral, silahkan yang Mulia.” Ucap Jendral Fausta dengan tenang.</p>
<p>“Dayang-dayangku! Bawa masuk Ketiga pedang itu!” Perintah Raja Tristan pada dayang-dayang istana yang tampak menunggu di ruangan di samping ruang istana.</p>
<p>Selang beberapa detik, 3 dayang istana masuk dengan dengan membawa 3 Pedang  yang kemudian di serahkan kepada ketiga Jendral yang berdiri di samping sang Raja.</p>
<p>“Silahkan para Jendral untuk menyerahkan pedangnya kepada penerus masing-masing.” Ucap Raja Tristan.</p>
<p>Diawali dari Jendral Rainer Byron yang maju kedepan dengan memegang sebuah pedang berbilah panjang yang begitu indah dan begitu tipis.</p>
<p>“Albern Murdock, selama 10 Tahun ini kau telah menjadi orang yang begitu kuat dan bijaksana. Aku bangga sekali bisa bertemu dengan orang seperti mu, dan aku merasa yakin untuk meneruskan semua yang telah kulakukan ini pada mu, aku yakin kau pasti bisa lebih baik daripada aku. Kuserahkan Pedang Zweihander ini pada mu, dan mulai detik ini kau telah kuangkat menjadi Jendral Divisi Ketiga Ambush and Assasinate.” Ucap Jendral Radman dan mengakhiri kata-katanya dengan menyerahkan pedang itu kepada Albern.</p>
<p>“Terima kasih banyak Jendral, aku akan berusaha sebaik mungkin.” Ucap Albern Murdock yang masih berlutut di depan Jendral Radman.</p>
<p>Setelah Jendral Radman mundur, sekarang giliran Jendral Sawyer Lenice yang maju kedepan untuk menyerahkan pedangnya, di depannya seorang swordman telah berlutut dengan wajah yang ditundukkan ke tanah.</p>
<p>“Hadapkan wajah mu Dilwyn! Aku telah mengajari mu selama 10 tahun dan aku rasa sudah tidak ada lagi yang bisa kuajarkan padamu. Walau kau adalah seorang Swordman, aku tidak malu untuk melepaskan jabatan ku ini dan menyerahkannya padamu, karena dengan kemampuan mu itu, kau bahkan bisa mengalahkan Orc Hero sendirian hahaha! Sekarang, kuserahkan Pedang Mysteltain ini sebagai lambang bahwa kau telah menjadi Jendral Divisi Kedua Break and Destroy, namun aku masih menyarankan kepadamu untuk menjadi seorang Knight haha!” Tawa keras mengakhiri kalimat Jendral Sawyer.</p>
<p>“Haha,jendral terlalu melebih-lebihkan. Tapi maaf, saya masih belum menemukan kepuasan menjadi seorang swordman, dan saya belum merasa menjadi swordman sejati hehe.” Ucap Dilwyn yang sekarang sedang memegang pedang pemberian Jendral Sawyer.</p>
<p>Ketika Jendral Sawyer mundur dengan tawa yg membahana keseluruh ruangan istana itu, Jendral Fausta Abisha maju dengan membawa pedang nya. Dia berheti di depan Yugo Skyhate yang sedang berlutut.</p>
<p>“Yugo,tak banyak yang bisa aku ucapkan. Prestasi mu di Cavalry Prontera begitu luar biasa, bahkan para prajurit di kota lain mengakui bahwa kau adalah Ksatria yang tidak akan ada selama 1000 tahun kedepan, oleh karena itu aku bangga untuk menyerahkan jabatan ku ini kepada mu. Sekarang kuresmikan bahwa Yugo Skyhate adalah Jendral Divisi Pertama Tactics and Strategy. Pedang Excalibur ini adalah partner ku selama ini, dan aku yakin pedang ini akan sangat senang dimiliki oleh orang seperti mu.” Ucap Fausta sambil menyerahkan pedang dengan sebuah batu zamrud merah menghiasi bagian tengah pedang itu.</p>
<p>“saya yang sangat berterima kasih kepada jendral. Karena berkat jendral, saya mampu menjadi ksatria seperti sekarang ini. Bimbingan dan pelajaran yang jendral berikan takkan pernah saya lupakan.” Ucap Yugo yang tampak begitu bangga.</p>
<p>“Jendral baru sudah mendapatkan pedangnya masing-masing, nah sekarang saatnya kita berpesta!!” Ucap Raja Tristan yang sudah tidak sabar menikmati makan malam yang disiapkan oleh para dayang.</p>
<p>Beberapa bulan setelah pengangkatan para jendral baru itu, Raja Tristan menerima kabar bahwa Pangeran Kegelapan akan segera bangkit. Raja Tristan pun segera mempersiapkan semua pasukannya untuk segera menggempur kota Glast Heim. Pasukan dari Jendral Radman Paloma masih melakukan pencarian jalur tercepat dan aman untuk dilalui oleh pasukan dari divisi lain, semua berita tentang keadaan Jendral Radman dan pasukannya dikabarkan melalui elang pembawa pesan.</p>
<p>Di tengah ruang istana malam itu berdiri ketiga Jendral dari Cavalry Prontera yang sedang menyusun strategi bersama Raja Tristan untuk menyerbu kerajaan iblis Glast Heim.</p>
<p>“Aku tidak mengerti dengan berita yang dikirim oleh Jendral Radman, beliau belum juga mengabarkan siapa pengganti beliau. Dan beliau masih saja melakukan pencarian jalur aman menuju Glast Heim, apa beliau pikir bahwa dengan kondisi seperti itu beliau bisa saja terluka.” Ucap Yugo dengan cemas.</p>
<p>“Tenang Yugo, kita tahu memang dari keempat jendral. Hanya jendral Radman lah yang mengerti keadaan kontur wilayah diseluruh negeri Rune Midgard, jadi mungkin beliau masih memetakan seluruh wilayah negeri ini. Kita percayakan saja bahwa pengganti beliau itu adalah orang yang berwawasan luas dan mampu memimpin pasukannya.” Ucap Raja Tristan</p>
<p>“Benar Yugo, yang terpenting sekarang adalah berita yang kuterima siang hari ini. Jendral Radman mengabarkan bahwa jalur paling aman adalah melalui kota Geffen, melalui jasa penerbangan kafra kita bisa menghemat waktu untuk mencapai kota Geffen, dan kita bisa melakukan transit pasukan disana.” Ucap Albern.</p>
<p>“Dan dari sana, kita bisa dengan mudah mencapai Glast Heim dengan cepat. Jadi para Priest akan mudah mengobati orang-orang yang terluka.” Ucap Dilwyn.</p>
<p>“Baiklah kalo begitu, kita kesampingkan dulu masalah jendral Radman. Besok pagi kumpulkan semua pasukan dan kita berangkatkan mereka menggunakan jasa penerbangan kafra.” Ucap Yugo dan mengakhiri pembicaraan malam itu.</p>
<p>Di antara hutan mjolnir, tampak api unggun menari-nari di tengah gelapnya malam yang berada di antara pepohonan hutan Mjolnir. Beberapa prajurit masih sibuk dengan makanan yang mereka bakar di atas api unggun, beberapa orang tampak berkumpul di dalam sebuah tenda dengan penerangan yang paling terang diantara yang lain.</p>
<p>“Rai! Kemari! Ada yang ingin ku perlihatkan padamu!” Ucap seorang ksatria yang duduk dibaik meja kayu sederhana dengan penerangan di dekatnya, mejanya penuh dengan kertas-kertas bergambar daerah-daerah yang mungkin banyak yan belum mengetahui daerah apa itu. Wajah ksatria itu tampak kelelahan dan pucat, kumisnya tidak beraturan dan pakaiannya pun lusuh. Namun kharismanya sebagai seorang ksatria begitu terpancar dari sorotan matanya yang tenang.</p>
<p>“Ada apa Jendral Radman? Anda memanggil saya?” Ucap seorang Defender bernama Rai yang baru saja masuk tenda dengan tergesa-gesa. Baju besi besar sebagai cirri khas seorang Defender tidak lepas dari tubuhnya, itu yang membuat dia cukup susah bergerak di tengah tenda yang sempit itu.</p>
<p>“aku memperolah kabar yang baru saja datang melalui elang pembawa pesan, para Jendral di Prontera akan berangkat ke Geffen besok pagi menggunakan penerbangan Kafra. Mereka menginginkan hasil dari ekspedisi pasukan kita. Sebaiknya kau perintahka salah seorang pasukan mu untuk membawa peta Rune Midgard ini dan menyerahkan kepada mereka. Dan beritahukan bahwa pasukan kita akan menuju Glast Heim lebih dulu untuk membuka jalan dan membuat jalur agar mereka bisa dengan mudah menyerbu Glast Heim.” Ucap Radman Paloma yang dengan kerutan yang semakin tampak dengan penerangan sederhana dihadapannya.</p>
<p>“baik Jendral,akan segera saya perintahkan pada salah seorang pasukan saya!” Ucap Rai</p>
<p>“tunggu sebentar Rai! Jangan pergi dulu! Kalian para prajurit, keluarlah! Beristirahatlah, aku ingin berbicara dengan Rai.” Ucap Jendral Radman yang memerintahkan para prajurit penjaganya untuk keluar dan meninggalkan mereka berdua di dalam tenda.</p>
<p>“ada apa jendral, sepertinya ada hal penting yang ingin anda sampaikan.” Ucap Rai dengan nada yang penasaran dan sedikit cemas.</p>
<p>“beberapa bulan yang lalu, ketiga jendral Cavalry Prontera telah mengangkat penerus mereka. Seharusnya aku pun disana dan mengangkat salah seorang dari pasukan ku untuk menjadi pengganti ku, namun karena kita sedang dalam misi, maka kita pun tak bisa pulang dahulu ke Prontera. Dari semua prajuritku, tidak ada yang bisa aku rekomendasikan untuk menggantikan aku selain dirimu.” Ucap Radman dan membiarkan Rai berbicara.</p>
<p>“Apa maksud jendral? Saya belum paham dengan maksud pembicaraan jendral.” Ucap Rai</p>
<p>“Haha,selalu saja kau susah mengerti maksud pembicaraan seseorang. Kepolosan itu harus segera kau perbaiki agar kelak hal itu tidak membunuh mu. Saat ini, kau kupanggil kesini karena aku ingin mengangkat mu menjadi Jendral Divisi Keempat Searching and Explore menggantikan aku. Aku tidak mengharapkan kata tidak, karena sudah tidak ada waktu lagi untuk berdebat. Dan aku tidak akan mampu bertahan hingga perang besar melawan kerajaan Glast Heim terjadi.” Ucap Radman yang sekarang wajahnya tampak makin pucat.</p>
<p>“Ada apa dengan Jendral? Jendral hanya sakit biasa kan? Kenapa harus saya, bila masih banyak orang lain yang lebih kuat dibanding saya?” ucap Rai</p>
<p>“ aku memilih mu karena kau adalah Defender kepercayaan ku, saat ini penyakit keturunan yang aku derita sudah menggerogoti tubuh ku terlalu banyak, dan menurut para penyembuh istana, aku hanya akan bertahan sekitar 2 minggu lagi. Aku ingin mati dalam keadaan seorang ksatria, oleh karena itu aku tidak memilih untuk pulang ke Prontera dan menjalani pengobatan.” Ucap Radman dengan raut wajah yang begitu tenang.</p>
<p>“Kenapa jendral bersikeras seperti itu? Bila ada yang mampu mengobati penyakit jendral, sebaiknya kita segera menunda misi kita dan mengutamakan pengobatan jendral.” Bantah Rai dengan kecemasan yang semakin terlihat di wajahnya.</p>
<p>“Dengar Rai, aku sudah menetapkan keputusan ku. Aku memilih untuk mengabdikan hidupku pada Cavalry Prontera dan tidak menikah karena aku tidak ingin keturunan ku menderita penyakit ku ini. Jadi Rai, apa kau bersedia menjadi penerus ku?” Sekarang Jendral Radman berdiri dan mendekati Rai yang tampak menunduk dengan mata yang mulai berkaca-kaca.</p>
<p>“Jend…Jendral…Saya bersedia.” Ucap Rai dengan isak tangis yang mulai terdengar darinya, tetesan air mata tidak mampu lagi ia tahan.</p>
<p>“Baiklah, Rai Lightbringer! Malam ini, tanpa pesta apapun, tanpa perayaan atas ini semua, kau kuangkat menjadi Jendral Divisi Keempat Searching and Explore, dan Perisai Hylian ini akan menjadi lambang bahwa kau telah menjadi seorang Jendral. Defender yang akan selalu melindungi pasukan dan rakyatnya, dan akan rela berkorban demi semua hal yang ia sayangi!” Ucapan Jendral Radman pada malam itu benar-benar membuat perasaan Rai menjadi begitu cemas sekaligus bahagia atas apa yang ia terima.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayasakarantaro.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayasakarantaro.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayasakarantaro.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayasakarantaro.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hayasakarantaro.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hayasakarantaro.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hayasakarantaro.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hayasakarantaro.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayasakarantaro.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayasakarantaro.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayasakarantaro.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayasakarantaro.wordpress.com/15/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayasakarantaro.wordpress.com/15/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayasakarantaro.wordpress.com/15/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=15&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/28/part-iii-ragnarok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0904ad1b67d382de9265b6c955eec43?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hayasakarantaro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Part IV Ragnarok</title>
		<link>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/26/part-iv-ragnarok/</link>
		<comments>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/26/part-iv-ragnarok/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 26 Dec 2009 03:00:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hayasakarantaro</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Own Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayasakarantaro.wordpress.com/?p=17</guid>
		<description><![CDATA[Part IV City of Magic “sayang, semua perlengkapan mu sudah lengkap?” Ucap seorang wanita berambut panjang berwarna merah cerah dengan pakaian terusan panjang. Di tangan perempuan itu terlihat seorang bayi laki-laki mungil yang sedang tertidur. Bayi itu begitu lucu dengan rambutnya yang berantakan berwarna coklat. “maaf ya sayang, aku jarang bisa menemani mu menjaga Andrew. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=17&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Part IV City of Magic</strong></p>
<p><strong>“</strong>sayang, semua perlengkapan mu sudah lengkap?” Ucap seorang wanita berambut panjang berwarna merah cerah dengan pakaian terusan panjang. Di tangan perempuan itu terlihat seorang bayi laki-laki mungil yang sedang tertidur. Bayi itu begitu lucu dengan rambutnya yang berantakan berwarna coklat.</p>
<p>“maaf ya sayang, aku jarang bisa menemani mu menjaga Andrew. Selama 1,5 tahun umur bayi kita, aku jarang sekali bisa bermain bersama dia.” Raut wajah Albern begitu murung, dia yang tadinya sedang membereskan baju besinya, segera menghampiri istri dan anaknya. Dengan wajah yang begitu tenang ia membelai kepala Andrew kecil lalu mencium kening anak kesayangannya itu.</p>
<p>“sudahlah sayang, aku tahu kau lakukan ini semua demi negeri ini. Tapi dimanapun kau nantinya, kau akan selalu menjadi ksatria di hati ku.” Ucap istri Albern yang saat ini sedang membelai rambut suaminya itu. Sesekali bayi yang ada di gendongannya menggeliat dan terusik oleh suara di sekitarnya lalu dia tidur lagi.</p>
<p>Beberapa saat setelah itu, istri Albern melepas belaiannya dan beranjak menuju tempat tidur, ketika sudah mendekati tempat tidur, ia menidurkan bayi yang ada di tangannya di atas tempat tidur yang hangat. Kemudian ia berpaling dan mendekati suaminya itu lagi.</p>
<p>“sayang, apapun yang terjadi nantinya. Aku ingin kau pulang, aku tidak peduli seberapa parah kau terluka, yang penting kau pulang. Karena seberapa besar pun luka mu, aku pasti akan menyembuhkan mu.” Ucap istri Albern yang sekarang tampak berkaca-kaca, tangannya mengusap air mata yang hamper jatuh dari wajahnya. Ia hanya bisa berdiri di depan suaminya itu dengan gemetar.</p>
<p>Beberapa detik kemudian Albern memeluk tubuh istrinya dan membelai rambut panjangnya dengan perlahan. “sayang, aku akan kembali dan pasti kembali, walau pedang menancap di dadaku aku pasti kembali. Karena aku pasti akan melindungi kalian hingga aku mati.” Wajahnya yang kaku sekarang tampak begitu damai di pelukan istrinya. Ketika ia melepaskan pelukannya, ia pun mencium bibir istrinya dengan perlahan. Tangannya menggenggam tangan istrinya begitu erat seakan tidak pernah rela harus meninggalkan istri tercintanya.</p>
<p>Tampak air mata semakin jatuh dari wajah sang istri, ketakutan akan kehilangan suami tercinta membuat istri Albern semakin berat untuk membiarkan suaminya pergi.</p>
<p>“aku harus pergi sayang…” Ucap Albern yang kemudian melepas genggamannya dan beranjak mengambil baju besi nya yang sudah di siapkan di atas meja panjang di ruang tengah.</p>
<p>Beberapa menit yang berlalu hanya dengan diam dan sesekali terdengar gemerincing baju besi yang berusaha dipakai oleh Albern. Tak berapa lama setelah pakaian besinya lengkap terpakai, ia pun keluar rumah. Di depan rumahnya sudah tampak Yugo sedang menaiki peco-peco nya, dengan senyumnya yang selalu lebar tiap hari ia menyambut temannya yang baru saja keluar rumah itu.</p>
<p>Suasana di luar rumah begitu dingin dan tampak masih berkabut, walau matahari sudah memperlihatkan sebagian bentuknya, namun memang pagi ini begitu banyak kabut dan begitu dingin. Keadaan jalan begitu sepi dan belum terlihat orang lalu lalang, walau sesekali sudah terlihat beberapa merchant yang lalu lalang dengan gerobak di belakangnya untuk pergi berdagang.</p>
<p>“Hoi Albern! Ambil peco-peco mu dan ayo kita segera berangkat! Dilwyn sudah menunggu kita di kafra selatan.” Ucap Yugo yang sedari tadi menenangkan peco-peconya yang sedikit lincah itu.</p>
<p>“sebentar lagi cerewet! Aku baru mau mengeluarkan peco-peco ku dari istal. Tumben hari ini kau tidak datang pagi dan numpang sarapan disini. Beruntung hari ku tidak diawali dengan mendengar ocehan mu di saat jam makan.” Ucap Albern sambil berjalan menuju istal peco-peco di samping rumahnya.</p>
<p>Istri Albern yang tampak keluar rumah menggunakan selimut bulu tebal, dari tadi hanya bisa tersenyum dan sedikit tegang ketika melihat suaminya akan segera pergi. Perasaannya tidak tenang dan takut akan terjadi sesuatu pada suami tercinta nya itu.</p>
<p>“Sayang,aku pergi dulu ya!” Secercah senyum terpancar dari wajah Albern.</p>
<p>“Yoo, kami berangkat dulu yaa. Salam untuk Andrew!” Teriak Yugo yang sudah berangkat terlebih dahulu.</p>
<p>“Kau harus kembali sayang!” ucap istri Albern dengan perlahan dan dengan tegar dia menahan air mata yang hamper jatuh dari wajahnya, tangannya melambai pada suaminya yang sudah berada cukup jauh dari rumah mereka.</p>
<p>Di dekat Kafra sebelah selatan Prontera, telah nampak sederetan prajurit yang berbaris rapi untuk menggunakan jasa penerbangan kafra. Di depan barisan-barisan itu nampak Dilwyn yang sedang mengatur dan memberikan komando pada batalyon Knight yang berbaris rapis di hadapannya. Sangat aneh bila dilihat, seorang swordman mengatur ratusan Knight. Dan tanpa banyak pertimbangan para knight itu menuruti semua perintah swordman itu.</p>
<p>“Dilwyn!! Sudah siapkah semuanya??” Teriak Yugo dari kejauhan, derap suara kaki peco-peco yang ia naiki membuat kepulan asap yang cukup menyesakkan nafas. Di belakangnya terlihat  Albern menyusul menggunakan peco-peconya.</p>
<p>Segera setelah Yugo dan Albern menambatkan tali kekang peco-peconya di samping sebuah rumah, mereka berdua segera mendekati Dilwyn yang sedang mengatur keberangkatan para prajurit.</p>
<p>“bagaimana? Sudah siap semuanya?” Ucap Yugo yang sekarang terlihat serius dan bersemangat, Albern yang sedari tadi hanya diam tampak tegang mengingat dia harus meninggalkan istri tercintanya.</p>
<p>“Seperti yang kalian berdua lihat, semua pasukan sudah siap dan bisa segera kita berangkatkan.</p>
<p>Suasana kota Prontera begitu aneh pagi ini, ketika orang-orang masih terlelap dalam tidurnya, ratusan prajurit sudah berbaris di depan seorang pegawai Kafra Corp, memang perusahaan itu bekerja 24 jam dan memberikan pelayanan yang luar biasa memuaskan untuk semua orang. Walaupun bagi para merchant, biaya yang diminta oleh perusahaan Kafra itu begitu mahal.</p>
<p>“Nona Maureen, apakah kami bisa segera di berangkatkan. Aku tidak ingin penduduk merasa cemas dengan melihat ratusan prajurit yang akan diberangkatkan ini.” Ucap Yugo yang saat ini sedang berbicara dengan seorang pegawai kafra yang sedari tadi sibuk mempersiapkan segala kebutuhan untuk keberangkatan para prajurit itu.</p>
<p>“Sebentar Jendral Yugo, saya sedang membuka portal yang dapat dimasuki sekaligus oleh para prajurit ini. Akan kami usahakan agar tidak terlalu lama.” Ucap seorang pegawai kafra yang berambut panjang dan bando pita yang menjadi ciri khas para pegawai kafra terpasang di kepalanya. Selang 10menit, munculah sebuah portal sihir yang terbuka di depan sang Kafra.</p>
<p>“Jendral, portalnya sudah siap untuk digunakan. Portal ini akan membawa anda menuju kota Geffen.” Ucap Maureen kepada Yugo yang saat ini merasa takjub karena selama ini dia tidak pernah melihat portal sebesar itu. Beberapa detik dia kaget melihat kemampuan dari pegawai kafra itu, dia kemudian berbalik dan memerintahkan para prajuritnya untuk memasuki portal yang sudah terbuka di depannya.</p>
<p>Dengan gerakan yang tenang dan serempak, para prajurit itu satu persatu memasuki portal di depannya. Tak butuh waktu lama untuk melenyapkan para prajurit itu menuju dimensi lain yang akan membawa mereka ke kota Geffen. Setelah prajurit terakhir memasuki portal, ketiga Jendral yang dari tadi mengawasi dan mengatur para prajurit itu segera menyusul pasukan mereka yang sudah terlebih dahulu memasuki portal.</p>
<p>Suasana pagi di kota Geffen hari itu tidak terlalu ramai seperti biasanya, mungkin karena para merchant yang tidak terlihat di sana sini, memang pagi-pagi seperti ini biasanya banyak sekali mage-mage yang berjalan kesana kemari. Tapi hari itu tampaknya sedang ada ujian mage dan wizard, sehingga para novice yang ingin menjadi mage atau mage yang ingin menjadi wizard tidak banyak terlihat.</p>
<p>Menara kota Geffen yang begitu megah tinggi menjulang menembus angkasa itu nampaknya menjadi satu-satunya bangunan yang tampak hidup dibandingkan yang lain. Jendela di sekeliling menara itu tampak bercahaya menandakan bahwa para wizard masih terbangun dan entah apa yang sedang mereka lakukan. 2 buah Kristal Blue Sapphire mengitari menara itu secara magis, rotasi yang tak beraturan namun begitu indah ketika Kristal-kristal itu bercahaya diterpa oleh matahari.</p>
<p>Di sebelah selatan kota Geffen, yang tampak sepi dan tenang di antara bangunan-bangunan yang sudah tidak terpakai lagi, terdapat 2 orang wizard yang sedari tadi diam dan tenang memperhatikan sekitarnya. Salah satu dari mereka berambut putih bersih dengan kacamata bulat kecil yang terpasang di kedua matanya yang berwarna coklat tampak tampak bergumam dan mengucapkan sesuatu.</p>
<p>“ayo kita mundur, mereka akan segera datang.” Ucap wizard berambut putih itu.</p>
<p>Selang beberapa detik setelah wizard itu berbicara, tampak lingkaran portal sihir berwarna biru muncul di depan mereka, dan seketika ratusan prajurit knight pun keluar dari portal tersebut. Setelah semua prajurit keluar dari portal tersebut, tampak 3 orang lain menyusul dari belakang dan setelah mereka bertiga keluar dari portal tersebut, portal itu lenyap seperti tak pernah ada lagi dan keadaan menjadi biasa.</p>
<p>“Selamat datang di kota Geffen. Perkenalkan nama saya William Wilfred dan ini adik saya William Renault.” Ucap wizard berambut putih itu sambil menunjuk wizard disampingnya. Wizard itu berbeda dengan kakaknya yang tampak selalu tersenyum, Renault lebih terlihat angkuh bahkan tak peduli dengan siapa saja yang ada disitu. Dia rambutnya berwarna hitam dengan wajah yang keras dan bibir yang kecil yang membuatnya semakin terlihat angkuh.</p>
<p>“Fiuh, perjalanan yang menakjubkan haha. Owh, anda pasti wizard yang diperintahkan untuk menjemput kami? Perkenalkan, saya Jendral Yugo Skyhate, ini Jendral Albern Murdock, dan si swordman kecil ini adalah Jendral Dilwyn Gruffydd haha.” Ucap Yugo yang saat ini berada paling depan di antara Jendral-jendral lainnya.</p>
<p>“Salam kenal jendral, silahkan anda semua ikut saya. Saya akan membawa anda menuju menara kota Geffen, anda dapat beristirahat disana dan merencanakan segala sesuatunya. Elder Wizard memerintahkan kami untuk memberitahukan kepada anda bahwa nanti siang beliau akan menemui anda untuk merencanakan penyerangan Glast Heim.” Ucap Wilfred</p>
<p>Tanpa banyak pertanyaan dan kata-kata yang terlontar dari para knight itu, mereka dengan segera mengikuti 2 wizard itu menuju menara kota Geffen. Dari jauh menara itu tampak sebagai menara yang besar namun tidak terlalu besar dibanding bangunan-bangunan yang mereka temui di depan kota Geffen tadi, akan tetapi ketika mereka semua mulai mendekati menara itu, tak terasa bangunan itu tampak semakin besar dan akhirnya mereka sadar bahwa menara itu adalah satu-satunya menara sihir paling besar yang ada di seluruh Rune Midgard. 2 Buah Blue Sapphire yang mereka lihat di kejauhan itu sekarang sedang berputar-putar secara sihir mengelilingi menara itu. Bila di perhatikan lebih lama, kadang-kadang Kristal-kristal itu berpendar satu sama lain dan memancarkan cahaya misterius yang penuh dengan kekuatan sihir.</p>
<p>Beberapa warga sipil kota Geffen tampak sudah ada yang sedang bercengkrama di kursi-kursi di depan rumah mereka. Pandangan mereka di alihkan oleh serombongan pasukan Knight yang berjejer panjang menggunakan baju besi lengkap dan suara langkah mereka yang menimbulkan getaran sekaligus menimbulkan gemerincing suara besi yang beradu satu sama lain.</p>
<p>Pandangan para knight itu tetap focus ke depan dan tidak menghiraukan suasana di sekitarnya, pedang mereka tersarungkan di pinggang sebelah kiri. Wajah mereka kaku dan tegang dan tidak ada satu pun yang berbicara yang terdengar hanyalah langkah kaki mereka. Ratusan Knight berjalan menuju menara Geffen merupakan pemandangan yang sangat menakjubkan. Kota Geffen yang tenang dengan bangunan-bangunan yang lebih dominan berwarna cerah ini tampak kontras dengan adanya kemilau cahaya matahari yang dipantulkan oleh baju besi para knight itu, ratusan knight itu nampak seperti cermin raksasa yang dapat memantulkan segala jenis cahaya yang menerpa mereka.</p>
<p>Di dalam menara sudah terdapat banyak sekali pelayan yang segera mengantarkan para prajurit menuju kamar mereka masing-masing untuk beristirahat. Peco-peco para Jendral pun sudah berada di istal kota Geffen.</p>
<p>“Tuan-tuan silahkan ikut saya, kamar anda ada di lantai dua.” Ucap Wilfred kepada para Jendral</p>
<p>Mereka pun lalu bergegas menaiki tangga menuju lantai dua menara tersebut, bila diperhatikan interior di dalam menara itu cukup unik dan aneh. Mungkin karena selera para penyihir memang berbeda dengan manusia pada umumnya. Mereka lebih terkesan menyukai hal-hal yang terlihat gelap atau mencolok, seperti warna-warna yang terang sekaligus gelap. Desain di tembok bagian dalam menara terlihat kotor namun bukan karena jamur atau kotoran yang menumpuk, tetapi karena memang disihir seperti itu.</p>
<p>“tuan Renault, dari tadi saya perhatikan anda tidak berbicara sama sekali ada apa?” Ucap Dilwyn memecah keheningan.</p>
<p>Di tengah-tengah tangga menuju ke atas menara, tiba-tiba di pikiran masing-masing Jendral itu seperti ada yang ingin menembus dan berusaha menghancurkan pertahanan mental lemah yang dimiliki para jendral itu. Hal itu membuat para jendral tersebut berhenti dan seperti kehilangan kesadaran dan sibuk menghadapi perang mental yang luar biasa itu. Beberapa saat kemudian terdengar sebuah suara yang memenuhi pikiran mereka.</p>
<p>‘<em>maafkan atas kelancangan saya menembus pikiran anda semua, perkenalkan nama saya William Renault.’</em></p>
<p>“siapa itu yang berbicara?” Teriak Dilwyn yang merasa dirinya telah diserang oleh kekuatan sihir yang luar biasa. Ketiga jendral itu tanpa sadar mengeluarkan keringat dingin, mereka menyadari bahwa dengan mudahnya mereka bisa dikendalikan menggunakan kekuatan sihir yang misterius.</p>
<p>“tenanglah Jendral, itu tadi adalah Renault yang menggunakan kekuatannya untuk berbicara melalui pikiran kalian.“ Ucap Wilfred yang tampak juga mendengar suara pikiran dari adiknya itu.</p>
<p>‘Maafkan kelancangan adik ku ini yang sudah mengagetkan anda semua. Dan sekali lagi maaf aku lupa mengatakan bahwa adik ku ini tidak bisa bicara sejak dia dilahirkan di dunia. Tapi untungnya dengan kekuatan sihir, dia mampu berbicara melalui pikiran. Tapi sihir itu tidak bisa dilakukan dengan mudah,butuh konsentrasi tinggi untuk dapat meraih pikiran orang sekaligus berbicara melalui pikiran.” Jelas Wilfred dengan tenang dan kembali melanjutkan perjalanan.</p>
<p>“Luar biasa menarik. Mungkin nantinya kalian bisa mengajari kami cara untuk menggunakan sihir semacam itu, karena kurasa sihir itu sangat berguna bila dalam peperangan.” ucap Yugo yang saat ini jantungnya masih berdebar-debar.</p>
<p>“mungkin lain kali saya bisa mengajari sihir itu kepada anda.” Ucap Wilfred dengan tenang.</p>
<p>Setelah beberapa berjalan di antara tangga-tangga yang seperti tidak akan pernah habis ini, mereka berhenti di salah satu lantai yang kemudian menuju sebuah lorong yang di kiri kanannya terdapat beberapa pintu. Di akhir lorong, mereka menghadap sebuah pintu yang cukup besar. Pintu itu lalu dibuka dan didalamnya tampak beberapa kursi kayu dan meja kayu yang ditata cukup menawan sehingga menghilangkan kesan kumuh yang ditimbulkan oleh warna tembok itu. Anehnya, keadaan di dalam ruangan itu begitu dingin dan membuat kaca-kaca di beberapa bagian tembok tampak berembun.</p>
<p>“ini adalah ruangan yang sudah kami persiapkan untuk para Jendral agar anda semua dapat beristirahat. Maaf bila anda berkenan, saya akan membuat ruangan ini sedikit lebih hangat. Saya rasa disini terlalu dingin.” Ucap Wilfred kepada Yugo dan yang lainnya.</p>
<p>“silahkan saja, aku rasa disini memang sangat dingin.” Ucap Yugo yang sedang menggosok lengannya dan memeluk badannya sendiri.”</p>
<p>“Fireball!” ucap Wilfred, ketika ia selesai mengucapkan kata-kata itu tiba-tiba di genggamannya muncul sebuah bola api kecil yang berwarna merah membara, anehnya tangan Wilfred yang sedang memegang bola api itu sama sekali tidak terbakar. Dan dari raut wajahnya, Wilfred tidak nampak merasa panas bahkan dengan tenang ia mendekati sebuah pemanas ruangan yang didalamnya terdapat beberapa kayu bakar kering dan beberapa arang. Dengan perlahan ia memindahkan bola api itu kedalam pemanas ruangan itu, dan ketika api itu sudah berpindah ke dalam pemanas ruangan itu, kayu-kayu kering yang ada didalamnya terbakar dan membuat ruangan menjadi sedikit lebih hangat.</p>
<p>“sepertinya saya sekarang harus segera pergi, kami harus mempersiapkan segala sesuatu untuk nanti siang. Bila tuan-tuan ingin pergi keliling kota, kami sudah menyiapkan pemandu di bawah. Nanti siang akan kami jemput anda semua.” Ucap Wilfred yang sudah beranjak dari depan pemanas ruangan menuju pintu masuk ruangan itu. Di luar ruangan itu, Renault menunggu Wilfred dengan tenang.</p>
<p>“terima kasih atas bantuan kalian, kami sepertinya akan istirahat dahulu.” Ucap Yugo yang sekarang sudah melepas baju besinya yang nampak berat. Dilwyn saat ini sedang membaca buku-buku yang ada di rak buku di samping tembok ruangan tanpa melepas baju zirahnya. Albern pun sudah menuju tempat tidur dan membaringkan badannya disana.</p>
<p>Beberapa menit kemudian suasana ruangan itu menjadi senyap dan tenang, hanya suara baju besi milik Yugo yang terdengar. Setelah Yugo mengganti pakaiannya menjadi baju biasa dan menanggalkan baju besinya, ia pun pergi keluar ruangan.</p>
<p>“teman-teman, aku keliling kota dulu ya!” ucap Yugo sembari meninggalkan ruangan itu.</p>
<p>“hmm, aku sepertinya akan disini membaca beberapa buku yang cukup menarik ini sekaligus aku tidak akan meninggalkan Albern yang sedang tertidur itu.” Ucap Dilwyn yang sedari tadi sibuk membaca buku yang berjudul ‘<em>Sage’s Diary’ </em> itu.</p>
<p>Beberapa saat kemudian Yugo menutup pintu dan bergegas menuju lantai bawah. Kali ini dia sedikit terburu-buru menuruni tangga itu dan hamper saja terjatuh, untungnya ia masih sempat berpegangan dan dia hanya terpleset sedikit namun tidak terjatuh.</p>
<p>Di lantai bawah ternyata sudah terdapat seorang mage laki-laki berambut coklat dengan poni yang menutupi sebagian matanya. Ia nampak memperhatikan langkah Yugo dan menghampiri Yugo yang baru saja turun dari tangga.</p>
<p>“Maaf, apakah anda Tuan Yugo. Saya adalah mage yang akan memandu anda mengelilingi kota.” Ucap mage itu dengan sopan.</p>
<p>“tidak perlu, sebaiknya kau bersenang-senanglah. Karena aku ingin menikmati hari ini sendirian.” Ucap Yugo.</p>
<p>“errr…baiklah kalau begitu tuan Yugo.” Ucap si mage dengan cemas.</p>
<p>Namun Yugo tidak mempedulikan itu dan ia pun bergegas keluar dari menara itu. Di luar menara, matahari sudah mulai nampak dan menghangatkan suasana yang tadi terasa begitu dingin.</p>
<p>Yugo pun memulai perjalanannya menuju beberapa toko peralatan dan beberapa toko perlengkapan berburu. Beberapa kali ini menemui toko yang menjual berbagai gemstone yang sering digunakan oleh para penyihir untuk merapal mantera atau bahkan membuat mantera. Di luar kota tampak beberapa merchant menjual tongkat-tongkat sihir yang langka dan jarang dijumpai di toko-toko peralatan.</p>
<p>Cukup lama Yugo berkeliling kota Geffen, tiba-tiba ia berhenti di depan Sekolah Sihir Geffen. Bukan para novice yang lalu lalang di depan dan di dalam sekolah itu yang menjadi perhatian Yugo, namun seorang anak perempuan kecil berumuran sekitar 2 tahun dengan pakaian biasa. Diantara para novice yang sedang sibuk dengan tugas dari sekolah sihir, gadis kecil itu hanya diam sambil menjilati permen yang ada ditangannya. Yugo pun mendekati gadis kecil itu.</p>
<p>“adik kecil sedang apa disini? Sebaiknya adik jangan disini, mari paman antarkan kamu kerumah.” Ucap Yugo</p>
<p>Anak kecil itu hanya memandang Yugo dengan tatapan mata tajam dan tak berdosa. Matanya tajam dan berwarna biru cerah sercerah Kristal-kristal yang memutari menara Geffen. Tiba-tiba anak kecil itu berlari pergi dari Yugo tanpa mengucapkan sepatah kata pun.</p>
<p>“Haha,kau baru saja membuatnya pergi tuan.” Ucap seorang mage perempuan yang baru keluar dari sekolah sihir itu.</p>
<p>“errr, maaf aku telah membuat dia pergi. Aku hanya ingin mengantarkannya pulang, aku pikir bila ia ada disini dia akan terluka karena di tabrak oleh para novice ini.” Ucap Yugo</p>
<p>“haha,tidak apa-apa tuan. Anak itu memang tiap hari kesini, aku sendiri tidak tahu apa yang ia mau. Aku rasa dia ingin belajar sihir, tapi tidak ada sihir yang ia bisa pelajari saat umur segitu. Owh iya maaf, perkenalkan nama saya Volney Winona.” Ucap mage itu dengan senyum yang terkembang, wajahnya cantik dan memiliki kesan yang misterius, rambutnya pendek berwarna kuning pucat.</p>
<p>“wah, sepertinya aku telah membuat salah satu calon murid anda pergi dan mungkin tidak kembali lagi, haha. Perkenalkan, aku Yugo Skyhate.” Ucap Yugo.</p>
<p>“Miss Volney!! Ada yang membuat kekacauan di dalam! Mereka meledakkan tabung uji coba!” ucap seorang novice yang tampak berlari dari dalam ruangan menuju Volney.</p>
<p>“wah nampaknya anda sibuk sekali, sebaiknya aku juga segera pergi karena aku ada janji siang ini.” Ucap Yugo sambil tersenyum melihat tingkah para novice kecil ini.</p>
<p>“baiklah tuan Yugo, mungkin lain kali kita masih bisa bertemu lagi. Aku rasa kita pasti bertemu lagi, yah hanya sekedar perasaan ku saja. Oke Zens, dimana yang membuat keributan? Biar aku bereskan sini.” Ucap Volney yang kemudian berbalik dan memasuki gedung itu.</p>
<p>Yugo pun kembali melanjutkan keinginannya untuk melihat-lihat suasana di Geffen. Kota sihir itu benar-benar terasa penuh dengan kekuatan sihir di setiap sudut kotanya, tiap bangunan yang ada di kota Geffen selalu dihiasi dengan ukiran dan bentuk-bentuk aneh dari bahasa kuno yang merupakan sihir suci untuk melindungi rumah mereka dari serangan sihir. Di dinding pelindung yang mengelilingi kota Geffen terdapat berbagai macam mantera sihir dan butiran-butiran gemstone yang menancap di tembok tersebut. Menurut kabar, dinding pelindung kota ini dikelilingi oleh aliran sihir yang luar biasa besar untuk melindungi kota Geffen dari sihir yang terpancarkan dari Glast Heim, kota Geffen adalah satu-satunya kota baris pertama yang membatasi Rune Midgard dari Glast Heim.</p>
<p>Setelah mengelilingi hampir tiap sudut kota Geffen, Yugo pun kembali menuju menara dengan perasaan puas setelah melalui hari ini dengan bersenang-senang. Siang itu ia dan para Jendral lainnya di undang dalam jamuan makan siang yang cukup mewah dan meriah oleh Elder Wizard kota Geffen di ruangan bagian tengah menara sihir kota Geffen, ruang jamuan makan yang begitu luas dan indah dengan ukiran-ukiran emas yang bertuliskan mantera-mantera kuno.</p>
<p>Setelah para tamu menyelesaikan makannya, Elder Wizard itu pun memulai perbincangan untuk mengatur strategi penyerangan Glast Heim.</p>
<p>Beberapa jam di lalui dengan perbincangan mengenai persiapan yang telah dilakukan para penyihir di kota Geffen, dan Yugo juga menjelaskan apa saja yang sudah dipersiapkan prajurit-prajurit dari Prontera dan strategi yang sudah ia dan para Jendral lainnya rencanakan.</p>
<p>Perbincangan berakhir cukup malam sehingga para tamu undangan tampak begitu lelah dengan perbicangan yang cukup panjang itu. Setelah mengakhiri acara dengan bir, Yugo dan 2 Jendral lainnya beranjak menuju ruangan tempat mereka akan tidur.</p>
<p>Di dalam ruangan itu terdapat 3 tempat tidur terpisah di setiap kamar. Ketika mereka bertiga sudah memasuki kamar masing-masing, tampak hanya Yugo yang masih terbangun di malam itu. 2 orang temannya yang lain sudah tertidur pulas kelelahan. Matanya memandang langit-langit dengan raut yang begitu penasaran.</p>
<p>“Tatapan anak kecil itu begitu aneh, aku merasakan bahwa anak itu punya suatu bakat alami dalam sihir. Tapi aku tak tahu apa-apa tentang sihir, semoga saja dia menjadi apa yang dia inginkan.” ucap Yugo, setelah ia mengucapkan kalimat itu ia pun terlelap dalam tidurnya.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayasakarantaro.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayasakarantaro.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayasakarantaro.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayasakarantaro.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hayasakarantaro.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hayasakarantaro.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hayasakarantaro.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hayasakarantaro.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayasakarantaro.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayasakarantaro.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayasakarantaro.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayasakarantaro.wordpress.com/17/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayasakarantaro.wordpress.com/17/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayasakarantaro.wordpress.com/17/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=17&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/26/part-iv-ragnarok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0904ad1b67d382de9265b6c955eec43?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hayasakarantaro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Part V Ragnarok</title>
		<link>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/25/part-v-ragnarok/</link>
		<comments>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/25/part-v-ragnarok/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Dec 2009 03:01:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hayasakarantaro</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Own Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayasakarantaro.wordpress.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[Part V Recall the Memories Langit gelap selalu berada di atas kerajaan itu, walau tak pernah sekalipun turun hujan, namun awan mendung selalu menghiasinya entah siang atau malam. Keadaan bangunannya sudah hancur dan sudah mulai banyak lumut yang menempel di tiap bangunannya. Tumbuhan-tumbuhan liar hidup tanpa pernah terawat dengan baik. Dahulunya, kerajaan ini merupakan pusat [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=19&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Part V Recall the Memories</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Langit gelap selalu berada di atas kerajaan itu, walau tak pernah sekalipun turun hujan, namun awan mendung selalu menghiasinya entah siang atau malam. Keadaan bangunannya sudah hancur dan sudah mulai banyak lumut yang menempel di tiap bangunannya. Tumbuhan-tumbuhan liar hidup tanpa pernah terawat dengan baik.</p>
<p>Dahulunya, kerajaan ini merupakan pusat pemerintahan dari Rune Midgard. Namun karena kebengisan dan ketamakan sang raja pada saat itu, dewa Chaos mengutuk kerajaan ini sehingga runtuh. Sampai sekarang, tidak ada yang pernah tahu apa yang terjadi dengan sang raja. Mereka hanya tahu bahwa kerajaan itu telah berubah menjadi kerajaan para iblis terkutuk, rumornya bahwa sang raja tersebut masih memimpinnya namun dalam wujud sebagai Dark Lord sang Pangeran Kegelapan.</p>
<p>Hingga sekarang, mungkin tak ada satu orang pun yang pernah menginjakkan kakinya ke tanah Glast Heim. Walau mungkin ada yang berhasil sampai di Glast Heim, namun hampir tidak ada satu pun yang berhasil kembali dengan selamat. Berbagai monster dan iblis yang menjaga Glast Heim akan menghabisi siapapun yang memasuki kawasan kerajaan, sehingga tak satu pun orang yang ingin kesana. Kerajaan itu di bentengi oleh tembok besar yang mengelilingi seluruh area disana, walau tampak kumuh dan penuh dengan lumut, tembok -temboknya masih berdiri tegak tanpa terlihat rusak atau hancur.</p>
<p>Di bagian tengah dari area kerajaan Glast Heim itu, terdapat sebuah bangunan yang paling besar dibandingkan bangunan lainnya. Bangunan itu adalah kastil utama Glast Heim, walau dinding bangunannya banyak yang retak dan terasa hampir runtuh, akan tetapi masih tetap berdiri dengan kokohnya bahkan sangat kokoh sehingga sulit dipercaya bahwa bangunan ini sudah berdiri lebih dari 500tahun lamanya.</p>
<p>Di hari itu, tampak kastil utama adalah satu-satunya bangunan yang paling hidup dan terlihat seperti terjadi sesuatu didalamnya. Di luar bangunan tampak seseorang menggunakan jubah hitam yang menutupi kepala dan hampir sebagian tubuhnya. Kakinya di balut oleh pelindung besi yang membuatnya tampak tidak bisa bergerak dengan mudah, namun gerakannya masih tetap cepat walau terlihat bahwa bisa dengan mudah ia bisa jatuh bila menggunakan pakaian seperti itu. Ia memasuki kastil itu dengan langkah yang cepat namun teratur, anehnya sama sekali tidak terlihat para monster dan iblis yang kabarnya menjaga Glast Heim itu. Pria berpakaian hitam itu dengan mudah memasuki kastil tanpa ada halangan apapun.</p>
<p>Di dalam kastil tampak tidak terlalu terang, sinar matahari hanya masuk beberapa sentimeter dari celah-celah bangunan yang retak. Anehnya obor-obor penerang menyala tanpa pernah berhenti atau kehabisan minyak. Di beberapa bagian terdapat berbagai patung dan lukisan yang sudah tampak usang dan begitu berdebu, dengan tenang pria itu menaiki tangga yang membawanya menuju 1 pintu yang begitu besar. Ruangan depan bagian dalam kastil itu seperti kastil-kastil pada umumnya, yang membedakannya hanya keadaannya yang sudah sangat buruk dan hancur, debu dan sarang laba-laba terlihat di berbagai sudut ruangan. Banyak juga hiasan baju besi yang di rangkai sehingga terlihat seperti prajurit berbaju besi yang bergeletakan di lantai kastil.</p>
<p>Tanpa banyak bicara, pria itu membuka pintu besar dihadapannya dan masuk ke dalam. Dibandingkan dengan ruangan lain yang ada disamping kiri dan kanan pintu itu, tampak bahwa ruangan satu ini adalah yang paling besar dan paling megah yang pernah di bangun sepanjang 500tahun terakhir ini. Ketika pria itu memasuki ruangan yang baru saja ia buka, ia langsung di hadapkan pada 2 tangga besar di kiri dan kanan yang menuju ruangan paling atas yang merupakan singgasana sang raja dari kerajaan Glast Heim. Dengan gerakan yang begitu cepat, pria itu melompat dan menghilang dalam beberapa detik. Dan dalam waktu kurang dari 2 menit ia sudah berada di depan singgasana raja yang tampak usang di bagian paling atas ruangan kastil. Di sekliling ruangan tampak di terangi oleh cahaya obor yang menari-nari dan seakan takkan pernah mati.</p>
<p>Singgasana itu terdiri dari 2 kursi berwarna merah darah yang sudah tercampur dengan berbagai debu dan sarang laba-laba. Area ruangan di sana sangat besar dengan beberapa dinding yang nampak sudah runtuh dan membuat keadaan ruangan menjadi begitu kotor dan padat oleh reruntuhan bangunan bagian dalam. Pria itu berdiri menghadap singgasana dan mulai mengucapkan sesuatu yang terdengar aneh.</p>
<p>“mereka sudah bersiap menyerang kastil ini tuan, apakah tuan tidak ingin mengerahkan pasukan untuk menyerang mereka?” ucap sang pria sambil berlutut di depan singgasana yang kosong itu.</p>
<p>Tiba-tiba angin mulai berhembus, dinginnya begitu menusuk hingga ke tulang.terlihat sekilas pria berjubah hitam itu menggigil kedinginan. Api dari obor-obor di dinding tampak bergoyang kencang namun tidak mati. Lingkaran debu berwarna hitam mulai mengelilingi singgasana di depan pria itu. Dalam hitungan beberapa detik saja seseorang dengan tubuh yang cukup besar berada di hadapan pria berjubah hitam itu muncul dan segera duduk di singgasana.</p>
<p>“dengarkan baik-baik, biarkan mereka menyerang. Jika mereka ingin menghancurkan ku sebelum aku sempurna, biarkan saja. Karena aku butuh mereka untuk kebangkitan ku, tugas mu hanya mengawasi mereka saja.” Ucap laki-laki yang duduk di singgasana, suaranya besar dan menggema di seluruh ruangan.</p>
<p>“baik tuan, saya mengerti” selesai mengucapkan kalimat itu, pria berjubah itu hilang.</p>
<p>“Dengan kedatangan mereka,aku mampu menciptakan Ragnarok dan aku pasti bisa menguasai Rune Midgard dengan benda itu! Hahahaha!!” Tawa laki-laki itu membahana sekaligus lenyap pula pria itu dengan angin hitam yang berhembus.</p>
<p>“Jendral! Glast Heim sudah dapat kita lihat dari sini!” teriak seorang prajurit yang berada di garis depan.</p>
<p>“Jendral Radman, anda masih dapat bergerak kan? Di depan Glast Heim sudah dapat terlihat, sebaiknya kita beristirahat dulu semalam disini” Ucap Rai Lightbringer yang sedang membopong Jendral Radman.</p>
<p>“Rai, aku sudah ingatkan berapa kali? Kau sudah resmi menjadi Jendral sekarang, para pasukan mu juga sudah tahu itu, jadi buat apa kau memanggil ku jendral lagi?” ucap Radman dengan wajah yang terlihat pucat.</p>
<p>“selama Jendral masih hidup dan masih bergabung dalam barisan pasukan ini, aku tidak akan pernah mau disebut sebagai jendral.” Ucap Rai</p>
<p>Barisan pasukan itu terlihat mulai menerobos hutan Mjolnir barat untuk membuka jalan menuju Glast Heim. Keadaan gunung Mjolnir yang tidak rata membuat pergerakan pasukan ini menjadi lambat dan membutuhkan waktu lama untuk mencapai Glast Heim. Suasana siang itu cukup sejuk dengan keadaan hutan yang dingin sehingga menetralkan terik matahari.</p>
<p>Tiba-tiba ketika mereka berusaha untuk keluar dari hutan yang rapat menuju daerah lapang untuk membangun tenda peristirahatan, terlihat beberapa Sky Petite yang sedang terbang di atas hutan. Hewan naga berwarna abu-abu itu melihat rombongan pasukan itu dan mulai menyerang mereka.</p>
<p>Keadaan pasukan sempat kacau dengan serangan yang mendadak itu, namun dengan sedikit perjuangan mereka berhasil mengusir para Sky Petite itu, namun belum pulih dari keadaan yang kacau setelah diserang oleh Sky petite itu, mereka tiba-tiba dikagetkan oleh suara yang misterius dan begitu menusuk pendengaran.</p>
<p>“Wah, senang sekali aku bisa bertemu mangsa seperti ini saat aku hendak bertemu sang Raja Kegelapan.” Terlihat seorang Wanderer muncul dari balik salah satu pohon di depan para prajurit itu, Wanderer adalah iblis dari samurai jaman dahulu yang mati dalam perjalanannya untuk berkelana. Konon saat mereka masih hidup, kemampuan berpedang mereka merupakan kemampuan pedang yang diturunkan oleh para iblis dan memiliki hawa kejahatan, sehingga ketika mereka mati mereka berubah menjadi iblis tanpa nama yang disebut sebagai Wanderer.</p>
<p>“Gawat, walau hanya seorang Wanderer, namun dia bisa dengan mudah membunuh kita dengan keadaan pasukan kita yang terluka seperti ini.” Ucap Radman kepada Rai.</p>
<p>“biarkan aku yang melawannya jendral, dengan kekuatan suci Dewi Valkyrie dan kekuatan Holy yang aku miliki, aku pasti bisa mengalahkannya.” Ucap Rai dengan meletakkan Radman di salah satu pohon dan membiarkannya bersandar pada pohon tersebut.</p>
<p>Melihat keadaan Rai yang belum siap untuk bertarung itu, sang Wanderer memanfaatkan kesempatan untuk menebas kedepan menuju Rai. Dalam tebasan itu, ia berhasil membunuh beberapa prajurit yang berada di depan sang Wanderer dan terlihat tidak siap menerima serangan. Mayat-mayat itu ditinggal begitu saja oleh Wanderer itu, ia lebih focus untuk menebas Rai. Dalam beberapa detik pergerakan yang begitu cepat, ia berhasil mengayunkan pedangnya ke arah Rai yang tampak belum sempat meraih pedangnya. Namun Perisai Hylian miliknya berhasil menangkis serangan Wanderer itu dan membuatnya mundur beberapa langkah</p>
<p>“Kurang ajar kau! Beraninya membunuh pasukan ku!” Teriak Rai yang kemudian mencabut pedangnya dan maju menyerang sang Wanderer.</p>
<p>Dengan gerakan yang begitu cepat, Wanderer itu seperti lenyap dari hadapan Rai dan tampak sudah berada di depan Jendral Radman yang terbaring tak berdaya. Dengan satu gerakan saja pedang katananya sudah berada di samping leher Jendral Radman yang saat ini tidak mampu untuk melawan.</p>
<p>“Heh kau Defender, kalau kau berani maju selangkah saja. Jendral mu ini akan mati di tanganku.” Dengan satu gerakan tangan saja, Wanderer itu mampu membuat seluruh pasukan utnuk tidak bergerak dan hanya mampu melihat apa yang akan dilakukan si Wanderer terhadap Jendral mereka itu.</p>
<p>“Radman Paloma, kudengar kau adalah Jendral yang paling cerdas dan paling muda di antara Jendral lainnya. Namun kau sekaligus yang paling lemah di antara yang lain, karena kau tidak bisa bertarung sama sekali. Aku hanya ingin mengambil kalung yang ada di leher mu ini, karena tanpa ini benda itu takkan bisa berfungsi.” Ucap sang Wanderer kepada Jendral Radman yang tampak begitu tersiksa dengan sakitnya yang membuat tubuhnya semakin tidak bisa bergerak.</p>
<p>Wanderer itu dengan mudah menarik kalung yang berada di leher Radman. Dalam keadaan yang tidak siap itu, Rai melemparkan perisainya.</p>
<p>“Shield Boomerang!!” teriak Rai yang dengan kuat melemparkan perisainya ke arah Wanderer itu. Dalam beberapa detik,perisai itu telah sampai dan terlihat akan menghantam tubuh sang Wanderer. Namun anehnya perisai itu seperti menyerang angin. Setelah menembus tubuh Wanderer itu, perisai tersebut kembali ke tangan Rai.</p>
<p>“sudah kubilang untuk tidak menyerang kan?” selesai mengucapkan kalimat, sang Wanderer menebas tubuh Jendral Radman yang tidak berdaya.</p>
<p>Jendral Radman yang sedang dalam keadaan sakit dan tidak dapat menggerakkan badannya dengan cepat, menerima tebasan dari sang Wanderer dengan tak berdaya. Luka panjang membentang dari pundak sebelaah kirinya menuju pinggang sebelah kanan membentuk garis panjang yang berwarna merah cerah. Darah mengalir dari luka sabetan itu, tampak tenaga sang jendral semakin lemah.</p>
<p>“sepertinya urusan ku disini sudah selesai, sebaiknya aku segera kembali ke Glast Heim. Sampai bertemu tuan Defender.” Ucap Wanderer itu yang seketika menghilang beserta angin yang berhembus.</p>
<p>Dengan tergesa-gesa Rai mendekati Radman dan membuang perisainya ke tanah. Wajahnya begitu pucat melihat jendral yang ia kagumi tergeletak tak berdaya di bawah pohon dengan berlumuran darah, wajah Radman tampak tenang namun begitu pucat. Para prajurit di sekelilingnya hanya mampu berlutut tak berdaya melihat bekas jendral mereka tak bergerak. Beberapa prajurit tampak mendekati dan membuat lingkaran mengeliling tubuh Radman yang tampak lemah itu. Berbagai ekspresi kesedihan terpancar di wajah para prajurit itu.</p>
<p>“Jendral! Jendral jangan pergi! Jendral bangun!!” teriak Rai yang saat ini memeluk tubuh Radman yang tak berdaya,nampak air matanya menetes di kedua pipi Rai.</p>
<p>Nafas Jendral Radman masih berhembus tak beraturan,detak jantungnya begitu cepat. Wajahnya yang pucat tampak tak berdaya di bawah wajah Rai yang bergetar menangis.</p>
<p>“Ra…i! seperti yang…aku katakan waktu itu…waktu ku sudah habis,dan sekarang…adalah saatnya kamu memimpin pasukan ini…” Ucap Radman yang dari hidungnya tampak menetes darah merah segar.</p>
<p>“Jendral! Jangan mati! Aku memiliki ilmu penyembuhan,aku akan menyembuhkanmu Jendral! Bertahanlah!” ucap Rai dengan tangis yang semakin menjadi.</p>
<p>“Rai…sudahlah,walau luka ku ini sembuh…aku tidak mungkin bisa sembuh dari penyakit ku. Sekarang lebih baik dengarkan kata-kata ku ini….Kalung yang Wanderer itu ambil…. adalah kalung dengan permata Cassiopeia… dengan permata itu Raja Kegelapan dapat membangkitkan iblis terkuat di Rune Midgard…. iblis itu jauh lebih kuat dibanding Raja Kegelapan itu sendiri, aku yakin Dark Lord itu takkan mampu memperintah iblis ini….hhhh.” Ucap Radman yang saat ini semakin kehilangan tenaganya. Desah napasnya semakin memburu dan tak beraturan.</p>
<p>“lalu apa yang harus aku lakukan jendral?” ucap Rai yang semakin nampak cemas melihat keadaan jendralnya itu.</p>
<p>“perintahkan pasukan penyerbu untuk menghancurkan permata Cassiopeia itu…. permata itu adalah permata yang dapat membuat siapapun pemiliknya menjadi iblis…. Hanya keluarga Paloma yang mampu mengendalikan iblis pada permata itu….” Ucap Radman dengan terengah-engah.</p>
<p>“Baik jendral,akan aku perintahkan. Namun jendral,bertahanlah! Jangan pergi, ini hanya luka ringan!” Ucap Rai yang tampak putus asa melihat keadaan Radman. Dengan wajah yang penuh dengan air mata dan isak tangis,ia mencoba mempertahankan keinginan untuk hidup dari Radman.</p>
<p>“bagus Rai, dengan begini aku bisa pergi dengan tenang…. Jaga dan lindungilah selalu rakyat mu Rai… karena iblis takkan pernah mati dan akan selalu bangkit…. Ingat…hhh,lakukan segalanya walau kau harus membunuh sahabatmu…. saat sahabatmu sudah beralih membantu para iblis…. Tak ada manusia di dunia ini yang bisa tahan dari godaan para iblis….hhh, sucikan hati mu dan sucikan hati semua orang….” Ucap Radman dengan senyum terakhir terpancar dari wajahnya.</p>
<p>Ketika ia selesai mengucapkan kalimat itu, nafasnya berhembus untuk terakhir kalinya dan matanya tertutup perlahan. Tangis dari Rai membuat seluruh hutan terasa begitu sunyi dan hanya raungan kesedihan dari Rai yang terdengar. Air matanya membanjiri seluruh wajahnya dan membuat seluruh pasukan ikut dalam kesedihan yang begitu mendalam.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayasakarantaro.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayasakarantaro.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayasakarantaro.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayasakarantaro.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hayasakarantaro.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hayasakarantaro.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hayasakarantaro.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hayasakarantaro.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayasakarantaro.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayasakarantaro.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayasakarantaro.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayasakarantaro.wordpress.com/19/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayasakarantaro.wordpress.com/19/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayasakarantaro.wordpress.com/19/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=19&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/25/part-v-ragnarok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0904ad1b67d382de9265b6c955eec43?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hayasakarantaro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Part VI Ragnarok</title>
		<link>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/24/part-vi-ragnarok/</link>
		<comments>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/24/part-vi-ragnarok/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 24 Dec 2009 03:03:36 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hayasakarantaro</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Own Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayasakarantaro.wordpress.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[Part VI Big War Kota Geffen pagi itu cukup ramai dengan gerombolan mage yang berjalan mondar mandir mengelilingi kota menyiapkan berbagai bahan untuk ujian mereka. Para merchant di sudut-sudut kota Geffen tampak membuka lapak untuk berjualan berbagai macam perlengkapan untuk berburu. Di tengah keramaian itu, mereka di kagetkan dengan barisan pasukan Knight yang muncul dari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=21&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><b>Part VI Big War</b></p>
<p><b> </b></p>
<p>Kota Geffen pagi itu cukup ramai dengan gerombolan mage yang berjalan mondar mandir mengelilingi kota menyiapkan berbagai bahan untuk ujian mereka. Para merchant di sudut-sudut kota Geffen tampak membuka lapak untuk berjualan berbagai macam perlengkapan untuk berburu.</p>
<p>Di tengah keramaian itu, mereka di kagetkan dengan barisan pasukan Knight yang muncul dari dalam menara utama kota Geffen, 3 Jendral berada di barisan paling depan menggunakan peco-peco milik mereka. Berbagai orang tercengang melihat begitu banyak Knight berjalan beriringan seperti dalam parade. Ketakutan dan kecemasan terpancar dari tiap sudut wajah mereka, banyak yang bingung dengan kondisi yang begitu tenang ini namun ratusan knight beriringan menuju pintu pintu barat kota Geffen.</p>
<p><i>‘Wahai para warga kota Geffen, janganlah cemas dengan apa yang kalian lihat. Aku Elder Wizard, mengumumkan bahwa para ksatria itu ada disini untuk melindungi kita dari kebangkitan sang Raja Kegelapan. Kota Geffen adalah garis depan dari seluruh Rune Midgard, sehingga untuk menahan kebangkitannya, Raja Tristan telah mengirimkan prajurit terbaik mereka untuk menyegel kembali Raja Kegelapan’ </i>terdengar suara yang menggelegar yang meraungi tiap telinga warga di kota Geffen, ilmu berbicara dengan pikiran ini begitu kuat sehingga seluruh warga yang ada di Geffen dapat mendengar suara dari Elder Wizard.</p>
<p>Para warga yang tampak berkumpul melihat iringan tampak menjadi tenang dan beberapa mulai berteriak memberi semangat pada prajurit yang akhirnya sorakan-sorakan itu menjadi pengiring para prajurit yang saat ini sudah berbaris dengan rapi di pintu barat kota Geffen. Ketiga jendral yang berada di barisan depan tampak tegang dengan wajah kaku mereka, di depan gerbang barat nampak 2 orang wizard, William Wilfred dan William Renault sedang berdiri menanti kedatangan para prajurit itu.</p>
<p>“Jendral, apakah pasukan sudah siap untuk berangkat sekarang?” ucap Wilfred yang nampak sudah bersiap2 dengan tongkat sihirnya, disampingnya Renault terlihat tenang dengan jubah wizard yang menutupi kedua tangannya.</p>
<p>“Lebih baik kita berangkat sekarang, karena aku tidak ingin membuat prajurit ku menjadi kehilangan konsentrasi karena pawai dadakan ini.” Ucap Yugo yang nampak telah bersiap dengan peco-peco miliknya.</p>
<p>“aku pikir juga sebaiknya kita berangkat sekarang, karena aku semalam mendengar kabar bahwa pasukan dari jendral Radman sudah berhasil mencapai Glast Heim, dan sudah membuat jalur untuk prajurit kita menembus Glast Heim, jadi sebaiknya kita segera berangkat. Aku perkirakan kita bisa mencapai Glast Heim dalam waktu kurang dari 2 hari bila melewati jalur yang di buat pasukan jendral Radman.” Ucap Albern yang diikuti Dilwyn yang mengangguk di belakangnya.</p>
<p>Tanpa banyak berkata-kata lagi, dengan diiringi Wilfred dan Renault mereka semua keluar dari kota Geffen melalui gerbang barat Kota. Derak langkah para prajurit begitu keras walau teriakan semangat yang semakin banyak mengiringi mereka. Wajah para prajurit itu tenang bagaikan mereka telah siap mati untuk melindungi seluruh Rune Midgard dari para iblis itu.</p>
<p>Segerombolan pasukan knight dengan pakaian yang sudah kotor dan lusuh terlihat sedang mengendap-endap di samping dinding pelindung Glast Heim, wajah mereka begitu tegang dan cemas. Di depan para knight itu tampak defender Rai Lightbringer yang sedang mengawasi gerbang Glast Heim denan tenang dan tegang. Sedikit demi sedikit, rai mendekati gerbang itu dan melihat keadaan di dalam kerajaan itu.</p>
<p>Tampak keadaan di dalam pekaangan Glast Heim begitu sepi dan hanya terlihat bangunan-bangunannya yg berantakan di tambah tumbuhan-tumbuhan yang hidup tak terawat disana. Rai kemudian beranjak dari tempat pengintaiannya dan berjalan dengan tenang ke dalam kawasan Glast Heim diikuti oleh pasukannya. Rai tampak khawatir melihat keadaan Glast Heim yang begitu tenang dan bahkan sepertinya para iblis itu tidak pernah ada di Glast Heim ini.</p>
<p>Pasukan knight yang dipimpin Rai itu berjalan menelusuri bangunan-bangunan GLast Heim satu persatu hingga mereka mencapai kastil utama Glast Heim. Melihat kondisi di sekitar kastil itu begitu tenang, Rai memutuskan untuk memasuki kastil itu. Saat ia dan pasukannya hendak melangkah ke dalam kastil, terdengar derap langkah kuda yang begitu menggetarkan tanah. Keadaan pasukan Rai pun menjadi siaga dan siap bertempur kapan saja.</p>
<p>Tak berapa lama setelah mereka merasakan derap langkah kuda yang begitu keras itu, keadaan di sekitar kastil itu tampak begitu dingin dengan angin yang berhembus cukup kencang membuat bulu kuduk para prajurit itu berdiri. Rai pun tampak mencabut pedangnya dan memposisikan dirinya dalam keadaan siap bertempur.</p>
<p>Di halaman depan kastil itu pun tiba-tiba muncul sebuah lingkaran sihir berwarna hitam, selang beberapa detik setelah kemunculan portal sihir itu. Terdengar derak kaki yang di seret dan suara besi yang di seret menyentuh tanah, bersamaan dengan itu munculah belasan iblis Jendral kegelapan yang konon bernama Khalitzburg, iblis ini memiliki wujud tulang belulang yang dibalut helm tulang. Keseluruhan badannya berwarna hitam, sebuah besi panjang yang tampak sudah berkarat tampak berada dalam genggamannya.</p>
<p>Setelah di kagetkan oleh kedatangan puluhan Khalitzburg, Rai&nbsp; dan pasukannya semakin terkejut dengan kemunculan sesosok ksatria berkuda hitam yang muncul dari portal yang sama dari kemunculan para Khalitzburg itu. Wujudnya begitu besar, 4 kali lebih besar dari seorang knight biasa. Ksatria ini memakai baju besi berwarna gelap dan membawa pedang panjang yang juga luar biasa besar, kuda yang dinaikinya pun berwarna hitam dan menggunakan pelindung dari besi yang berwarna hitam pula.</p>
<p>“Pasukan ku, tenang dan jangan panic. Percayalah bahwa Tuhan pasti membimbing kita untuk mengalahkan para iblis ini.” Ucap Rai yang tampak mengeluarkan keringat dingin setelah melihat puluhan Khalitzburg yang dipimpin oleh seorang Abyssmal Knight menghadangnya.</p>
<p>“Selamat datang di Glast Heim, defender muda! Aku sang Abyssmal Knight tidak akan membiarkan kalian mengganunggu kebangkitan dari pangeran Kegelapan!” ucap ksatria hitam itu dengan suara yang begitu menggelegar.</p>
<p>“Cobalah halangi kami, teman2 bersiaplah!!” Teriak Rai dengan menghapuskan ketakutan pada dirinya dan pasukannya.</p>
<p>“PRAJURIT! SERANG!” ucap Abyssmal Knight yang seketika membuat para Khalitzburg yang ada di depannya bergerak menyerang pasukan Rai.</p>
<p>“Jendral Yugo, sejauh ini yang saya rasakan hanya hawa kegelapan yang semakin besar saja. Dan saya yakin bahwa jalan yang kita lewati ini memang jalan yang telah di tunjukkan oleh pasukan Jendral Radman.” Ucap Wilfred kepada Yugo yang berada di depan barisan prajurit knight.</p>
<p>“Tapi aku merasa aneh, selama kita melakukan perjalanan 2 hari ini. Kita hanya beristirahat sekali namun kita belum melihat adanya Glast Heim di seberang sana.” Ucap Yugo yang nampak mengkhawatirkan pasukannya yg mulai kelelahan.</p>
<p>“atau mungkin kita istirahat dulu untuk malam ini?” Ucap Albern yang sedari tadi juga memperhatikan kondisi&nbsp; pasukan mereka yg cukup kelelahan.</p>
<p>“Mungkin memang lebih baik kita beristirahat dulu semalam disini. Baru besok pagi kita lanjutkan perjalanan.” Ucap Dillwyn menanggapi ucapan Albern.</p>
<p>“baiklah, PARA PRAJURIT! Kita berhenti dulu disni, pasang tenda. Besok kita lanjutkan perjalanan!” Perintah Yugo kepada pasukannya, yang setelah mendengar ucapan dari jendralnya itu, seketika ratusan prajurit itu dengan cepat membagi tugas masing dan berpencar untuk memasang tenda dan menyiapkan alat dan bahan untuk memasak.</p>
<p>Kegelapan menyelimuti ruangan itu, jarak pandang pun hanya beberapa meter saja. Di ruangan itu hanya ada Yugo yang tampak bingung dengan kondisi di sekitarnya yang tidak pernah ia ketahui. Beberapa menit setelah Yugo tampak berdiri tanpa ada gerakan untuk menjelajahi tempat itu, tiba-tiba cahaya mulai menerangi ruangan yang di pancarkan dari obor-obor yang menempel di dinding ruangan.</p>
<p>Dengan penerangan sederhana, Yugo dapat melihat kondisi di sekitarnya. Bangunan yang cukup tua dengan dinding-dinding retak menghiasi ruangan. Sambil menyesuaikan matanya pada keadaan di sekitar yang tiba-tiba menjadi terang, Yugo merasa di perhatikan oleh seseorang. Setelah matanya dapat beradaptasi dengan kondisi sekitar, akhirnya ia sadar bahwa di hadapannya terdapat 2 buah singgasana berwarna merah lusuh, dan di singgasana itu nampak duduk seseorang yang sangat ia kenal. Orang itu menggunakan baju besi seperti knight, namun baju besinya berbeda dan tampak lebih berwibawa dan memiliki ukiran yg berbeda. Menurut yang Yugo tahu, baju itu adalah baju besi kuno yang di pakai oleh para Lord Knight terdahulu.</p>
<p>Matanya yang sudah terbiasa dalam penerangan yang temaram itu pun akhirnya dapat melihat wajah dari knight yang sedang duduk di hadapannya itu. Seluruh tubuh Yugo bergetar dan terkejut sekaligus ketakutan setelah melihat siapakah yang ada di hadapannya. Beberapa detik berlalu tanpa ada satu suara pun yang terdengar, di hadapan Yugo tampak dirinya sendiri. Yugo yakin ia tidak sedang memandang cermin, karena sosok di hadapannya itu sedang duduk dengan bersandar pada lengan kanannya sedangkan ia sendiri sedang berdiri.</p>
<p>“kau…? Aku…?? i..i..ini dimana?” ucap Yugo yang masih dibingungkan oleh keadaan di sekitarnya.</p>
<p>Lord Knight itu seperti tidak melihat Yugo yg sedang berdiri di hadapannya, pandangannya masih tetap kosong dan menerawang jauh ke depan. Ia hanya sesekali memainkan kalung yang sedang ia pakai, kalung itu memiliki Kristal yang cukup indah, berkilauan dengan warna biru langit.</p>
<p>“Hei! Kau! Ini dimana?!” Ucap Yugo dengan nada yang sedikit tinggi, namun tetap saja Lord Knight itu tidak mendengar apapun yang Yugo ucapkan. Beberapa detik setelah itu, terdengar langkah kaki dari arah belakang Yugo. Keadaan ruangan yang sunyi membuat langkah itu terdengar keras dan berat. Seketika itu, Yugo mengalihkan pandangan dari Lord Knight itu menuju suara langkah kaki yang ada di belakangnya. Lagi-lagi ia begitu terkejut dengan apa yang ia lihat dengan mata kepalanya sendiri.</p>
<p>“Dillwyn?!” ucap Yugo lirih.</p>
<p>Keadaan masih sunyi beberapa menit kemudian, barulah setelah Dillwyn berada di depan singgasana ia berlutut dan mengucapkan sesuatu.</p>
<p>“Pangeran Kegelapan, apa lagi yang kita tunggu. Aku dengar bahwa ada beberapa petualang yang ingin menjatuhkan kekuasaan mu.” Ucap Dillwyn yang saat ini suaranya lebih berat dari biasanya dan terdengar begitu tenang namun menusuk telinga.</p>
<p>“Tenanglah, mereka takkan mampu mengalahkan aku. Aku hanya sedang mengumpulkan energy untuk membangkitkan sang Satan. Jadi biarkanlah mereka, anak muda memang penuh dengan gejolak. Seperti kita dulu…” Ucap Lord Knight itu.</p>
<p>Tiba-tiba waktu seperti berhenti dan keadaan menjadi terang dan semakin terang. Dan ketika cahaya semakin menyilaukan mata, Yugo tampak terbangun dari mimpinya. Ia saat ini terbangun di dalam tenda putih, dengan keringat yang berucucuran dari tubuhnya. Baju besinya tampak berada di atas meja dengan berantakan.</p>
<p>“apa itu tadi?! Aku? Dillwyn?” Ucap Yugo dengan gemetar.</p>
<p>Setelah ia terjaga dari tidurnya, ia segera keluar tenda dengan gelisah. Ia pun kemudian mencuci mukanya di sungai sebelah selatan tak jauh dari tenda tempat ia bermalam. Pagi itu ia lewati dengan keadaan khawatir akan mimpinya tadi.</p>
<p>“Yugo, Dillwyn! Sebaiknya kita segera berangkat siang ini, aku ragu jika kita menunda lagi kita tidak akan bisa sampai tepat waktu.” Ucap Albern yang sudah siap dengan pakaian besinya dan sedang sarapan dengan semangkuk sup jagung.</p>
<p>“Baiklah, setelah kita selesai sarapan. Kita bereskan ini semua lalu lanjutkan perjalanan.” Ucap Yugo yang saat ini pun sedang menikmati semangkuk sup jagung.</p>
<p>Setelah menikmati sarapan dan membereskan tenda sekaligus mematikan api, mereka melanjutkan perjalanan menuju Glast Heim. Rombongan Kngiht itu pun nampak sudah segar kembali, dan tampak beberapa dari mereka sudah mampu bersantai dengan bersenandung pelan dan ada pula yang bersiul ditemani hembusan angin hutan yang sepoi-sepoi.</p>
<p>Selama beberapa jam mereka mengikuti jalur yang dibuat oleh pasukan divisi keempat, akhirnya di sore hari mereka sudah dapat melihat Glast Heim dari kejauhan. Dan mereka pun memutuskan untuk bermalam kembali di daerah dekat Glast Heim, sekaligus menyusun strategi penyerangan untuk esok hari.</p>
<p>Setelah tenda didirikan dan keadaan pun sudah tampak malam, para pasukan itu nampak sudah beristirahat dan menyimpan tenaga untuk besok. Namun di tenda para jendral nampak cahaya masih bersinar, didalam terlihat 5 orang sedang berdikusi tentang strategi penyerangan yang akan dilakukan besok pagi.</p>
<p>“Tuan Yugo, sampai saat ini saya belum merasakan juga dimana hawa keberadaan pasukan divisi keempat. Apa kita tetap akan menyerang besok pagi tanpa mengetahui keadaan disana?” Ucap Wilfred</p>
<p>“sudah tidak ada waktu lagi, lagipula aku yakin mereka sudah berada di dalam Glast Heim dan menunggu bantuan dari kita.” Ucap Yugo dengan kaku.</p>
<p>“aku pun merasa bahwa sebelum pasukan kegelapan itu bertambah kuat saat kebangkitan sang Raja Kegelapan, sebaiknya kita serang segera.” Ucap Dillwyn dengan tenang.</p>
<p>“baiklah, tanpa banyak berdebat. Intinya besok pagi kita serang Glast Heim, dan menurut berita bahwa pusat dari sang Raja itu ada di kastil utama. Jadi besok aku dan Wilfred sekaligus Renault akan membukakan jalan untuk Yugo dan Dillwyn agat kalian berdua dapat masuk ke dalam kastil lalu menghancurkan pusatnya.” Ucap Albern yang menyimpulkan strategi yang di rencanakan.</p>
<p>“baiklah, dan tambahan untuk Albern. Aku ingin kau mencari Jendral baru itu, semoga dia cukup kuat untuk bertahan disana. Baiklah sekarang sebaiknya kita beristirahat agar besok kita memiliki tenaga untuk penyerangan ini.” Ucap Yugo mengakhiri rapat mereka malam itu.</p>
<p>Setelah rapat selesai, para jendral dan dua orang Wizard itu kembali ke tenda masing-masing untuk beristirahat dan melewati malam dengan tenang.</p>
<p>Pagi hari, mereka hanya membereskan tenda dan merapikan beberapa perlengkapan mereka. Kali ini mereka semua nampak tenang dan tegang. 2 jam berlalu untuk membereskan tenda dan sarapan, mereka pun segera melanjutkan perjalanan mereka menuju GLast Heim, hanya beberapa jam saja mereka sudah tiba di samping gerbang besar Glast Heim yang nampak sepi dan seperti tidak ada siapapun.</p>
<p>Tanpa ada perasaan curiga, Yugo dan para pasukan memasuki Glast Heim dengan siaga. Di dalam, Glast Heim tampak sepi dan tidak berpenghuni. Namun, beberapa menit setelah para prajurit itu memasuki Glast Heim, terdengar gemerincing baju besi yang saling beradu. Tak hanya satu atau dua yang terdengar, gemerincing ini terdengar begitu ramai dank eras. Beberapa menit setelah itu, nampak ratusan Raydric muncul dari balik bangunan bagian depan Glast Heim. Barisan Raydric itu menghadang jalan dan tampak di bagian belakang terlihat monster yang begitu besar dengan pedang bergerigi seperti gergaji berada di tangan kanannya. Di tangan kirinya terdapat perisai berwajah mengerikan yang begitu besar, sebesar badannya. Monster ini dikenal dengan nama Bloody Knight, barisan Raydric yang ada di depan Bloody Knight itu merupakan iblis baju besi yang hidup tanpa ada yg memakainya. Raydric merupakan iblis yang terlahir dari arwah gentayangan para prajurit kerajaan Glast Heim yang mati karena kutukan dewa Chaos dan arwahnya hidup dalam bentuk baju besi.</p>
<p>“PASUKAN KU! TIDAK ADA TEMPAT LAGI UNTUK MUNDUR,SEKARANG ADALAH WAKTU DIMANA KITA BERTEMPUR DEMI KEDAMAIAN RUNE MIDGARD! SERANGGGGG!!!” Teriak yugo pada pasukannya yang diikuti dengan teriakan pemberi semangat. Segera setelah teriakan itu dikumandangkan, Yugo dan para jendral diikuti oleh para prajurit di belakangnya berlari menembus dinding pertahanan yang dibuat oleh para Raydric itu. Keadaan pasukan pun menjadi terpecah dan sedikit tertekan oleh serangan yang dilakukan oleh para Raydric, beberapa tampak kewalahan karena mereka seperti memukul baju besi yang tidak ada orangnya.</p>
<p>“PASUKAN,HANCURKAN BAJU BESINYA DAN TUSUK DIBAGIAN TENGAHNYA!” Teriak Albern memberikan komando kepada prajuritnya.</p>
<p>“Dillwyn, ayo kita terobos! Barisan pasukan ini, kita kalahkan Bloody Knight itu dan segera menuju kastil utama!” ucap Yugo yang sedang menangkis serangan dari dua Raydric sekaligus kepada Dillwyn di sampingnya.</p>
<p>Tanpa mengucapkan satu kata pun, mereka berdua menerobos paksa barisan Raydric yang ada di hadapannya. Namun mencapai bagian tengah barisan Raydric itu, mereka terkepung dan sulit untuk menerobos lagi dan terlihat mereka terdesak.</p>
<p>“Strom Gust!!” teriak Wilfred yang diikuti dengan munculnya badai salju di sekeliling Yugo dan Dillwyn yang membuat para Raydric itu mundur terkena hempasan sihir es itu.</p>
<p>“Jendral Yugo, aku akan membukakan jalan unuk anda dan juga jendral Dillwyn agar bisa segera menuju kastil utama.” Ucap Wilfred yang sedang merapal mantera lanjutan setelah Storm Gust.</p>
<p>“Lord Of Vermillion!!” Teriak Wilfred yang kemudian muncul petir yang luar biasa besar menghantam para Raydric yang telah membeku karena Storm Gust tadi.</p>
<p>Dengan mudah Yugo dan Dillwyn menerobos barisan Raydric yang telah hancur itu menuju Bloody Knight yang sedari tadi hanya memperhatikan dari kejauhan.</p>
<p>Segera setelah mendekati Bloody Knight itu, Yugo melompat dan menebas bagian tubuh dari Bloody Knight itu. Diikuti Dillwyn yang menyerang Bloody Knight dari bawah,beberapa jurus dilancarkan oleh Dillwyn untuk menghantam Bloody Knight itu. Namun tampaknya Bloody Knight itu tidak merasakan apapun,dan masih diam tanpa menyerang sedikitpun.</p>
<p><i>‘jendral Yugo dan jendral Dillwyn, serahkan Bloody Knight itu padaku. Jendral segera menuju kastil utama saja.’ </i>Terdengar suara Renault yang dikirimkan melalui pikiran.</p>
<p>“Baiklah,berhati-hatilah Renault! Ayo Dillwyn!” ucap Yugo yang kemudian meninggalkan Bloody Knight yang berdiri bagai patung itu.</p>
<p>Dalam beberapa menit saja, Yugo dan Dillwyn tampak sudah berada di depan pintu masuk kastil utama. Saat mereka berada di dalam ruangan, tampak seorang Wanderer menghadang mereka dengan tenang. Kepalanya yang berbentuk tengkorak menyeringai seperti ingin membunuh.</p>
<p>“Two-hand Quicken!!” Teriak Yugo yang terlihat kelincahan gerakannya menjadi brtambah setelah menggunakan jurus itu.</p>
<p>Dengan tenang, Wanderer itu mendekat dan tiba-tiba menghilang dari pandangan Yugo dan Dillwyn. Tanpa disadari, Wanderer itu sudah berada di belakang mereka berdua dan menebas punggung Dillwyn namun hanya mengenai lengan kirinya yang mengakibatkan lengannya tidak dapat digerakkan dengan cepat, seketika mereka berdua kembali siaga.</p>
<p>Dengan cepat Yugo mengambil kesempatan saat Wanderer itu t0idak siap untuk menyerang. Tampak Wanderer itu hendak menghindar, namun tak ada waktu. Dan pedang Excalibur itu hanya seperti menebas angin, Wanderer itu terlihat tersenyum kecil dan mulai bergerak untuk menyerang lagi. Dengan cara yang sama, sang Wanderer menghilang dari pandangan Yugo dan Dillwyn. Kali ini Yug dan Dillwyn tampak saling membelakangi untuk mencegah serangan dali belakang seperti sebelumnya. Namun ternyata Wanderer itu melompat dan melancarkan tebasan ke arah Yugo. Dalam kondisi tidak siap, tebasan itu menghantam tubuh Yugo. Tapi Yugo tampak baik-baik saja dan tiak terlihat terluka sedikit pun.</p>
<p>“Sacrifice!!” teriak seseorang yang tak tampak dari mana arahnya.</p>
<p>Dari balik pilar di sebelah kanan ruangan, muncul seorang Defender yang sudah dalam kondisi luka parah dan baju besi yang rusak. Tubuhnya lusuh,dan seperti sudah tidak kuat untuk berdiri lagi.</p>
<p>“Dillwyn, selamatkan Defender itu! Biar aku atasi iblis satu ini!” Perintah Yugo yang diikuti dengan seranan frontal menuju Wanderer yang sedang lengah</p>
<p>Yugo hanya mampu menahan dn menangkis tiap serangan dari Wanderer, karena tiap serangan yang dilancarkan oleh Yugo selalu tidak dapat melukai Wanderer itu.</p>
<p>“Kau tidak apa-apa? Kau dari divisi keempat ya? Dimana yang lain? Minumlah White Potion ini untuk menutup beberapan luka dan memulihkan sedikit energy.</p>
<p>Defender itu segera meminum White potion yang diberian oleh Dillwyn,dan setelah efek dari potion itu terlihat, barulah ia berbicara dan menjelaskan keadaan yang terjadi.</p>
<p>“Ak…u, Rai Lightbringer Jendral baru….yang diangkat oleh Jendral Radman untuk memimpin…pasukan…divisi keempat.” Ucap Rai yang masih menahan beberapa lukanya.</p>
<p>“aku Dillwyn Jendral divisi kedua, itu Yugo Jendral divisi pertama. Lalu dimana mantan Jendral Radman dan pasukanmu?” Ucap Dillwyn yang tampak tergesa-gesa ingin membantu Yugo karena terlihat Yugo terdesak dengan serangan yang di berikan oleh Wanderer itu.</p>
<p>“Nanti aku ceritakan, kita kalahkan dulu Wanderer itu. Yang bisa mengalahkannya hanya kekuatan Holy, jadi alihkan perhatiannya dan aku akan menyerangnya.” Ucap Rai yang staminanya tampak sedikit pulih walau masih terlihat ia menahan luka dibeberapa bagian tubuhnya.</p>
<p>Tanpa aba-aba, Dillwyn melesat menyerang Wanderer itu dan membantu Yugo mendesak sang Wanderer dengan serangan frontal. Walau serangannya selalu meleset, namun mereka berhasil mendesak sang wanderer dan tanpa sadar Wanderer itu sudah berada di depan Rai yang sedari tadi sudah bersiap-siap dengan pedangnya. Ketika Dillwyn berhasil menjatuhkan muramasa milik sang Wanderer dan membuat ia lengah sesaat, Rai menyerang tubuh Wanderer itu dengan kekuatan holy.</p>
<p>“HOLY CROSS!!” Teriak Rai dari belakang sang Wanderer.</p>
<p>Dengan kekuatan suci yang disalurkan pada pedang miliknya, ia membuat goresan salib di punggung sang wanderer yang membuat wanderer itu terluka cukup parah.</p>
<p>“Kurang ajar! Sebaiknya aku segera menaruh kalung ini di tempat yang raja perintahkan.” Ucap wanderer itu. Dalam kondisi terluka, ia berlari pergi dari ruangan itu dan menuju ruangan lain.</p>
<p>Setelah sang Wanderer pergi, Yugo dan Dillwyn mengobati Rai sebisa mungkin sambil mendengarkan seluruh cerita yang Rai alami, mulai dari penyerangan sang Wanderer terhadap Jendral Radman. Kalung Cassiopeia yang merupakan kunci pembuka segel kegelapan.</p>
<p>“…Ketika aku dan pasukan ku dihadang oleh Abyssmal Knight itu, seluruh pasukan ku berhasil mengalahkan seluruh Khalitzburg. Namun Abyssmal Knight itu berhasil membunuh seluruh pasukanku, dan aku harus menggunakan Grand Cross untuk membunuh Abyssmal Knight itu. Dan itu pula yang membuat luka ku semakin parah. Aku mendengar dari perkataan Abyssmal Knight itu bahwa ada orang yang saat ini sedang mempersiapkan kebangkitan Raja Kegelapan di kastil utama.” Tegas Rai yang saat ini sedang beristirahat dan memulihkan tenaga dengan menggunakan White Potion.</p>
<p>“Hmm, jadi begitu. Baiklah Dillwyn, kau kejar Wanderer tadi dan rebut kalung Cassiopeia sebelum ia berhasil menggunakannya. Aku akan menghentikan orang itu sebelum persiapannya selesai. Dan untuk kau Jendral Rai, sebaiknya anda keluar dan menemui prajurit ku. Bilang pada mereka untuk mengantarkan anda pada Jendral Albern, beliau akan mengobati anda.” Perintah Yugo.</p>
<p>“Baiklah Jendral Yugo, Semoga berhasil untuk kalian berdua.” Mengakhiri kalimat itu, mereka bertiga berpencar ke arah masing-masing.</p>
<p>Yugo terlihat memasuki ruangan kastil utama dan segera menuju ruangan paling atas yang merupakan ruangan sang Raja. Keadaan tampak sunyi tanpa ada siapapun disana, Yugo pun merasa bahwa ruangan itu seperti pernah ia datangi sebelumnya. Kemudian pun ia tersadar bahwa ruangan itu adalah ruangan yang ia lihat dalam mimpinya, namun ruangan ini tampak lebih berantakan dibandingkan yang ada di mimpinya.</p>
<p>Di depannya terdapat singgasana kosong yang di sampingnya terdapat sesosok pria berjubah hitam dengan sebuah mahkota yang ada ditangannya. Mahkota itu tampak kusam namun permatanya masih berkilauan di tengah kegelapan ruangan.</p>
<p>“selamat datang, tuan Yugo. Silahkan duduk terlebih dahulu karena ada yang ingin berbicara dengan anda.” Ucap pria berjubah itu.</p>
<p>“jangan main-main! Hentikan sekarang juga ritual ini! Atau akan aku hentikan dengan paksa!” bantah Yugo dengan keras.</p>
<p>Tiba-tiba angin dingin berhembus dengan kencang di ruangan itu dan di depan singgasana kosong itu tampak muncul sebuah portal sihir berwarna hitam. Beberapa detik kemudian dari dalam portal itu muncul sesosok yang cukup besar menggunakan jubah hitam panjang. Kepalanya berbentuk tengkorak dengan sebuah tongkat sihir ada di samping kanannya melayang-layang menggunakan sihir.</p>
<p>“selamat datang Dark Lord, ini adalah calon penerus sang Raja Kegelapan.” Ucap pria berjubah hitam sambil menunjuk Yugo.</p>
<p>“Apa maksud pembicaraan kalian?” ucap Yugo dengan kebingungan.</p>
<p>“baiklah kalau begitu, saya akan segera memulai ritual pembangkitan ini.” Ucap sang pria berjubah kepada Dark Lord yang sedari tadi sedang merapalkan mantera sihir.</p>
<p>Dalam keadaan bingung, Yugo melesat menuju sang Dark Lord yang sedang merapal mantera. Dengan cekatan ia melompat begitu tinggi dan menebaskan pedangnya dari atas.</p>
<p>Ketika pedang Excaliburnya menyentuh kepala tengkorak Dark Lord, waktu seakan berhenti dan kegelapan yang begitu pekat terpancar dari tubuh sang Dark Lord. Cahaya itu seketika menembus atas kastil dan membuat sebuah garis hitam yang menuju langit gelap dengan petir yang menyambar.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayasakarantaro.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayasakarantaro.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayasakarantaro.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayasakarantaro.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hayasakarantaro.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hayasakarantaro.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hayasakarantaro.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hayasakarantaro.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayasakarantaro.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayasakarantaro.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayasakarantaro.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayasakarantaro.wordpress.com/21/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayasakarantaro.wordpress.com/21/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayasakarantaro.wordpress.com/21/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=21&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/24/part-vi-ragnarok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0904ad1b67d382de9265b6c955eec43?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hayasakarantaro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Part VII Ragnarok</title>
		<link>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/23/part-vii-ragnarok/</link>
		<comments>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/23/part-vii-ragnarok/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 23 Dec 2009 03:04:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hayasakarantaro</dc:creator>
				<category><![CDATA[My Own Novel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://hayasakarantaro.wordpress.com/2010/01/14/part-vii-ragnarok/</guid>
		<description><![CDATA[Part VII Faith Hari ini kota Prontera tampak berjalan seperti biasa dengan keramaian yang selalu ada dan tak pernah mati rasanya. Jauh di sebelah timur laut kota Prontera, di gereja utama kota ini, nampak sedikit ramai di banding hari biasanya. Hari ini adalah hari pembaptisan para Acolyte yang sudah layak untuk menjadi Priest, orang yang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=23&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Part VII Faith</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Hari ini kota Prontera tampak berjalan seperti biasa dengan keramaian yang selalu ada dan tak pernah mati rasanya. Jauh di sebelah timur laut kota Prontera, di gereja utama kota ini, nampak sedikit ramai di banding hari biasanya. Hari ini adalah hari pembaptisan para Acolyte yang sudah layak untuk menjadi Priest, orang yang memiliki tingkat kepercayaan yang begitu tinggi pada Tuhan.</p>
<p>Di dalam gereja nampak 5 orang acolyte yang sedang menghadap Bapa Pendeta Utama gereja Prontera, 4 orangnya terlihat acolyte yang begitu patuh dan sopan dengan bible yang ada di tangan masing-masing dan begitu antusias dengan ceramah dari sang Pendeta. Namun, 1 orang acolyte lagi duduk di kursi paling belakang dengan wajah yang malas dan sebuah Mace berada disampingnya, wajahnya tak peduli dengan semua hal yang dibicarakan oleh Pendeta utama. Rambut coklatnya terurai dengan poni samping yang hampir menutup mata kirinya.</p>
<p>“…selama kita percaya pada Tuhan, maka tidak akan pernah ada iblis yang dapat mempengaruhi kita. Nah, anak-anak ku sekarang majulah satu persatu dan akan aku mengangkat kalian menjadi Priest.” Ucap sang bapa Pendeta.</p>
<p>Satu persatu dari acolyte itu maju dengan tertib dan secara resmi menjadi seorang Priest. Pada giliran acolyte berambut coklat itu, dia maju kedepan dengan acuh dan melaksanakan ritual ini hanya seperti menjalani pemeriksaan kesehatan.</p>
<p>“Dengan ini, sekarang kau adalah Priest anakku. Dan nama mu adalah Andrew Severus Murdock.” Ucap sang pendeta kepada acolyte itu.</p>
<p>“apakah dengan aku menjadi seorang Priest, aku dapat membunuh para iblis yang telah membuat kita hidup sengsara ini?” tany Andrew dengan tiba-tiba.</p>
<p>“anakku, kita diberi kekuatan suci bukan untuk mengalahkan, tapi untuk melindungi dan menjaga. Jadi jangan pernah menggunakan kekuatan mu untuk hal yang tidak berguna dan merugikan orang lain.” Ucap sang pendeta yang nampak terkejut dengan pertanyaan dari Andrew.</p>
<p>Tanpa bertanya lagi Andrew menerima pakaian dan bible yang diberikan oleh sang pendeta sebagai tanda bahwa dirinya telah menjadi Priest. Dia pun memakai pakaiannya dan bergegas keluar dari gereja tanpa memedulikan teman-temannya yang lain.</p>
<p>Di luar gereja, ia segera menuju bagian belakang gereja menuju tempat pemakaman umum yang ada di sana. Keadaan begitu sepi dan tidak ada satu orang pun yang berada disana, tanpa pikir panjang Andrew langsung meuju bagian paling belakang dari pemakaman itu. Ia pun lalu duduk disamping sebuah batu nisan yang bertuliskan Albern Murdock.</p>
<p>“ayah, seperti keinginan ibu aku telah menjadi seorang Priest. Aku hanya ingin agar Tuhan mau memasukkan ayah pada surge milik-NYA.” Ucap Andrew yang tampak tegar. Dia pun diam sejenak untuk menenangkan pikirannya.</p>
<p>“semenjak kematian ayah 20 tahun yang lalu, ibu pergi entah kemana. Berita yang aku dengar bahwa ia dibawa oleh para iblis itu, tapi aku tak pernah tahu apa yang mereka inginkan dari ibu.” Ucap Andrew yang saat ini sedang mengelap batu nisan milik ayahnya.</p>
<p>Setelah cukup lama duduk disamping batu nisan itu sambil membersihkannya dari rumput-rumput liar. Andrew melangkahkan kakinya menuju tengah kota, wajahnya tampak murung dan tegas namun sorotan mata tajamnya terpancar begitu tulus bagai bayi yang baru saja dilahirkan. Pakaian Priest dan bible yang ada di tangan kanannya menunjukkan betapa suci dirinya setelah diangkat menjadi seorang Priest.</p>
<p>Di suatu hutan yang ada di selatan kota Payon, terlihat seorang Hunter yang terlihat sedang berjalan dengan santainya. Tubuhnya terlihat cukup terlatih dan cekatan, rambutnya berwarna merah cerah sangat kontras dengan baju putih berbaur warna coklat yang menjadi ciri khas seorang Hunter. Busur yang cukup besar dengan sebuah tabung anak panah menempel di punggungnya.</p>
<p>Tiba-tiba Hunter itu menghentikan langkahnya di tanah kosong di antara pepohonan yang ada di tengah hutan.</p>
<p>“Kau, keluarlah! Aku perhatikan semenjak keluar dari Payon tadi kau selalu mengikutiku, apa maumu?” ucap Hunter itu dengan suara yang cukup lantang tanpa ada seorang pun yang terlihat disekitarnya.</p>
<p>Selang beberapa detik setelah ucapan sang Hunter, seorang Assasin melompat turun dari salah satu pohon. Wajahnya tertutup Assasin Mask sehingga tidak bisa dipastikan bagaimana wajahnya, di atas kepalanya terlihat sebuah Evil Wing terpasang.</p>
<p>“memang terbukti kemampuan mu jauh melebihi Hunter-hunter lain yang pernah menjadi targetku. Tapi dimana-mana Hunter itu semuanya sama saja! Kalian itu, LEMAH!!!” setelah mengucapkan kalimat itu, sang Assasin maju menyerang si Hunter dengan frontal.</p>
<p>Dengan cepat Hunter itu melompat ke belakang menghindari serangan dari sang Assasin, dan bersiap2 menembak dengan busurnya.</p>
<p>“sebelum kau kubunuh, sebaiknya sebutkan nama mu Assasin muda dan siapa yang mengirimmu!” Ucap sang Hunter yang sekarang tampak serius.</p>
<p>“Seorang pembunuh bayaran sepertiku tak perlu memperkenalkan siapa aku dan siapa yang menyewaku!” ujar sang Assasin yang diikuti dengan melemparkan sebuah batu ke arah sang Hunter “Throw Stone!”</p>
<p>Batu kecil itu dengan mudah dihindari oleh sang Hunter hanya dengan melompat kesamping, namun Assasin yang ada di depannya sudah menghilang dan keadaan tampak sepi kembali. Tampak curiga dengan keadaan di sekitarnya, sang Hunter bersiul memanggil Elang miliknya. Ketika elang itu ada datang, ia pun segera memerintahkan elang tersebut untuk melacak keberadaan Assasin itu.</p>
<p>“Detect!!” teriak sang Hunter, namun elang itu tidak menemukan tanda-tanda keberadaan sang Assasin. Tiba2 dari belakang sang Assasin menyerang dengan kecepatan katarnya, dan Hunter itu pun terluka cukup parah yang mengakibatkan dia tidak bisa bergerak dengan cepat.</p>
<p>“sebelum aku membunuhmu, beritahu namamu! Aku hanya diperintah tanpa diberitahu namamu, tapi karena kemampuanmu yang cukup mengagumkan, aku jadi ingin tahu siapa namamu.” Ujar sang Assasin yang berjalan mendekati sang Hunter dengan perlahan.</p>
<p>“kau ingin tahu namaku?” Tanya sang Hunter yang berusaha berdiri dengan luka di punggungnya.</p>
<p>“Arrow Shower!!” teriak sang Hunter yang melepaskan ratusan panah api ke langit.</p>
<p>Tak berapa lama, ratusan anak panah api menghujani Assasin itu yang membuatnya menghindari ratusan anak panah itu dengan susah payah. Tapi dengan kecepatan yang luar biasa, tak satupun anak panah mengenainya.</p>
<p>Barisan api yang ditimbulkan oleh anak panah itu membuat suasanya menjadi panas, dengan gerakan cepat sang Assasin melompat keatas dan berusaha menyerang dari atas. Saat ia melompat, ia melihat keadaan tanah dibawahnya yang penuh dengan anak panah dari sang Hunter. Anak-anak panah itu membentuk sebuah tulisan ‘Recca’.</p>
<p>“Double Strafe!!” teriak sang Hunter diiringi dengan 2 anak panah sekaligus melesat kearah sang Assasin yang sedang lengah.</p>
<p>Dua anak panah sekaligus menancap di dada sang Assasin, yang membuatnya tersentak dan terjatuh. Dengan menahan luka yang ada di punggungnya, sang Hunter mendekati Assasin itu.</p>
<p>“Aku Recca Syena takkan pernah membunuh orang-orang seperti kau, karena kalian hanya ditugaskan untuk membunuhku. Nah sekarang, siapa yang menyewa jasa mu ini?” ucap Recca yang sedikit menahan nyeri dari luka di punggungnya.</p>
<p>“luar biasa, aku kalah….di tangan buruan….ku sen….diri….” belum sempat ia berkata lebih banyak, assassin itu menusukkan sebuah pisau kecil berlumuran racun ke tubuhnya sendiri.</p>
<p>“cih, setiap hari makin banyak saja orang yang memburu ku tanpa alas an yang jelas.” Ucap Recca yang saat ini sedang menyembuhkan luka di punggungnya dengan susah payah.</p>
<p>“nah, sudah mendingan. Sebaiknya aku segera ke Prontera, sebelum hari menjadi gelap.” Ujar Recca yang kali ini melanjutkan perjalanan dengan diiringi elang peliharaannya yang terbang mondar mandir di atas.</p>
<p>Suasana malam kota Prontera memang terasa nyaman dan menyenangkan, dari kesunyian di beberapa sudut kota tampak 1 tempat yang semakin ramai di malam yang semakin beranjak ini. Bar kota Prontera, dari waktu ke waktu tak pernah sepi dari pengunjung. Entah para petualang yang sekedar mampir di kota Prontera untuk bermalam, atau mencari pekerjaan, dan dari warga Prontera sendiri pun tak enggan untuk bersenang-senang bersama setelah disibukkan oleh kepenatan seharian ini.</p>
<p>Di depan Bar tampak Andrew yang sedang memegang sebuah gelas terisi penuh dengan bir, kejanggalan ini terlihat begitu mencolok karena jarang sekali ada seorang Priest berada dalam bar. Tapi hal-hal seperti ini tak pernah menjadi masalah bagi orang-orang yang sedang berpesta malam ini.</p>
<p>“Wah, jarang sekali bahkan hampir tidak pernah ada Priest yang datang ke Bar ini,haha!” Ucap sang bartender yang sedang berada di balik meja bar menyiapkan minuman bagi para pelanggannya.</p>
<p>“Kadang seorang manusia juga harus menikmati kehidupannya dan jangan dihabiskan hanya untuk berdoa.” Ucap Andrew dengan wajah tenang sambil menenggak minumannya.</p>
<p>“haha,aku suka semangat anak muda jaman sekarang! Ini aku traktir kau satu gelas lagi!” tawa sang bartender sambil memberikan segelas bir berukuran besar kepada Andrew yang menerimanya dengan tenang.</p>
<p>Tiba-tiba pintu bar terbuka dan seorang Hunter terlihat memasuki ruangan bar dengan keadaan yg cukup buruk jika dilihat dari pakaiannya, namun dia tampak masih segar dan tenang walau di punggungnya nampak balutan kain yg sudah menghitam karena darah yg mengering. Tanpa banyak bicara, ia segera duduk di samping sang Priest di depan meja bar.</p>
<p>“masih adakah kamar kosong untuk ku bermalam disini?” Tanya Recca yang nampak kelelahan.</p>
<p>“owh,untunglah aku masih menyisakan 1 kamar kosong. Ini kuncinya, beristirahatlah anak muda. Nampaknya kau terluka cukup parah, kau yakin kau tidak apa2?” Tanya bartender dengan cemas, keriput diwajahnya yg sudah tua makin terlihat saat seperti ini. Rambut putihnya terlihat begitu terang dibawah sinar lampu bar</p>
<p>“tidak apa2 pak, ini hanya luka ringan. Maklum, semenjak si Raja kegelapan itu makin kuat hewan-hewan di hutan jadi semakin ganas haha.” Ucap Recca yang tampak ceria namun kelelahan dan pucat karena darahnya yg terkuras.</p>
<p>“hmm tuan Hunter, nampaknya dari yang kulihat kau kehilangan darah yg cukup banyak dan luka di punggung mu itu sepertinya ada yg aneh.” Ucap Andrew yg sedari tadi nampak heran dengan kondisi Hunter disampingnya ini.</p>
<p>“owh, memangnya apa yg aneh dengan luka ini?” Tanya Recca yg mengalihkan pandangannya dari bartender tadi kearah Priest disampingya.</p>
<p>“oh iya, maaf sudah lancang,perkenalkan aku Andrew Murdock. Aku lihat darah di punggung mu itu terlihat aneh dari darah biasanya. Boleh kulihat luka mu sebentar?” Tanya Andrew yang nampak penasaran dengan luka sang Hunter.</p>
<p>“aku Recca Syena, boleh saja. Lagi pula aku tidak merasakan sakit yang aneh, jadi kupikir ini baik-baik saja.” Ujar Recca yang terlihat biasa saja.</p>
<p>Lalu Recca pun membuka kain yang membalut luka di punggungnya, dan dia memperlihatkan luka itu kepada Andrew. Luka itu nampak sudah diobati dengan daun Aloe dengan cara sederhana.</p>
<p>“hmm, seharusnya daun Aloe sudah mampu membuat luka ini kering. Anehnya luka ini belum kering, sepertinya yang melukai mu ini menggunakan racun. Coba aku sembuhkan terlebih dahulu. Cure!!” terang Andrew yang kemudian menggunakan ilmu penghilang racun.</p>
<p>“hmm, rasanya aku sedikit lebih tenang dan tidak terengah-engah seperti sebelumnya. Terimakasih, haha.” Ujar Recca yang tampak sedikit lebih ceria dari sebelumnya.</p>
<p>“tunggu sebentar, biar aku pulihkan luka dan stamina mu. Heal!!” lanjut Andrew yang kemudian menggunakan mantra penyembuh untuk menormalkan kembali luka di punggung Recca.</p>
<p>“wah, aku begitu berterimakasih pada mu, Andrew. Akan ku traktir kau minum malam ini!” ucap Recca yang saat ini tampak lebih cerah wajahnya dibandingkan tadi yang begitu pucat.</p>
<p>“haha,sama-sama. Tapi sepertinya aku sudah tak mampu lagi untuk minum haha, aku mau pergi dulu. Nikmati malam mu Recca!” ujar Andrew yang saat ini sudah bergegas keluar dari bar dengan senyum yang tenang.</p>
<p>“Hei Andrew! Mau kemana kau??!” teriak Recca yang tidak di dengarkan oleh Andrew.</p>
<p>“wah tak terasa sudah jam 10 malam, pantas saja dia buru-buru pergi.” Ucap bartender di belakang Recca yang sedang mengelap gelas-gelas bir.</p>
<p>“memangnya dia kemana pak?” Tanya Recca yang tampak penasaran.</p>
<p>“dia ke Gereja, berdoa semalaman penuh untuk orangtuanya yang sudah tiada.” Ucap Bartender itu dengan iba.</p>
<p>“tak kusangka masih ada orang yang begitu taat seperti dia…” ucap Recca yang tampak kaget.</p>
<p>“haha itulah manusia, kadang ia ingin bersenang-senang namun disisi lain ia masih ingat bahwa orang tuanya membutuhkan doa dari dia agar Tuhan mengampuni dosa-dosa yang telah di perbuat orang tuanya.” Ujar sang bartender.</p>
<p>“sebaiknya aku beristirahat saja, terima kasih untuk kamarnya pak ^^!” ucap Recca sembari mengangkat tasnya dan menuju lantai atas untuk beristirahat.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayasakarantaro.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayasakarantaro.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayasakarantaro.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayasakarantaro.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hayasakarantaro.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hayasakarantaro.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hayasakarantaro.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hayasakarantaro.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayasakarantaro.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayasakarantaro.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayasakarantaro.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayasakarantaro.wordpress.com/23/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayasakarantaro.wordpress.com/23/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayasakarantaro.wordpress.com/23/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=23&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/23/part-vii-ragnarok/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0904ad1b67d382de9265b6c955eec43?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hayasakarantaro</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/12/hello-world/</link>
		<comments>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/12/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 12 Dec 2009 05:43:06 +0000</pubDate>
		<dc:creator>hayasakarantaro</dc:creator>
		
		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=1&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/hayasakarantaro.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/hayasakarantaro.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/hayasakarantaro.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/hayasakarantaro.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/hayasakarantaro.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/hayasakarantaro.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/hayasakarantaro.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/hayasakarantaro.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/hayasakarantaro.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/hayasakarantaro.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/hayasakarantaro.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/hayasakarantaro.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/hayasakarantaro.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/hayasakarantaro.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=hayasakarantaro.wordpress.com&amp;blog=10920266&amp;post=1&amp;subd=hayasakarantaro&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://hayasakarantaro.wordpress.com/2009/12/12/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/b0904ad1b67d382de9265b6c955eec43?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">hayasakarantaro</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
